
Nisa terperangah dengan ucapan suaminya dan ia tidak langsung percaya begitu saja karena kalau sudah becanda, maka akan berlanjut kedepannya.
"Kalau begitu, masih adakah ruang untuk wanita itu?" tanya Nisa, kini ia membalikan ucapan suaminya.
Fahmi terdiam, dia tahu maksud dari ucapan istrinya yang menunjukan kehadiran Almaira. Ia terlihat begitu frustasi, bagaimanapun istrinya itu tidak bisa dibuat main-main.
"Iya, tapi itu dulu. Sekarang dan seterusnya hanya istriku yang berhak menempatinya," jawab Fahmi meskipun begitu, ia sadar bahwa dirinya tidak lebih sempurna dari istrinya.
"Benarkah itu, Mas?"
"Iya, kalau kamu tidak percaya. Aku akan mengatakan kepada seluruh dunia bahwa kali ini, aku telah mencintai istriku sendiri," ujar Fahmi sembari tersenyum kepada istrinya.
"Apa Mas berani? Coba lakukan sekarang juga."
Fahmi terdiam, dia tidak tahu harus bagaimana. Perkataanya itu diambil dari seorang pujangga. Oleh karena itu, Fahmi malah jadi malu sendiri. Itu kan cuma kata-kata yang dapat memperjelas. Namun, Nisa malah menganggapnya nyata.
"A--aku ...," ucap Fahmi yang terbata dan tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
"Apa Mas? Mas tidak bisa menjawabnya, kan? Bukannya cinta itu butuh pembuktian maka aku meminta itu dari Mas."
Fahmi terdiam dan kembali mengatakan sesuatu. "Baiklah, aku akan berusaha membuktikannya kepadamu bahwa aku benar-benar mencintaimu!"
"Baiklah, aku tunggu!"
Setelah Fahmi mengatakan itu, Nisa mulai percaya karena ia yakin ucapan suaminya itu tidak main-main. Dan Nisa yakin suaminya itu mulai berubah dan tidak akan membuatnya pusing lagi.
__ADS_1
...****************...
Lima bulan berlalu, kandungan Almaira sekarang sudah menginjak tujuh bulan. Akan tetapi, ia masih aktif di rumah sakit meskipun suaminya telah melarangnya untuk tetap berada di rumah dan tidak melakukan pekerjaannya lagi. Namun, begitulah Almaira.
Seiring berjalannya waktu, perut Almaira mulai membesar membuat Almaira sedikit kesusahan untuk melakukan sesuatu. Maka dari itu, Alvian sedikit mengurangi pekerjaannya di kantor karena jika ia tidak begitu. Almaira akan mudah bosan dan ingin melakukan hal yang menyibukkannya.
Dengan begitu, Alvian akan sering menghabiskan banyak waktu dengan istrinya. Meskipun begitu, Almaira selalu bilang 'tidak apa-apa', tapi kan Alvian tetap mengingatnya.
"Sayang, setelah ini kamu jangan bekerja lagi, yah. Diam saja di rumah dan masih ada Bi Sumi yang menemanimu di sini, dan Mas juga akan selalu meluangkan waktu untukmu," ujar Alvian sembari menatap wajah istrinya yang terlihat lebih cantik setelah mengandung anaknya.
Almaira tersenyum. "Aku masih bisa menjaganya Mas, Mas tidak perlu khawatir, yah. Insya Allah, anak kita akan selalu dalam lindungannya."
"Tolong untuk yang kesekian kalinya, Mas mengucapkan ini dan ini harus yang terakhir! Mas mohon, turuti perkataan Mas. Ini juga untuk kebaikan anak kita," ucap Alvian sendu.
Oleh karena itu, Almaira tidak tega melihat suaminya yang begitu memperhatikan dirinya dan buah hatinya sampai segitunya. Maka dari itu, Almaira menyetujui permintaan suaminya. Dengan begitu, suaminya akan sangat senang.
"Nah, ini baru istriku yang cantik," ujar Alvian sembari menatap istrinya tanpa bosan sekali pun.
"Emangnya dulu aku tidak cantik?" tanya Almaira dengan wajah cemberut. Mungkin ini terjadi karena kehamilannya sehingga membuat Almaira sedikit sensitif.
"Cantik kok, tapi akan lebih cantik lagi ketika istriku tersenyum."
Diam-diam Almaira tersenyum dan Alvian melihatnya sedikit sehingga membuat istrinya itu kembali memalingkan wajahnya.
"Tidak ada yang berubah dari istriku, ia tetap cantik walaupun tanpa polesan make up. Namun, setelah mengandung buah hati kita, ia menjadi semakin cantik."
__ADS_1
Almaira tersenyum. "Terima kasih suamiku, tidak ada yang bisa membuatku merasakan kasih sayang yang dapat membuatku tersenyum, selain Mas. Mas adalah laki-laki kedua yang aku cintai."
Mendengar itu, Alvian menjadi kaget. Apa maksud dari laki-laki kedua? Apakah Aditya laki-laki pertama yang istrinya cintai. Alvian nampak tidak suka dengan ucapan istrinya dan pikirannya pun sudah berkelana ke mana saja.
"Sayang, bila aku laki-laki kedua yang kamu cintai. Lalu, siapa laki-laki pertama yang sudah lebih dulu mengambil hati istriku ini?" tanya Alvian, ia terlihat begitu kesal.
Almaira tersenyum, ia tahu suaminya itu sudah sangat kesal. Maka dari itu, ia langsung saja menjawabnya. "Abiku, dia laki-laki pertama yang Maira lihat untuk yang pertama kalinya dan ia juga cinta pertama Maira, sebelum Maira dipertemukan dengan laki-laki kedua yang mampu membingbing Maira ke jalan yang diridhai Allah Subhanahu Wata'ala. Dan ia sekarang berada di hadapanku."
Dengan penjelasan dari istrinya, kini Alvian mengerti dan mengulum senyuman di bibirnya sehingga membuat Almaira sangat bahagia.
"Mas tidak apa-apa menjadi cinta kedua, tapi Mas ingin hanya kamu yang menjadi ibu dari anak-anak Mas dan tidak ada yang lain."
"Insya Allah, Mas. Maira akan selalu menjadi istri yang baik bagi Mas dan keluarga kita," jawab Almaira sembari menerima pelukan dari suaminya.
"Mas hanya ingin mencintaimu dan itu tidak akan berubah sampai akhir hayat. Mas ingin hanya satu nama yang mampu menggetarkan jiwa ini dan itu adalah Almaira," lanjut Alvian seakan tidak mau kehilangan istrinya.
"Jangan katakan itu, Mas. Karena itu, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang nanti. Akan tetapi, Mas juga harus mencintai Allah karena dialah yang sudah menggetarkan hati Mas untuk tetap mencintai Maira. Namun, jika Mas menjauhinya maka cintaku juga akan sulit untuk digapai."
"Iya, sayang. Mau sampai kapan pun Mas akan mencintai kamu dan tanpa mengurangi kecintaanku kepada penciptanya."
Almaira kembali tersenyum sehingga Alvian tidak pernah henti-hentinya mencintai Almaira karena menurutnya, istrinya itu wanita yang luar biasa. Kesabarannya membuat hati Alvian luluh, cintanya membuat ia merasa tenang, dan kesederhanaannya membuat Alvian merasa sempurna.
Rasanya hidup Alvian sudah sangat lengkap, dengan hadirnya Almaira ke dalam hidupnya. Sekarang Alvian mengerti, tidak ada yang lebih berharga dari keluarga. Maka dari itu, Alvian sangat menyayangi keluarganya. Dan di setiap kejadian pasti ada hikmah di balik semua itu.
Walaupun sebelumnya, Alvian tidak pernah menginginkan Almaira hadir di dalam hidupnya. Akan tetapi, sekarang ia tidak mau kehilangan istrinya itu karena baginya Almaira adalah pemberian yang paling berharga dari Allah untuk melengkapi kekurangan dirinya.
__ADS_1
Pasangan suami istri itu tidak pernah mengeluh dan selalu bahagia, apalagi semenjak Almaira hamil. Pekerjaan suaminya semakin melesat dan hubungan mereka sudah sangat kuat sehingga tidak ada kesempatan lagi bagi orang lain untuk masuk ke dalam rumah tangganya.
Semakin diuji pernikahannya maka semakin kuat juga Almaira dan Alvian melewatinya. Dengan begitu, tidak ada yang lebih baik dari kebersamaan dan kesetiaan. Suami tidak akan mudah berpaling dari istrinya jika kekuatan cinta dan kesetiaannya tidak mudah digoyahkan.