Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 21. Ingin Segera Pulang


__ADS_3

Alvian yang telah sampai dengan mamarkirkan mobilnya, berjalan memasuki perusahaan di mana tempatnya bekerja.


Kedatangan Alvian menjadi perhatian banyak orang dan karyawan yang sedang bekerja. Apalagi karyawan wanita yang sangat memuja atasannya. Dengan santainya Alvian berjalan melewati para karyawan yang melihatnya dengan kekaguman dan gembira.


"Selamat pagi, Pak." Salah seorang karyawan wanita bersuara.


"Pagi juga." Alvian menjawabnya dengan senyuman yang terus mengembang dari sudut wajahnya yang berkarisma dan tampan.


"Ahhhhh, tampannya. Aku terpesona." Para karyawan wanita bersorak gembira untuk yang pertama kalinya, atasan menyapanya.


Alvian hanya berjalan kembali dan tidak memperdulikan para karyawan wanita yang tengah memuja dirinya.


Sepeninggal Alvian, seorang karyawan pria mulai berkata, "Kalian ini cuman hal kayak gitu sudah pada rame. Memang semua wanita kayak gitu kali ya, ketika melihat pria yang tampan."


"Kamu itu kepada sih? Iya, bilang dong. Jangan bisanya bicara doang," ejek mereka yang disambut dengan tawa receh, para wanita.


"Sudah, jangan ribut-ribut! Pada kerja kembali sana. Di tegur atasan, baru tahu rasa." Salah satu ketua kryawan di sana memecah keributan.

__ADS_1


Keributan tadi sudah dapat ditangani, para karyawan pun, mulai kembali bekerja dengan sangat baik.


***


Suara ketukan pintu terdengar dari luar ruangan Alvian. Namun, tidak ada jawaban dari dalam ruangan tersebut.


Perlahan Asisten Alvian masuk membawa sebuah berkas penting yang perlu Alvian tanda tangani.


"Loh pantesan dari tadi aku ketuk pintunya tidak ada yang jawab, ternyata orangnya lagi senyum-senyum sendiri," ucap Reza di saat melihat Alvian.


"Tuh kan, baru saja di kasih tau sudah lupa saja. Ayo lagi seneng ya bos? Kelihatan ni dari wajahnya yang terlihat sangat berseri, pagi ini." Reza malah menggodanya.


"Sudahlah, ada perlu apa kemari?" Alvian mulai memasang wajah serius, dengan menanyakan langsung pada inti-nya.


Reza yang melihat Alvian mulai memasang tampang seriusnya dan tidak mau membuat atasannya marah, langsung saja Reza bicara pada inti-nya.


"Ehem. Ini Bos, saya perlu tanda tangan Bos untuk berkas ini." Reza memberikan semua berkas yang perlu di tanda tangani kepada Alvian.

__ADS_1


Setelah Alvian selesai menanda tangani semua berkas penting itu, dengan sekilas Alvian meririk asistennya.


"Reza, setelah kamu selesai dengan urusan mu. Tolong kamu atur semua jadwal pekerjaanku hari ini, dengan sangat cepat!" pinta Alvian yang secara tiba-tiba.


Reza mengerutkan keningnya sesaat, setelah mendengar perintah dari bosnya karena tidak biasanya Alvian seperti ini. Biasanya Alvian selalu santai dan tidak terburu-buru dalam pekerjaannya meskipun, ia harus pulang sampai lembur.


Alvian yang melihat Reza hanya terus terdiam dan berdiri saja, membuatnya berkata, "Kenapa terus berdiri di situ? Cepat kamu bereskan pekerjaanmu agar kamu bisa mengatur jadwalku dengan sangat cepat!"


Reza dengan sadar mengangguk patuh pada atasannya "Baik Bos! Saya akan segera kembali dengan membawa kabar baik, sesuai dengan kemauan, Bos."


Perlahan Reza mulai berjalan pergi meninggalkan ruangan Alvian, kemudian Alvian mulai tersenyum kembali, mengingat kejadian tadi, di pagi hari bersama dengan Almaira.


"Ternyata dia tidak seburuk yang aku kira. Aku telah sangat salah menilainya," gumam Alvian.


"Almaira memang wanita yang sangat cantik, sehingga membuat aku tidak pernah bisa melupakan senyuman indahnya itu," lanjutnya yang tengah membayangkan istrinya.


Alvian mulai menyandarkan punggungnya, di kursi kebanggaan miliknya. "Aku sudah tidak sabar ingin segera pulang ke rumah, untuk melihat kembali istri cantikku itu," ucapnya dengan tersenyum lebar.

__ADS_1


__ADS_2