
Almaira terdiam menatap sendu wajah suaminya. "Mas yakin?" tanyanya.
"Seratus persen Mas yakin, tidak mungkin kan, selama kita bersama tidak ada rasa yang hadir di antara kita berdua?"
"Alhamdulillah, jika Mas mempercayai Maira. Mungkin selama ini Maira juga telah merasa nyaman dengan sikap Mas yang perlahan membaik kepada Maira."
Alvian hanya terdiam sambari mengeratkan pelukannya. "Tetaplah berada di samping Mas seperti ini," pintanya.
"Sampai kapan kita seperti ini Mas? Bisa-bisa nanti Maira terlambat kerja ke rumah sakitnya."
"Biar Mas yang antar kamu, dan tolong sebentar lagi ya. Mas masih ingin memelukmu."
Almaira hanya mengangguk, dengan merasakan tubuh hangat suaminya yang menenangkan.
Sepuluh menit berlalu, Alvian dan Almaira telah siap dengan pakaiannya yang sudah rapih.
"Sayang kamu sudah siap?" tanya Alvian menatap wajah istrinya.
"Sudah Mas, ayo kita berangkat." Almaira berjalan menghampiri suaminya.
__ADS_1
Alvian dengan lembutnya menyambut tangan Almaira, dan berjalan beriringan menuju ke luar yang di mana sudah ada sebuah mobil mewah miliknya yang telah siap untuk dikendarai.
Mereka pun memasuki mobil dan mobil pun melaju menyusuri kota yang indah. Sepuluh menit kemudian, mereka telah sampai di Rumah Sakit Surya Jaya, dengan sangat hangat, Alvian mencium kening Almaira di saat Almaira akan bekerja.
Lagi-lagi Dokter Aditya melihatnya dari kejauhan.
"Mau sampai kapan kamu mengharapkannya? Sudah lupakanlah dia, masih banyak wanita lain di luar sana yang lebih baik dari Almaira," ucap teman Aditya yang bernama Putra.
"Tidak bisa, Almaira sudah menjadi wanita pertama yang mampu menggetarkan hatiku," jawab Aditya tegas.
"Itu baru Almaira yang kamu kenal, Aditya coba kamu lihat wanita lain di luar sana, pasti ada kok yang lebih dari Almaira. Tidak mungkin kan, kamu harus merebut Almaira dari suaminya? Dia sudah memiliki suami dan hidup bahagia."
"Bahkan sebuah pepatah pun berkata, 'Mencintai tidak perlu memiliki' bukannya itu sudah ramai orang ketahui?"
"Aku tidak tahu akan sampai kapan aku bisa melupakan Almaira, karena hati ini tidak mudah berpaling lagi." Aditya meletakkan tangannya tepat di hatinya berada.
"Sungguh sulit memberikan nasihat kepada orang bucin seperti lo, coba lo pikir lagi ucapan gue tadi. Jangan sampai lo merasakan sakit untuk kedua kalinya!" Putra menepuk pelan pundak Aditya, dan melenggang pergi meninggalkannya sendiri.
Hingga Almaira berjalan melewati Aditya yang tengah melamun. Almaira berhenti sejenak. "Assalamualaikum, Kak," sapa Almaira.
__ADS_1
Aditya tersentak kaget dan langsung menjawab salam dari Almaira. "Wa'alaikumsalam, Almaira."
"Kenapa Kak Aditya berada di sini?" tanya Almaira.
"Mau sampai kapan aku memendam perasaan cintaku ini terhadapmu Almaira? Meskipun kamu sudah menjadi istri dari orang lain, tetapi tetap hati ini tidak bisa melupakanmu," batin' Aditya.
"Kakak lagi nunggu teman Kakak di sini," jawab Aditya asal.
"Oh gitu ya." Almaira membuatkan mulutnya. "Kalau begitu, Maira masuk duluan ya, Kak."
"Iya silakan Maira."
Aditya menatap kepergian Almaira dengan rasa yang sangat sakit untuk menghilangkan perasaannya yang tidak baik-baik saja, Aditya memilih masuk ke ruangannya dan menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
Namun, Aditya dikagetkan oleh sebuah pesan singkat yang masuk kedalam ponselnya, dan pesan itu berisikan.
Kamu harus tahu bahwa Almaira dan Alvian menikah, bukan dari landasan cinta.
Aditya terdiam setelah membaca pesan masuk itu yang nomornya pun tidak ia kenal. Entah siapa yang mengirimkan pesan itu, tapi yang pasti, orang itu ada sangkut pautnya dengan Almaira dan Alvian.
__ADS_1