
Linda melihat layar ponselnya dan mulai mengayunkan jari tangannya untuk mengetik sesuatu.
"Yang pasti laki-laki baik, salih, bagus akhlaknya, dan paham agama. Dengan begitu, ia bisa membingbingku dan mengajariku, bersama untuk meraih surganya Allah. Sesederhana itu kemauanku." Lantas pesan itu pun terkirim kepada ponsel Aditya.
"Ting!" Suara pesan masuk ke dalam hendphone Aditya.
Lantas Aditya pun langsung saja membuka dan membaca pesan tersebut, seketika saja sudut bibirnya terangkat ke atas sehingga membentuk senyuman manis yang begitu menawan.
"Masya Allah, sungguh jauh berbeda dirimu sekarang, Lin," gumam Aditya setelah membaca jawaban dari Linda.
Tidak lama dari itu, Linda kembali mengirimkan pesanannya.
"Ada apa? Kenapa tumben tanyain itu?" Isi pesan itu, kembali membuat Aditya tersenyum dan segera menjawabnya.
"Tidak ada apa-apa, cuman aku ingin tahu saja," balas Aditya. Dia tidak mengatakan alasan yang pasti.
"Setelah tahu, mau apa?" tanya Linda kembali.
"Setelah itu, aku akan berusaha menjadi imam yang baik bagimu," jawab Aditya di dalam pesan itu.
Blus, guratan merah tercipta dari wajah seorang wanita yang tidak lain ialah Linda. Dia nampak tersipu malu oleh jawaban dari Aditya yang begitu memikatnya. Walaupun demikian, itu hanyalah sebuah kata-kata. Namun, Aditya berhasil membuat Linda tersipu malu dengan kata-katanya.
"Linda, semangat yah untuk hubungan kita." Aditya kembali mengirimkan pesan lagi kepada Linda.
"Iya, Kak. Insya Allah," balas Linda. Dia terlihat begitu yakin bahwa pilihannya ini adalah yang terbaik.
"Aku akan berdoa untuk pernikahan kita. Dan jika kita berjodoh, aku akan sangat bahagia," ucap Aditya di dalam pesan singkat itu.
"Aku juga akan melakukan salat istikharah untuk menyakinkan keputusanku," balas Linda kembali.
Aditya tersenyum dan kembali mengirimkan pesan kepada Linda. "Kita bersama-sama berjuang untuk hubungan ini yah, Insya Allah akan dilancarkan sampai hari pernikahan."
__ADS_1
"Aamiin, Kak Aditya juga jangan pernah bosan untuk mendoakan yang terbaik bagi hubungan kita," balas Linda penuh dengan ketulusan.
"Iya, Lin. Terima kasih karena sudah datang di dalam hidupku dengan menwa warna di setiap sedihku," kata Aditya kembali. Kali ini ia terlihat begitu mendalami perkataannya.
Linda tersenyum setelah membaca pesan dari Aditya. "Terima kasih juga untuk, Kak Aditya karena mau menerima wanita sepertiku."
"Sama-sama, kamu memang pantas mendapatkannya," balas Aditya.
Pesan itu tidak berlanjut karena Linda masih banyak perkejaan, tentu juga dengan Aditya yang memiliki kesibukan lebih banyak dari Linda. Maka dari itu, ia nampak sibuk dengan pekerjaannya. Sesekali Aditya menyempatkan waktu untuk menghubungi Linda dan hanya lewat hendphone saja.
Walaupun demikian, mereka bekerja di rumah sakit yang sama, tetapi keduanya tidak saring berjumpa karena kesibukannya yang banyak. Apalagi, Aditya akan segera menikah dengan Linda. Oleh karena itu, dia sering disibukan dengan pekerjaannya, terlebih lagi Aditya mendapatkan posisi jabatan yang tinggi di Rumah Sakit Surya Jaya sehingga mengharuskannya untuk bekerja secara profesional.
***
Di dalam rumah yang cukup besar itu, Nisa terlihat begitu jenuh karena suaminya bekerja. Walaupun demikian, ia sudah biasa tinggal di rumah dengan Widia—ibu mertuanya. Namun, kali ini rasanya begitu hampa karena sekarang Fahmi sudah bersiap selayaknya seorang suami yang baik bagi istrinya. Dengan begitu, Nisa merasa bahwa tanpa adanya Fahmi itu rasanya ada yang kurang.
Karena apa? Sekarang Fahmi sangat menunjukan sikap sayangnya kepada Nisa. Dari mulai asalnya acuh, kini menjadi menyayanginya. Maka dari itu, tidak heran jika Nisa mulai merindukan suaminya. Mungkin juga rasa cinta sudah tumbuh di antara sepasang suami istri tersebut.
Namun, tidak lama dari itu Aditya mengabari pesan bahagia lewat ponselnya. Oleh karena itu, Nisa bergegas membuka pesannya.
"Assalamualaikum, Adek tersayangku. Kakak cuma ingin ngasih tahu saja bahwa pada tanggal sepuluh juni, Kakak akan menikah. Kak Adit harap, Dek Nisa bisa datang ke pernikahan, Kakak." Kurang lebih itu yang. dikatakan oleh Aditya lewat pesan kepada Nisa.
"Wa'alaikumsalam. Insya Allah, Nisa datang, Kak. Untuk saat ini, Nisa hanya bisa mendoakan saja semoga pernikahannya dilanggarkan," balas Nisa yang diikuti dengan rasa bahagia.
"Aamiin, terima kasih, Dek atas doanya." Aditya kembali membalas pesan dari adiknya dan setelah itu, ia kembali menyimpan ponselnya.
"Nis, kok senyum-senyum begitu? Mamih lihat tadi itu kamu murung sekali, tapi sekarang terlihat bahagia. Ada apa sama kamu, Nis?" tanya Widia yang tiba-tiba saja berada di samping Nisa.
"Eh, Mih. Itu Kak Aditya—kakak aku, dia akan menikah pada hari jumat nanti. Nisa sangat senang, Mih. Makanya Nisa senyum-senyum," jawab Nisa seadanya dan Widia pun mulai mengerti.
"Oh jadi itu, kirain Mamih apaan. Kalau begitu, tidak lama lagi dong?" tanya Widia yang seakan mengenali Aditya.
__ADS_1
"Iya, mungkin nanti Nisa akan memberitahukannya kepada Mas Fahmi," ucap Nisa.
Widia hanya tersenyum saja, sudah lama ini putranya bersikap manis kepada menantunya. Maka dari itu, ia hanya bisa mendoakan kebahagiaan untuk Fahmi dan Nisa yang mulai merancang indah pernikahannya. Walaupun demikian, putranya itu tidak pernah mau menerima pernikahannya dengan Nisa.
Namun, berbeda dengan sekarang. Fahmi nampaknya menyayangi istrinya dengan begitu tulus, tidak ada kata yang menyakiti hati Nisa lagi, melainkan sekarang hanya kata manis yang keluar dari mulutnya itu.
Tidak lama dari itu, Fahmi pulang ke rumahnya dengan rasa yang begitu lelah karena seharian menghabiskan waktu di kantor, terlebih ia sangat merindukan istrinya yang berada di rumah. Oleh karena itu, Fahmi mengusahakan membereskan pekerjaan kantornya supaya bisa pulang lebih awal dari biasanya.
Semenjak Fahmi membuktikan cintanya kepada Nisa, disanalah muncul simpati dan rasa cinta datang ke dalam hatinya sehingga mengajaknya untuk menjadi pendamping yang lebih baik bagi Nisa.
"Assalamualaikum," ucap Fahmi sembari mengetuk pintu rumahnya.
Sekarang bukan lagi ketukan pintu yang keras atau menekan bel untuk membuka pintu rumahnya lagi, Fahmi hanya mengucapakan kata salam di saat pulang ke rumah.
"Nis, itu pasti suamimu. Cepatlah buka, dia pasti sudah menunggumu," ucap Widia sembari tersenyum kepada menantunya.
Nisa juga ikut tersenyum, seakan kerinduannya akan segera terbayar dengan kepulangan suaminya.
"Iya, Mih." Dengan begitu, Nisa pun tidak lagi menundanya dan langsung saja berjalan menghampiri pintu.
Melihat tingkah Nisa, Widia hanya tersenyum karena suasana seperti ini sudah sering dilihat olehnya. Maka dari itu, Widia sangat bersyukur karena putranya itu bisa mendapatkan pendamping yang baik dan mampu membawanya ke jalan yang benar.
Oleh karena itu, Widia tidak lagi menghiraukan pribadi Nisa yang begitu berwibawa sehingga mampu menaklukkan hati putranya yang sudah terpaku oleh satu wanita, dan juga menghilangkan keras kepala Fahmi yang sulit diatasi oleh dirinya yang merupakan ibunya sendiri.
.
.
.
Assalamualaikum.
__ADS_1
Jangan lupa Like! Komentarnya juga yah. Salam hangat dari Author Lina.