
Pagi harinya Almaira dan Alvian terlihat sedang bersiap untuk pulang. Almaira dengan sedih harus meninggalkan kembali keluarganya, karena pekerjaan Alvian yang tidak bisa di tunda.
"Dek, beneran kamu mau pulang sekarang?" tanya Ilham, sedikit tidak rela.
"Iya kak, soalnya Mas Alvian masih banyak pekerjaan di kantornya" sahut Almaira yang juga ikut sedih, setelah melihat ekspresi wajah kakaknya.
Arah mata Ilham tiba-tiba menatap wajah Alvian dengan instan. Sedangkan Alvian terlihat gusar dengan tatapan mata dari kakak iparnya itu, dilihat raut wajah Ilham yang sangat dingin. Sehingga membuat nyali Alvian menciut.
"Tolong jaga! baik-baik adikku yah?" tutur Ilham, membuat Alvian terperangah.
"Iya kak," jawab Alvian dengan yakin.
Perlahan Almaira berjalan menghampiri Abi, Ummi, dan Kak Ahmad. Almaira berpamitan kepada seluruh keluarganya, begitu juga Alvian.
"Dek, Kak Maira do'akan. Semoga kamu cepat menikah yah. Apapun pilihan mu, kak Maira akan tetap mendukungnya" ucap Almaira pada Fatimah.
Tanpa aba-aba, Fatimah berhembur masuk kedalam pelukan Almaira "Terimakasih, selama ini Kak Maira sudah perhatian dan dukung Fatimah" lirih Fatimah dalam pelukan kakaknya.
Almaira tersenyum dan mengangkat wajah Fatimah "Sudah yah? Jangan begini. Nanti Kak Maira gak bisa ninggalin kamu dek" ujar Almaira lembut.
"Maaf kak, Fatimah lupa. Kalau Kak Maira mau pulang sekarang" ucap Fatimah, melerai pelukannya.
Almaira hanya tersenyum, karena memang Fatimah suka memendam masalahnya sendiri. Sehingga hanya tindakannya saja yang memperlihatkan masalah yang tengah dialaminya.
Sekarang barulah Alvian dan Almaira masuk kedalam mobilnya, dengan meninggalkan keluarga yang sangat Almaira sayangi.
Saat di perjalanan pulang, Almaira mulai merasakan kantuk yang amat menyeruak. Dan tanpa disadari Alvian, Almaira tertidur. Saking lelahnya, apalagi ini perjalanan yang lumayan jauh.
Setelah sempai rumah, Almaira masih belum terbangun. Sehingga Alvian menggendong tubuh Almaira masuk kedalam rumah, karena ia tidak tega membangunkan Almaira yang terlihat sangat pulas.
Tidak ada pergerakan sedikitpun dari Almaira, saat Alvian mengangkat tubuhnya. Namun di saat Alvian ingin membaringkan tubuh istrinya. Tiba-tiba Almaira terbangun, kaget.
"Kyaak!" pekik Almaira, kaget.
"Ada apa sayang?" tanya Alvian yang ikut kaget mendengar istrinya bersuara. Padahal tadi Alvian lihat, Almaira masih tertidur pulas.
"Kenapa mas gendong Maira? Dan sekarang kita ada dimana mas?" tanya Almaira linglung, sembari melihat sekeliling.
__ADS_1
"Kita berada dikamar sayang" jawab Alvian santai.
"Kamar? Berarti sudah sampai rumah dong. Ah, mas jahat! Kok Maira gak dibangunin sih" protes Almaira dengan wajah yang cemberut.
Alvian terkekeh gemas, melihat wajah cemberut istrinya. "Mas gak tega banguninnya sayang. Soalnya tidurmu pulas banget" ujar Alvian, sembari menurunkan tubuh Almaira keatas tempat tidur.
"Makanya jangan cemberut kayak gitu. Nanti cepet tua loh" timpal Alvian, menggoda istrinya.
"Sekali lagi apa mas? Mas bilang, Maira cepet tua!" tanya Almaira dengan mata yang melotot.
Alvian menanggapinya hanya dengan tersenyum simpul saja.
"Ih, mas ngeselin deh" tutur Almaira kesal.
"Mas hanya becanda, sayang" ucap Alvian, sembari mengusap lembut kepala Almaira dan mencium keningnya.
Almaira sedikit tenang dengan semua perhatian yang selalu diberikan, oleh suaminya.
"Kalau masih capek. Lanjut tidur saja sayang" ucap Alvian lembut.
Dengan spontan Almaira menggelengkan kepalanya pelan "Maira enggak mau tidur lagi mas, Maira mau siapin dulu sarapan. Supaya nanti mas gak telat makan"
"Uh, perhatian banget sih. Istriku ini" ucap Alvian, sembari mencubit pelan kedua pipi Almaira.
Almaira hanya tersenyum. Dengan beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju dapur. Sedangkan Alvian tetap berada dikamar untuk bersiap.
Sesampainya Almaira di dapur, Almaira langsung membuka pintu kulkas. Disana sudah terdapat banyak bahan makanan, seperti sayuran dan buah-buahan. Lantas Almaira terdiam sejenak dan memanggil bi Sumi.
"Bi, bi Sumi" panggil Almaira.
"Iya, ada apa neng?" Sumi berjalan menghampiri Almaira yang kebetulan sedang berada diruang tengah.
"Ini semua bahan makanan, bibi yang beli?" tanya Almaira, karena ia belum sempat membeli bahan makanan.
"Iya neng, kemaren den Alvian minta bibi beli semua bahan makanan. Supaya neng bisa langsung masak" ujar bi Sumi, menjelaskan.
"Oh gitu yah. Terimakasih ya bi, sudah ngerepotin"
__ADS_1
"Tidak apa-apa neng, lagi pula ini pekerjaan bibi" balas bi Sumi tersenyum.
Dengan begitu Almaira langsung memasak makanan, supaya Alvian bisa makan dulu sebelum berangkat kerja.
Lima menit kemudian, Alvian turun dari tangga dengan berjalan menghampiri meja makan. Dan disana telah terhidang banyak makanan yang terlihat masih panas, karena baru dimasak.
"Mas mau apa? Biar Maira ambilkan" ucap Almaira, disaat melihat Alvian telah duduk di kursi depan dirinya.
"Semuanya juga boleh" balas Alvian, sembari tersenyum simpul.
Awalnya Almaira heran, akan tetapi Almaira tidak protes. Dengan hanya menuruti kemauan suaminya saja.
Sehingga terciptalah sebuah senyuman yang mengembang dari sudut bibir Alvian, karena melihat istrinya yang sangat penurut.
Setelah sesi makan selesai, Alvian langsung berpamitan kepada Almaira dengan memberikan kecupan hangat di kening istrinya. Karena sekarang Alvian sudah tidak canggung lagi kepada Almaira, tanpa di mintapun Alvian sudah melakukannya.
Dulu saja hanya untuk sun tangan harus di ingatkan, tapi sekarang Alvian lah yang lebih dulu melakukannya. Kalau di ingat kembali sikap Alvian dulu, pasti akan bikin ketawa. Bagaimana dinginnya Alvian dulu saat bersama Almaira, tapi sekarang sifat dingin itu menghilang entah kemana.
"Sayang, mas tinggal dulu yah" ucap Alvian, dengan menatap sendu wajah Almaira.
Lantas Almaira mengangguk. Seakan mendapatkan jawaban dari istrinya, barulah Alvian beranjak dari hadapan Almaira.
"Assalamu'alaikum" ucap Alvian, sembari berjalan masuk ke dalam mobilnya.
"Wa'alaikumsalam..." jawab Almaira dengan menatap kepergian suaminya.
***
Menit, detik dan waktu bergulir dengan begitu cepat, sehingga waktu sore pun tiba. Saat dimana Alvian telah selesai dengan semua pekerjaannya di Perusahaan Atmaja Putra.
Ya, sekarang waktunya untuk Alvian pulang ke rumah, menemui istri cantiknya yang amat di rindukan sedari tadi.
Apalagi hari ini Alvian terlihat sangat lelah, karena baru saja pulang dari Bandung, sudah kembali lagi masuk ke kantor. Dan setibanya di kantor, Alvian sudah di suguhkan pekerjaan yang sangat banyak, sehingga membuat Alvian sangat kelelahan dan butuh istirahat.
Perjalanan jauh dan pekerjaan kantor mampu membuat tubuh Alvian tidak fit, tetapi Alvian tidak perduli. Semua ini rela Alvian lakukan demi Almaira, sekedar untuk membuat Almaira tersenyum dengan bertemu seluruh keluarganya.
Seakan prioritas utama Alvian sekarang adalah Almaira. Sehingga apapun itu, tetap Almaira yang akan lebih dulu Alvian utamakan.
__ADS_1
Dengan semangat yang ada, Alvian masuk kedalam mobilnya. Karena ketidak sabarannya yang ingin segera bertemu dengan Almaira di rumah.