Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 128. Kebenarannya


__ADS_3

"Apa yang ingin Abi katakan?" tanya Almaira dengan raut wajah yang sudah sangat penasaran.


"Seharusnya Abi mengatakan ini kepada Almaira dari dulu, tapi baru sekarang Abi ingin mengatakannya kepadamu," ujar Abi Zaenal sembari menatap putri dan menantunya.


"Sebenarnya Abi dan Ayah Ahlan sudah menjodohkan kalian dari sebelumnya, tapi karena kejadian itu. Membuat Ibu Hilma mengatakannya dengan cara yang seperti itu, mendadak tanpa mempertemukan kalian berdua dulu," lanjut Abi Zainal sembari menjelaskan semuanya.


Almaira nampak membulatkan kedua matanya, bahkan Alvian saja sangat terkejut dengan kebenaran yang baru, ia ketahui selama ini.


"Apa? Jadi, selama ini kami telah dijodohkan?" tanya Alvian dengan nada yang sedikit tinggi, tapi masih rendah karena sifatnya yang tidak mudah marah.


"Iya, Nak. Ayah dan Ibumu dulu sudah rencanakan perjodohan ini dan akan mempertemukan kalian berdua, tapi rencana itu tidak terlaksana karena Ibumu sudah lebih dulu meninggalkan kami," ucap Ayah Ahlan kepada putranya.


"Setelah kami pikir-pikir, pernikahannya itu terlaksana tanpa kami duga sekali pun. Dengan begitu, Ayah dan kedua orang tua Almaira merundingkannya kembali. Setelah itu, kami sudah memutuskan untuk memberitahukannya, setelah kalian sudah saling mencintai dan tidak saling menjauh satu sama lain," lanjut Ayah Ahlan dan Alvian hanya mendengarkannya dengan seksama.


"Dan setelah Abi lihat, hubungan kalian sekarang sudah lengket dan tidak saling menjuh, bahkan dari cara Alvian menjaga Almaira saja sudah terlihat sangat mencintai dan menyayangi putri Abi. Maka dari itu, Abi memberitahukannya sekarang. Abi juga tidak mau menyembunyikan semuanya dari Almaira," ujar Abi Zaenal dan Almaira hanya tertunduk saja.


Terlihat jelas, kesedihan dari wajah Almaira dan matanya juga sudah berkaca-kaca, melihat kepada abinya.


"Mengapa baru sekarang, Abi mengatakan semuanya kepada Almaira?" tanya Almaira dengan menatap sendu kepada kedua orangtuanya.


"Maafkan Abi, Almaira." Abi Zaenal merasa sangat bersalah kepada putrinya.


"Abi tidak perlu meminta maaf, karena Abi tidak membuat kesalahan apa pun kepada Almaira," ucap Almaira karena mendapatkan permintaan maaf dari abinya.


"Almaira juga paham dengan semua yang telah Abi dan Ayah jelaskan kepadaku dan Mas Alvian. Setelah kami mengetahui kebenarannya, ada rasa tidak menyangka dan sedikit terkejut mengetahui semuanya, tapi setelah aku pikir-pikir kembali, Almaira sangat berterima kasih karena Abi telah memberikan suami serta imam yang baik untuk Almaira," lanjut Almaira dan Alvian menatapnya dengan sendu.


"Jika aku mengenal Almaira dari dulu, maka Alvian akan sangat senang dengan perjodohan ini. Mungkin kami akan saling mencintai dari hari pertama menikah, tapi Alvian sudah bersikap tidak sewajarnya kepada Almaira yang sudah menjadi istriku. Namun, sekarang Alvian sangat menyesalinya, Ayah. Dari semenjak Almaira hadir di hidup Alvian, seakan semua kebahagiaan hadir sering berjalannya pernikahan ini meskipun pada awalnya, Alvian tidak pernah menerimanya." Alvian mengatakan semuanya dengan jujur.


Ahmad dan Ilham nampak terkejut dengan penjelasan dari Alvian, adiknya Almaira sudah sangat menderita mungkin selama ini, tapi mereka berdua tidak bisa melakukan apa-apa. Terutama Ilham yang baru mengetahui kebenarannya sekarang, sama seperti Almaira dan Alvian.


"Untuk saat ini, aku sangat bahagia dan mencintai Almaira dengan penuh ketulusan. Alvian juga sangat bersyukur karena telah disatukan dengan Almaira, wanita pilihan Ibu yang sangat sempurna. Baik dari berbagai hal, bahkan untuk sekedar memilikinya saja, aku sudah sangat bahagia dan tidak mau kehilangan istriku," lanjut Alvian sembari menatap wajah istrinya.


Almaira tidak menyangka bahwa suaminya itu, akan mengatakan semuanya di depan seluruh keluarganya, bahkan ia sangat bahagia oleh pengakuan suaminya.


Alvian menggenggam kedua tangan Almaira sembari menatanya dengan pancaran mata yang sangat tulus.

__ADS_1


"Di depan kedua keluarga kita. Aku, Alvian Alvaro—suamimu, sangat menyesali perlakuannya dulu, dan akan berusaha untuk menjadi suami serta imam yang baik bagimu," kata Alvian dan semuanya sangat terharu, dengan penuturan Alvian yang tidak pernah dibayangkan oleh semua orang.


"Mas ...," ucap Almaira lirih dan langsung menerima pelukan dari suaminya.


"Maafkan aku, istriku," ujar Alvian, dengan penuh ketulusan.


"Almaira sudah memaafkan Mas dari dulu," balas Almaira dan Alvian kembali mengecup kening istrinya.


Tidak perduli dengan kedua keluarganya yang melihat kemesraan pasangan itu, mereka seakan sedang menyalurkan kasih sayang yang sangat dalam.


Melihat bagaimana cara Alvian memperlakukan Almaira, Abi Zaenal serta yang lainnya percaya bahwa Alvian sudah sangat mencintai Almaira. Lantas, mereka pun hanya tersenyum melihat pasangan itu.


"Ayah harap, kalian selalu seperti ini sampai nanti, menua bersama," ucap Ayah Ahlan dan Alvian hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Abi, maafkan Alvian karena dulu tidak memperlakukan Almaira dengan layak. Mau dihukum apa pun, Alvian tidak papa," ucap Alvian kepada Abi Zaenal.


"Iya, tidak apa, Nak. Abi sudah memaafkanmu," ujar Abi Zaenal sembari tersenyum menatap menantu serta putrinya.


"Terima kasih, Abi." Alvian pun merasa sangat lega karena bisa mengatakan semuanya kepada keluarga Almaira.


***


"Sintia?" Almaira nampak kaget dengan kedatangan Sintia, setelah pertemuan terakhirnya, lima bulan yang lalu.


"Iya, saya sudah katakan, bukan? Bahwa saya akan kembali merebut Alvian darimu," ucap Sintia dengan angkuhnya.


"Coba saja, kalau anda bisa," balas Almaira dengan santainya.


Sintia nampak kesal kepada Almaira yang selalu bersikap biasa saja, di saat bersamanya.


"Kita lihat saja, siapa yang akan menang di antara kita," ujar Sintia sembari tersenyum sinis dan pergi dari hadapannya.


Tidak lama dari itu, Alvian telah kembali dengan membawa dua botol air putih di tangannya, dan segera memberikannya kepada Almaira.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Alvian karena melihat Almaira hanya diam saja.

__ADS_1


"Tidak, Mas. Cuman tadi Sintia datang ke sini," jawab Almaira.


"Sayang, kamu tidak diapa-apain, kan sama dia?" Raut wajah Alvian berubah dan begitu sangat mengkhawatirkannya.


"Tidak, Mas. Almaira baik-baik saja," jawab Almaira sembari tersenyum simpul yang selalu Alvian lihat.


Almaira melihat kepada sebotol air yang suaminya bawa. "Ini untukku, Mas?" tanyanya dan Alvian mengangguk.


"Iya ini untukmu, sayang." Alvian pun memberikan sebotol air minum itu kepada Almaira.


Almaira menerimanya dan akan segera meminumnya, tapi seorang anak kecil tidak sengaja membuat botol airnya tumpah sehingga, ia tidak sempat meminumnya.


"Tante, maaf. Aku tidak sengaja," ucap anak itu sembari tertunduk.


Almaira hanya tersenyum dan berkata, "Tidak papa, Tante udah maafin kok, kan tidak sengaja. Coba sini, Dek," ujar Almaira dan anak kecil itu pun menuruti permintaannya.


"Tante, aku ingin mengatakan sesuatu," ucap anak kecil yang berumur lima tahun itu, dan sedang duduk di tengah-tengah Almaira dan Alvian.


"Tante, minuman yang tadi itu ada sesuatu di dalamnya," ucap anak kecil itu sembari tertunduk.


Almaira mengerutkan keningnya heran. "Siapa yang menaruhkanya, Dak?" tanyanya.


"Tante yang memakai pakaian terbuka, dan tidak seperti Tante yang pakai-pakaian panjang seperti ini," ujar anak kecil itu.


"Dia pakai-pakaian yang segini." Anak kecil itu menyimpan tangannya di atas pahanya yang kecil.


"Emm, dia memakai pakaian yang warna apa, Dek?" tanya kembali Almaira.


"Kalau enggak salah, warna hijau, Tante."


"Sintia," ucap Almaira dan Alvian langsung menatap wajah istrinya, setelah mendengar nama itu.


.


.

__ADS_1


.


Assalamualaikum.


__ADS_2