Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 12. Tamparan keras


__ADS_3

"Aku tidak menghapkan cinta dan balas kasihan darimu, Aku juga tidak berhak memaksakan kehendakku untuk Mas bisa mencintai diriku. Namun, aku berhak atas dirimu karena Mas adalah suamiku," jelas Almaira yang seketika membuat Alvian terperangah, kaget.


"Mas bisa bicara seperti tadi kepada Almaira, tapi Mas tidak akan pernah bisa mengubah kenyataan bahwa aku adalah istri, Mas Alvian!" tegas Almaira kembali.


Bagaikan di sambar petir di siang bolong dengan semua ucapan Almaira. Yang tadinya Alvian pikir Almaira adalah wanita pendiam dan lemah, tapi ternyata dugaannya salah. Almaira wanita yang sangat kuat dan tangguh.


"Aku bicara seperti tadi hanya ingin kamu tidak berharap lebih dari pernikahan ini," ucap Alvian yang merasa sedikit bersalah.


"Kenapa emang kalau Almaira berharap lebih dari pernikahan ini?"


"Aku tidak bisa memberikan harapan palsu kepadamu. Aku tidak bisa mencintai kamu, Almaira. Kamu bukanlah wanita tipeku," ujar Alvian tanpa rasa malu sedikitpun.


"Mas bisa melihat Almaira dari sisi manapun hanya satu yang perlu Mas ingat! Wanita yang baik adalah wanita yang senantiasa menutupi auratnya dan hanya suaminya saja yang bisa melihatnya."

__ADS_1


Semua ucapan Almaira bagaikan tamparan keras untuk Alvian. Mudah untuk menyakiti hatinya, tapi sulit untuk mengalahkan ucapan yang dilontarkan Almaira.


"Almaira tidur duluan Mas."


Alvian mengguk dengan berjalan menghampiri maja yang di atasnya terdapat susu dan biskuit yang dibawakan oleh Almaira. Mendengar semua ucapan istrinya tadi. Alvian merasa bersalah dan segera meminum susu yang diberikan Almaira sebagai penenang pikirannya.


Almaira tersenyum di balik selimut yang dikenakannya, di saat melihat Alvian mulai luluh dengan semua ucapannya tadi. Setidaknya Alvian bisa memperhatikan kesehatannya, dan tidak terus menyendiri dari semua dukanya.


Namun senyuman itu dengan sekejap pudar, begitu melihat Alvian berjalan menghampiri sofa dan membaringkan tubuhnya di sana.


Alvian melihat punggung Almaira yang bergetar seakan Alvian merasakan apa yang dirasakan oleh istrinya.


"Maafkan aku Almaira, aku belum bisa tidur satu tempat denganmu. Aku tidak mau membuat hatimu lebih sakit lagi dengan cinta yang belum bisa aku berikan kepadamu. Yang seakan, aku merasa belum pantas menjadi suamimu," ucap Alvian pelan.

__ADS_1


Dengan kehidupan Alvian yang lebih maju membuat dirinya merasa sempurna. Apalagi di zaman sekarang, para wanita itu berkelas dan elegan dengan terbawanya pergaulan, Alvian berpikir akan merasa lebih di hormati bila mempunyai wanita yang sangat pintar dan menarik. Bila dilihat dari sisi itu, Almaira tidak termasuk pilihan Alvian. Almaira sangatlah sederhana dan tertutup sehingga membuat Alvian engan untuk meliriknya. Dan itu juga yang membuat Alvian merasa tidak pantas menjadi suami dari Almaira.


***


Almaira terbangun setelah mendengar suara adzan subuh berkumandang, dengan segera Almaira menghampiri Alvian untuk membangunkan suaminya yang masih terlihat sedang tertidur di sofa dengan posisi tubuh yang tidak nyaman.


"Mas bangun sudah masuk waktu salat subuh. Kita shalat dulu yuk," ajak Almaira sambil menggoyangkan tubuh Alvian.


"Apa sih Almaira, kamu ganggu tidur Mas saja." Alvian nampak marah karena Almaira mengganggu tidur nyenyaknya.


"Sudah waktunya salat subuh, Mas."


"Kalau mau salat? Salat saja sana, jangan repot-repot bangunin Mas," ucap Alvian yang kembali meringkuk di sofa.

__ADS_1


"Astaghfirullah. Mas Apa yang kamu katakan itu salah, kita sebagai umat muslim harus saling mengingatkan apalagi Mas suami Almaira," ucap Almaira dengan nada tegas, namun lembut.


__ADS_2