
Pada waktu subuh Almaira telah terbangun dari tidur hangatnya, perlahan Almaira mencoba membukakan kedua matanya melawan rasa kantuk yang sangat menyeruak.
"Hah, kenapa aku merasa ada sesuatu yang berat, ya." Almaira mencoba melihat apa yang dimaksudnya
"Sebuah tangan, tangan siapa ini? Jangan-jangan ini ...." Almaira mendongakkan kepalanya ke samping,dan berkata terkejutnya, ia saat ini.
Suami yang dulu selalu menghindar ketika berada berdua bersamanya, mengelak ketika ingin tidur satu atap dengannya. Sekarang suaminya berada dalam satu tempat dengannya tanpa ada jarak sedikit pun.
Almaira mencoba membuktikannya, apa benar yang berada di sampingnya itu suaminya, atau hanya khayalannya saja.
Tangannya mencoba menyentuh wajah yang sudah menjadi suaminya itu, dan ternyata itu bukanlah angan-angan Almaira saja. Yang berada di sampingnya sekarang, memang benar suaminya.
"Akhirnya Mas bisa tidur satu tempat bersamaku. Entah ini disengaja ataupun tidak disengaja, aku tetap merasa bahagia."
Rasanya seperti mimpi saja berada satu tempat yang sama dengan suaminya, berat juga rasanya mengakhiri momen yang indah ini.
Almaira terus menatap wajah suaminya yang terlihat sangat tampan ketika tertidur, sedangkan Alvian yang merasakan ada sebuah pergerakan yang dilakukan oleh Almaira. Dengan begitu, membuat Alvian terbangun dari pembaringannya.
__ADS_1
Wajah cantik telah terbingkai sempurna, di suguhkan di depan matanya, dengan bola mata yang teduh tengah menatap dirinya dari jarak yang sangat dekat.
"Kamu sudah bangun Maira?" Alvian bersuara dengan suaranya yang terdengar serak, khas orang bangun tidur.
"Iya Mas, baru saja Almaira bangun." Almaira tetap berusaha mengontrol rasa malu dan kegugupannya.
"Apa kamu mau salat sekarang?" tanya Alvian dan membuat Almaira mengangguk dengan wajah menggemaskannya.
"Ya sudah sana, Mas tunggu sini." Alvian melepaskan kedua tangannya dari tubuh istrinya dan kemudian, Almaira beranjak dari tempat tidur, itu juga setalah mendapatkan ijin dari suaminya.
Beberapa saat kemudian, Almaira telah kembali dengan wajah yang terlihat basah terkena air wudhu.
Setiap langkah sampai dengan gerakan salat Almaira, Alvian memperhatikannya dengan sangat teliti. Dan ketika Almaira telah selesai melaksanakan kewajibannya, seketika Alvian memanggilnya.
"Maira sini." Alvian menepuk tempat kosong yang terdapat di sampingnya.
Almaira yang patuh, berjalan menghampiri tempat tidur sembari duduk bersandar di penyandaran yang sudah terdapat dari tempat tidur.
__ADS_1
"Ada perlu apa Mas memanggil Almaira ke sini?" tanyanya.
Tampa basa basi lagi, Alvian membaringkan tubuh Almaira dengan posisi terlentang. Almaira yang kaget, dengan refleks memeluk tubuh suaminya.
"Mas mau Apa? Tolong jangan sakiti Almaira!" Almaira memohon dengan memeluk erat suaminya.
"Hey! Jangan khawatir, Mas tidak akan nyakitin kamu, Mas hanya ingin meminta sesuatu darimu"
Pikiran Almaira telah melayang jauh memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Apa Mas Alvian akan meminta haknya sekarang, bagaimana ini aku belum siap," batin Almaira berucap.
"Kamu jangan berpikir yang enggak-enggak, ya. Mas cuma ingin memeluk kamu, apa boleh?" Alvian berkata seakan tahu apa yang sedang istrinya itu pikirkan.
Almaira yang terlihat malu karena telah berpikiran yang aneh-aneh terhadap suaminya, berusaha tenang dengan menengadahkan wajahnya menatap lekat wajah suaminya.
"Mas boleh meminta apapun itu kepada Almaira, selagi Almaira mampu memberikannya. Kerena itu sudah menjadi kewajiban Almaira, maka Mas tidak perlu izin untuk itu."
__ADS_1
"Terimakasih." Alvian merengkuh tubuh Almaira, memeluknya dengan sangat lembut dan hangat, masuk ke dalam dekapannya kembali.