Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 93. Kembali Bertemu Sintia


__ADS_3

Setelah selesai berbincang dengan kakaknya, Nisa kembali ke dalam kamarnya. Setelah sampainya ia di kamar, suaminya masih saja terdiam di Sofa sembari memangku leptop yang di duga tengah mengerjakan pekerjaan kantor.


Lantas Nisa pun masuk ke dalam kamar dan berjalan ke arah kamar mandi. Melihat itu, Fahmi merasa penasaran kepada istrinya yang baru-baru ini, ia kenal. Dari tingkahnya saja, sudah cukup membuat Fahmi penasaran. Akan tetapi, Fahmi tidak memikirkannya dan menurutnya juga tidak penting.


Tidak lama dari situ, Nisa keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang sudah basah oleh air wudhu. Untuk saat ini, Fahmi tidak bisa diam lagi, dan bertanya kepada isterinya.


"Kamu mau apa?" tanya Fahmi soraya memerhatikan Nisa, dari arah yang cukup jauh.


"Mau salat dhuha, Mas mau juga?" jawab Nisa dan memberikan pertanyaan diakhir katanya.


"Enggak, kamu saja. Mas masih mengerjakan urusan kantor," ucapanya yang tanpa sadar mengucapkan kata 'mas' disela ucapannya. Yang di mana, Fahmi telah memposisikan dirinya sebagai seorang suami.


"Baiklah," ucap Nisa yang langsung mengenakan mekenanya. Untuk saat ini, Nisa tidak menekan suaminya karena mungkin Fahmi masih mengerjakan urusan pekerjaannya.


"Tunggu!" ucap Fahmi yang menghentikan aktivitas Nisa yang akan segera melaksanakan salat sunah duhha.


Nisa pun berbalik melihat kepada suaminya. "Ada apa, Mas?" tanya Nisa dengan sedikit heran.


Dengan begitu, Fahmi pun meletakan leptopnya di atas meja dan berjalan mendekati Nisa. "Saya akan melakukan salat duhha. Kamu tunggu saja, aku mau mengambil air wudhu dulu," ucapnya sembari berjalan ke arah kamar mandi.


Nisa tersenyum, mendengar ucapan suaminya yang begitu tegas dan terlihat tidak mau kalah darinya, padahal Nisa tidak pernah memaksanya. Setelah itu, Nisa dan Fahmi melaksanakan salat duhha bersama dan tidak lupa Nisa mencium punggung tangan suaminya meskipun belum ada cinta di antara mereka berdua.


Maka dari itu, Nisa akan berusaha untuk mendatangkan cinta itu walaupun itu sangat tidak mungkin, bagi Fahmi. Sebenarnya cinta tidak perlu dikejar yang ada, cinta akan datang dengan sendirinya tanpa diminta sekali pun.

__ADS_1


Bagi Nisa pernikahan ini bukanlah sebuah permainan. Maka dari itu, Nisa akan bersikap selayaknya seorang istri dan menjalankan pernikahan ini dengan hati yang begitu lapang, mau sekeras apapun Fahmi menyengkalnya. Tetap, tidak akan merubah status saat ini.


***


Di sisi lain, Almaira dan Alvian sudah kembali ke rumahnya dan tidak terasa semua ini berjalan dengan begitu cepat. Almaira sangat bersyukur karena diberi kepercayaan oleh Allah SWT untuk menjadi seorang ibu dan mendapatkan perhatian yang sangat banyak dari suaminya. Tiada hari tanpa perhatian, makin ke sini, Alvian semakin menyayangi istrinya yang tengah mengandung anaknya. Meskipun begitu, pekerjaannya sering kala mengganggu.


Akan tetapi, Alvian masih bisa mengatur waktunya dan tetap memerhatikan istrinya. Semenjak Almaira hamil, Perusahaan Atmaja Putra semakin berkembang maju dan mendapatkan kepercayaan para klien sehingga menjalin kerjasama yang sangat diharapkan oleh kedua belah pihak.


Pada saat ini, Almaira terlihat begitu gembira karena suaminya mengajaknya untuk jalan-jalan ke taman kota. Beruntungnya, hari ini hari libur sehingga banyak orang yang berjalan-jalan.


Alvian melakukan semua itu agar membuat istrinya senang karena selama Almaira hamil, Alvian melarangnya untuk ke luar sehingga membuat Almaira bosan. Maka dari itu, Alvian mengajak istrinya jalan-jalan karena hari libur. Jadi, tidak ada pekerjaan yang mengganggunya.


"Mas, Maira ingin ke kamar mandi dulu, yah. Sebentar kok, tidak akan lama," pinta Almaira pada sang suami yang kini mereka tengah berada di sebuah mall besar.


"Tidak usah, Mas. Maira bisa sendiri, Mas tunggu saja di sini, tidak akan lama kok." Almaira tersenyum, berusaha membuat suaminya tidak hawatir.


"Baiklah. Mas tinggu di sini, tapi janji yah, jangan lama! Dan jika terjadi apa-apa, panggil Mas yah," ucap Alvian sembari mengusap kepala Almaira yang tertutup oleh jilbab berwarna abu.


Almaira mengangguk dan berjalan masuk meninggalkan suaminya. Selama diperjalanan, Almaira menanyakan toilet wanita kepada seseorang yang tengah mengurus pembelanjaan.


"Mbak, toilet wanita ada di sebelah mana yah? " tanya Almaira pada wanita yang terlihat masih muda.


"Oh, toilet wanita ada di sebelah kanan dan di sana jalan lurus saja. Nanti belok kanan, di sana toilet wanita," jelas wanita itu sembari tersenyum kepada Almaira.

__ADS_1


"Baiklah, terimakasih, Mbak atas infonya." Almaira pun langsung berjalan sesuai dengan arah jalan yang wanita tadi katakan.


Pada akhirnya, Almaira menemukan toilet wanita. Beberapa menit kemudian, Almaira ke luar dari dalam kamar mandi dan menatap cermin untuk merapihkan hijabnya yang sedikit berantakan.


"Secantik apapun wajahmu, tetap yang akan memiliki Alvian adalah aku!" Terdengar suara perempuan yang Almaira kenali, lantas Almaira pun berbalik menghadap ke pemilik suara tersebut.


"Sintia, mau apa kamu ke mari?" tanya Almaira yang juga sedikit waspada karena takutnya, Sintia melakukan hal yang tidak diinginkan terhadapnya.


"Jangan tanyakan itu, sekarang aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang. Wanita perebut pacar orang," ejek Sintia yang menaruh dendam kepada Almaira.


Mendengar itu, Almaira sudah tahu arah pembicaraan Sintia dan berusaha tenang untuk menghadapinya. Lantas Almaira sedikit mendekati Sintia. "Jangan terlalu menilai orang buruk, sebelum mencari dulu buktinya. Aku tidak merebut pacar siapapun dan aku tidak akan mengatakan apapun lagi jika Nona Sintia, tidak lagi mengatakan apapun," ucap Almaira dengan sedikit tenang.


"Pada dasarnya, kamu adalah wanita yang merebut Alvian dariku dan menghancurkan hubunganku dan Alvian," jelas Sintia yang semakin menghasut kesabaran Almaira.


"Aku tidak pernah sama sekali menghancurkan dan merebut Mas Alvian darimu, Nona. Bila memang Mas Alvian mencintaimu, dia tidak akan pernah memilihku untuk menjadi istrinya. Pada buktinya, sekarang Mas Alvian lebih memilihku dibandingkan anda, Nona Sintia. Berarti, aku lebih baik darimu." Almaira menjawabnya dengan santai tanpa marah.


Sintia terlihat emosi kepada Almaira yang berani membandingkan dirinya. "Aku yang lebih berhak atas Alvian karena akulah cinta pertamanya." Sintia terlihat begitu angkuh dan percaya diri.


"Tidak ada yang lebih berhak atas seorang laki-laki yang sudah menikah selain dari istrinya dan kedua orangtuanya," sahut Almaira yang seakan membuat Sintia emosi.


"Untuk itu, saya izin pergi karena suami saya sudah menunggu terlalu lama karena pembicaraan yang kurang bermanfaat. Assalamualaikum," ucap Almaira yang langsung pergi dari hadapan Sintia, tanpa menghiraukan Sintia yang sudah terbakar api emosi.


Sekian lama, Almaira kembali bertemu dengan Sintia yang entah kenapa membuatnya sedikit tidak enak. Almaira takut, Sintia berbuat nekad dan menggangu rumah tangganya bersama Alvian. Akan tetapi, Almaira yakin, itu semua tidak akan terjadi selagi ia dan suaminya mampu melewatinya bersama.

__ADS_1


__ADS_2