
Setelah acara resepsi pernikahan usai, para tamu dan juga orang terdekat mulai pada pulang ke rumahnya, sedangkan pengantin baru sudah lebih dulu masuk ke rumah Abi Zaenal.
Untuk saat ini, keluarga Abi Zaenal sedang berkumpul di ruang tamu, terkecuali pengantin baru yang lebih dulu masuk ke dalam kamarnya.
"Maaf karena semuanya terlalu mendadak. Jadi, kami tidak menyambut kedatangan kalian ke mari dengan sangat baik. Maka dari itu, Abi dan keluarga mengucapkan terimakasih untuk semuanya." Abi Zaenal begitu bahagia sekaligus sanang dengan apa yang terjadi hari ini, semuanya seakan indah.
"Tidak apa-apa, kami juga sudah sangat senang datang ke mari dan mendapatkan menantu yang begitu cantik," jawab Tuan Salman—ayah dari Reza. Dia tersenyum saat menjawabnya karena tidak menyangka juga putranya akan serius sama seseorang.
"Alhamdulillah, kalau begitu kami juga sungguh bahagia bisa mendapatkan menantu seperti Nak Reza yang sangat berani," ucap Abi Zaenal soraya membanggakan sosok Reza di depan orang tuanya, Reza.
Pembicaraan tidak sampai di sana saja, mereka berbincang banyak hal dan saling mengenal. Bahkan sudah saling mengangap keluarga, bukan lagi besan. Begitulah Abi Zaenal dan keluarganya jika sudah kenal, maka akan sangat sayang karena sikap ramahnya yang juga membuat Reza nyaman saat berada bersama keluarga ini.
Sedangkan pengantin baru, kini tengah berada di dalam kamar yang telah dihias dengan sangat indah. Namun, ada yang berbeda dari pasangan ini. Biasanya para pengantin baru akan saling berbincang dan bercanda tawa bersama, sedang yang ini terlihat beda dan hanya diam, dengan sesekali saling melirik.
Karena apa? Karena tidak saling mengenal, bahkan bertemu juga hanya beberapa kali. Oleh karena itu, mereka merasa sangat canggung. Dari keduanya hanya diam dan Reza yang sikapnya tidak terlalu diam, lain halnya dengan saat ini. Dia hanya diam, sehingga Fatimah mengatakan sesuatu.
"Kak," kata Fatimah dengan suara lembutnya.
Lantas Reza pun segera menjawabnya karena ini awal dari keheningan yang sempat berjalan lumayan lama. "Iya, ada apa Dek."
"Untuk saat ini, Imah tidak tahu harus bagaimana. Tapi yang pasti, Imah akan berusaha mentaati Kak Reza sebagai seorang suami dari Imah," tutur Fatimah dengan gugupnya.
"Jangan pikirkan dulu hal itu! Untuk saat ini, mari kita mulai dari menjalin hubungan yang lebih dekat, dengan begitu. Seiring berjalannya waktu dan saling bersama, kita berdua bisa saling mengenal lebih jauh lagi." Reza mengusulkan jalan terbaik untuk memulai sebuah hubungan.
Fatimah terdiam dan kemudian mengangguk sehingga membuat Reza tersenyum penuh kemenangan.
"Baiklah, kita mulai dengan memperkenalkan diri dulu. Adek udah tahu kan, nama Kakak?" tanya Reza yang sebenarnya tidak usah ditanya lagi karena itu tidak perlu.
__ADS_1
Tiba-tiba Fatimah terdiam sebentar soraya berpikir. "Kalau enggak salah Kak Reza," ucapnya.
"Iya, kita mulai hubungan ini berdasarkan Adik dan Kakak, sehingga kedekatan akan datang dengan sendirinya." Untuk memulai sesuatu, Reza memilih hal yang masih ada di lingkungan sekitar, dengan begitu Fatimah akan menerimanya.
Fatimah mengangguk sebagai persetujuannya, bagi Fatimah apa yang suaminya sarankan ada benarnya juga. Maka dari itu ia menyetujuinya.
"Kakak mau bertanya. Apa Adek senang dengan pernikahan ini? Jawab yang jujur yah," tanya Reza dengan atensi mata yang terus melihat kepada istrinya.
"Iya ... Imah sangat senang dengan pernikahan ini," jawab Fatimah yang agak canggung berbincang dengan suaminya.
"Apa Adek masih mencintai mantan calon suami Adek?" Reza kembali bertanya karena ia ingin mengetahui kebenarannya.
"Kalau boleh jujur, Imah belum mencintai Fahmi dan sebelum ijab qobul. Fatimah tidak merasakan kegembiraan yang orang lain rasakan karena sikapnya yang terlalu dingin, membuat Fatimah sedikit meragukannya." Dengan jujur Fatimah mengungkap kejanggalannya saat masih menjadi tunangan dari Fahmi.
"Alhamdulillah. Maka dari itu, tidak ada hal yang mengulurkan pendekatan kita meskipun baru beberapa kali ketemu, tetapi Kakak sudah hampir mengenal mu, Dek." Tanpa ragu lagi Reza mengatakan parivasinya kepada sang istri.
"Baiklah, Kakak coba ceritakan. Adek dengan kan yah," pintanya pada sang istri.
Fatimah hanya mengangguk dan Reza pun langsung menceritakan semuanya. Dari awal mereka bertemu sampai kejadian tidak bisa tidur dalam beberapa hari dan berturut-turut, juga perjalanan mendapat Fatimah sampai saat ini.
Sesekali Fatimah tersenyum mendengarkan cerita suaminya dan tidak menyangka juga, Reza lah yang berhasil memilikinya. Entah ini hanya kebetulan, tetapi ini bukanlah kebetulan melainkan kehendak Allah SWT. Untuk itu, inilah cara Allah menyatukan dua insan yang saling berjauhan untuk menjaga dan melindungi.
Meskipun itu sangat mustahil, tetapi jika Allah sudah menghendakinya maka semua juga akan terjadi atas ijinnya.
Sekarang Fatimah mengetahui sebabnya tidak ada gambaran yang hadir disaat dirinya melakukan salat istikharah, melainkan itu terjadi karena Reza lah yang mendapatkan petunjuknya dan berjuang mendapatkan dirinya.
Sangat tidak mungkin bukan? Akan tetapi, semua ini Allah lah yang menyatukannya. Mau bagaimanapun caranya jika sudah ditakdirkan untuk bersama, maka akan tetap dipersatukan.
__ADS_1
Malam ini menjadi malam yang paling indah bagi pasangan pengantin baru ini, banyak hal yang dibicarakan dan diceritakan sehingga membuat mereka saling mengenal dan semakin dekat.
Untuk kisah Fatimah dan Reza itu sangat luar biasa, sebagaimana tercantum dalam HR. Abu Dawud.
مَا شَاءَ اللهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ (رواه أبو داود)
Yang artinya : “Apa yang dikehendaki oleh Allah-akan kejadiannya-pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehandaki oleh-Nya maka tidak akan pernah terjadi”. (HR. Abu Dawud).
***
Lain halnya dengan Almaira yang kini tengah dituntut oleh suaminya. Karena itu, setelah berada di kamar. Alvian terus mendesak istrinya untuk menjawab pertanyaannya, waktu siang itu.
"Cepat katakan," desak Alvian yang masih penasaran dengan jawaban yang belum Almaira beritahukan.
Almaira menduduk dan menjawabnya dengan sangat pelan. "Mas ganteng,"
Alvian tersenyum. "Coba katakan lagi, Mas ingin mendengarnya dengan sangat jelas."
"Sudah, jangan minta lagi. Maira malu Mas," ucap Almaira soraya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa harus malu?" Alvian sengaja menggoda istrinya.
"Ah ... sudahlah jangan dibahas lagi," balas Almaira yang masih setia menutupi wajahnya karena rasa malu yang kini ia alami.
"Jangan malu, kamu bisa melihatnya setiap hari dan Mas juga bisa melihat wajah mu setiap saat," kata Alvian sembari menurunkan kedua tangan istrinya yang tengah menutupi wajah cantiknya.
Untuk saat ini, jantung Almaira berdetak begitu kencang karena perlakuan suaminya. Walaupun demikian, mereka berdua sudah saling mencintai. Akan tetapi, rasa dag dig dugnya masih ada sampai sekarang. Begitu pun dengan Alvian yang sama merasakan, apa yang kini Almaira rasakan.
__ADS_1