Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 97. Rapuhnya Hati Aditya


__ADS_3

Setelah mereka berdua masuk ke dalam ruangan Dokter Linda, tanpa menunggu lama. Dokter Linda langsung saja memeriksa kandungan Almaira dan memintanya untuk berbaring di ranjang pasien, dengan segera Linda mengambil alat USG untuk memeriksakan kandungan Almaira.


"Maira, usia kandunganmu baru saja menginjak dua bulan?" Prediksi Linda sembari melihat ke lanyar USG.


"Iya," jawab Almaira singkat dan kembali melihat lanyar yang memperlihatkan segumpal darah yang belum terbentuk.


"Masih muda, kamu harus menjaganya dengan sangat baik, Almaira," ucap Linda yang begitu memperhatikan sahabatnya. Kini, ia tahu penyebab Almaira mengambil cuti karena sahabatnya itu tengah hamil.


"Pasti, Lin," balas Almaira sembari melirik kepada suaminya yang setia menemaninya.


"Kandungan yang masih muda harus sangat hati-hati untuk menjaganya. Kamu juga harus memakan makanan yang sehat dan bergizi, nanti aku resepkan vitamin untuk kamu. Sehat-sehat ya, Dedek Bayinya," jelas Linda soraya tersenyum melihat kebahagiaan sahabatnya yang sudah memiliki suami, bahkan akan memiliki seorang anak.


"Terimakasih, Lin." Almaira juga ikut tersenyum dan berharap, ia bisa menjaga kandungannya dengan sangat baik.


Setelah itu, Almaira turun dari ranjang pasien dengan dibantu oleh suaminya. Maka dari itu, Linda pergi mempersiapkan obat dan vitamin yang perlu Almaira makan.


Tidak lama dari itu, Almaira dengan suaminya ke luar dari dalam ruangan Linda dan berjalan melewati lorong rumah sakit. Di saat itu, Aditya yang kebetulan baru selesai menangani operasi, tidak sengaja ia melihat Almaira yang berjalan bersama suaminya. Lantas, Aditya pun menghampirinya.


"Almaira," panggil Aditya sembari lebih mendekati Almaira.


Dirasa, Almaira mendengar suara seseorang yang memanggilnya. Karena itu, ia pun melihat ke depan dan ternyata Dokter Aditya yang memanggil namanya.


"Dokter Aditya?" ucap Almaira yang membuat Alvian merubah mimik wajahnya datar.


"Almaira, bukanya kamu masih ngambil citi?" Pertanyaan itu terlontar lagi dari mulut Aditya yang sebelumnya, lebih dulu ditanyakan oleh Linda.


"Iya, aku ke sini untuk ...," ujar Almaira yang langsung dipotong oleh suaminya.

__ADS_1


"Untuk memeriksakan kandungan istri saya," jelas Alvian yang mendapatkan tatapan mengejutkan dari Aditya.


"A--apa, kamu hamil, Almaira?" tanya Aditya yang tidak percaya dengan apa yang Alvian katakan.


"Jangan tanyakan itu kepada istri saya, bukanya barusan saya sudah menjelaskan kepada Dekter? Apa masih kurang jelas perkataan saya tadi?" ucap Alvian yang membuat Almaira menatapnya dengan tatapan yang tidak biasanya.


"Mas!" tegur Almaira yang tidak suka dengan cara bicara suaminya.


Setelah Alvian mengatakan itu, Aditya masih belum percaya dan masih menuntut jawaban dari Almaira. "Aku bertanya kepada Almaira, tolong jawab!" tegas Aditya dengan menekan Almaira untuk segera menjawabnya.


"Iya, apa yang dikatakan oleh Mas Alvian itu memang benar," ucap Almaira tanpa disadari olehnya, Aditya tidak mampu lagi untuk menerima kenyataan yang sudah banyak menyakiti hatinya.


"Sekarang sudah jelas, bukan? Maka kami permisi," ucap Alvian sembari menarik tangan istrinya untuk pergi dari tempat itu.


"Tunggu, Mas!" pinta Almaira yang kembali menatap Dokter Aditya. "Assalamualaikum, Kak," ucapanya sebelum meninggalkan rumah sakit.


Dengan tidak sabaran, Alvian membawa istrinya untuk segera meninggalkan Dokter Aditya yang sudah lama menaruh rasa terhadap istrinya itu. Cemburu? Ya, inilah yang sedang Alvian rasakan. Alvian tidak mau melihat istrinya didekati oleh laki-laki lain, dengan begitu ia sangat posesif terhadap istrinya.


"Apa sudah tidak ada harapan lagi untuk aku mendapatkan hati, Almaira?" tanya Aditya pada dirinya sendiri.


Sengaja Aditya pulang ke Palembang dan meninggalkan Almaira dalam beberapa hari kebelakang ini, dengan tujuan untuk melupakan Almaira setelah mendengar kabar pernikahannya. Akan tetapi, Aditya tidak berhasil untuk melupakan Almaira.


Rasa cintanya sudah terlalu dalam dan sulit untuk dilupakan, sedangkan Aditya hanya bisa menerima semuanya dengan ikhlas. Kembalinya Aditya ke Rumah Sakit Surya Jaya, harus kembali menerima kenyataan yang begitu menyakiti hatinya lagi.


Tanpa disadari oleh Aditya, seseorang datang menghampirinya dan memberikan sebotol air putih kepadanya.


"Ini, minumlah dulu," ucap Linda sembari menyodorkan botol air putih itu kepada Dokter Aditiya.

__ADS_1


Dalam keadaan yang seperti ini, Aditya tidak memikirkan apapun lagi dan langsung saja menerima botol minum dari Dokter Linda.


"Terimakasih," ucap Aditya yang kemudian, meneguk air minumnya.


"Jangan terlalu dipikirkan, mungkin ini sudah takdirmu. Maka dari itu, Kak Aditya harus bisa menerima kenyataan ini dengan hati yang lapang." Di saat Aditya meneguk air itu, Linda berkata dengan sangat dalam.


"Percayalah yang terbaik tidak akan pergi meninggalkanmu, dia akan datang dengan sendirinya," lanjut Linda dan membuat Aditya berpikir dengan begitu keras.


Setelah mengatakan itu, Linda hendak pergi meninggalkan Aditya yang masih memikirkan semua perkataannya. Namun, Aditya kembali memanggil namanya sehingga membuat Linda kembali menatap Dokter Aditya.


"Tunggu, Dokter Linda!" pinta Aditya yang menginginkan penjelasan dari Linda.


"Iya, apa masih ada yang perlu aku katakan lagi?" tanya Linda dengan sedikit selidik.


"Ya, bagaimana jika cinta pertama tidak bisa dilupakan? Apa masih bisa mengharapkan cintanya?" tanya Aditya yang seakan menanyakan hal yang bersangkutan dengan dirinya sendiri.


"Cinta pertama dan kata itu baru pertama dan masih ada luang untuk yang kedua, ketiga, dan terakhir. Maka dari itu, tidak memupus kemungkinan untuk bisa melupakannya," jawab Linda dengan santainya.


Melihat Aditya yang hanya diam, lantas Linda pun kembali melanjutkan perkataannya, "Ibarat angka satu yang masih bisa dilanjutkan dengan angka dua, tiga dan seterusnya, sedangkan nol tidak memiliki nilai apapun dan jika dikalikan dengan angka satuan mana pun, hasilnya akan tetap nol. Baru itu yang dinamakan satu yang tidak ada dua, tiga, dan seterusnya."


"Jika ditanya masih bisa mengharapkan cinta dari seseorang yang kita cintai, jawabannya masih bisa. Itu hal yang wajar karena kita mempunyai hati dan perasaan. Namun, jika mengharapkan cinta dari seseorang yang sudah menikah itu tidak wajar," jelas Linda yang diakhiri dengan tatapan yang begitu dalam.


Dirasa Linda menyinggung dirinya, Aditya menjadi sangat malu karena memang semua yang dikatakan oleh Dokter Linda, benar.


"Jika tidak ada yang ditanyakan lagi, saya permisi untuk kembali bekerja. Assalamualaikum," ucap Linda yang perlahan pergi menjauh, meninggalkan Dokter Aditya yang masih memahami semua yang Linda katakan.


"Wa'alaikumsalam," jawab Aditya setelah Dokter Linda tidak lagi terlihat dari pandangan matanya.

__ADS_1


"Aku baru tahu, dia bisa sebijak ini, tapi semua yang dikatakan olehnya ada benarnya juga." Aditiya hanya perlu memahami semua yang Dokter Landa katakan.


Dengan begitu, Dokter Aditya kembali menangani pasien lainnya dan akan melihat kondisi pasien yang baru saja melewati operasi. Mungkin untuk saat ini hatinya rapuh, tapi setelah mendengar penjelasan dari Dokter Linda tadi, sedikit membuatnya lebih tenang dan tidak terlalu kelut dengan pikirannya.


__ADS_2