
Diam-diam Reza mencuri pandang dari Fatimah yang terus menghindar saat bertemu dengan tatapan matanya. Dan benar saja, keluarga Abi Zaienal sangat ramah sehingga membuatnya nyaman berada di rumahnya.
Setelah ikut makan siang bersama keluarga Abi Zaienal, lantas Reza pun berbincang bersama dengan Alvian di ruang tamu sambil membicarakan perihal pekerjaan di perusahaan.
Dua jam berlalu dan Reza memilih pulang karena waktu sudah mulai sore, takutnya ia sampai ke rumahnya larut malam. Oleh karena itu, Reza berpamitan untuk meminta ijin kepada tuan rumah karena ia hendak pulang.
Awalnya Ummi Siti sudah meminta Reza untuk menginap saja, tetapi Reza malah menolaknya dengan halus. Sebenarnya ia sangat tidak enak terhadap keluarga Abi Zaienal yang sudah begitu baik terhadapnya.
Namun sebelum itu, Reza sempat meminta ijin untuk ke kamar mandi dan kebetulan Fatimah berada di dapur yang di mana, tempatnya tidak jauh dari kamar mandi.
"Ini untuk mu, bacalah! Dan coba pikirkan kembali untuk menjawabnya," ucap Reza saat menghampiri Fatimah sembari menyodorkan sebuah kertas yang entah apa isinya.
Fatimah kaget dan tidak percaya dengan pemuda yang ada di dekatnya ini. Setelah terdiam untuk sesaat, gadis itu memberanikan dirinya untuk menerima sepenggal kertas yang disodorkan oleh pemuda tersebut.
Reza pun tersenyum simpul, dan sebelum ada anggota keluarga yang datang dan melihatnya. Reza buru-buru pergi dari hadapan Fatimah meskipun begitu, ia masih ingin mengatakan sesuatu kepada gadis pembawa rindunya.
Kedatangan Reza yang begitu mendadak membuat Fatimah begitu terkejut dan apa yang diberikannya, sangat di luar dugaan.
Setelah kepergian Reza dari rumah kediaman Abi Zaenal, beserta keluarganya. Gadis yang bernama Fatimah itu terdiam di dalam kamar seraya menatap sepenggal kertas yang sempat pemuda itu berikan.
Perlahan tangan indah milik gadis itu membuka sedikit kertas tersebut. Namun, baru saja Fatimah ingin membukanya. Almaira datang ke dalam kamarnya dengan membawakan sebuah kotak.
"Dek," panggil Almaira. Tersirat sebuah kegembiraan dari wajahnya yang cantik.
"I--iya, Kak. Tunggu sebentar," jawab Fatimah sembari menyembunyikan sepenggal kertas yang sempat ia pegang.
"Iya Kak, ada apa?" tanya Fatimah di kala Almaira berada di sampingnya.
"Ini Dek, Kak Maira bawa sesuatu." Almaira memberikan sebungkus kotak yang dibawanya kepada sang adik.
__ADS_1
"Ini apa Kak," tanya Fatimah yang penasaran. Sedangkan Almaira hanya tersenyum simpul menanggapinya.
"Buka saja, entar juga kamu tahu isinya," jawab Almaira dengan tersenyum.
Mendengar itu, langsung saja Fatimah membuka kotak yang Almaira berikan kepadanya. Tidak disangka, Fatimah begitu terharu setelah melihat isi kotak yang diberikan oleh kakaknya.
"Gimana, suka enggak, Dek?" tanya Almaira. Lantas gadis itupun mengangguk haru.
"Ya, ini sangat indah dan Imah sangat menyukainya," jawab Fatimah yang tidak henti-hentinya menatap kotak pemberian dari Almaira.
Di dalamnya terdapat sebuah bingkai foto keluarga dan baju gamis serta hijabnya yang terlihat begitu indah. Syukurlah Fatimah suka dengan barang pemberiannya, sangat indah bukan? Begitulah menurut Fatimah.
"Alhamdulillah jika Imah suka," imbuh Almaira dengan menampilkan senyuman indahnya.
"Terimakasih, Kak Maira. Insya allah, Imah akan menjaganya," tutur Fatimah soraya memeluk tubuh Almaira dengan sangat gembira.
"Dek, Kak Maira mau ke luar dulu karena masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan," ucap Almaira di saat melerai pelukannya.
Fatimah mengangguk. "Iya Kak," jawabnya menyetujui apa yang kakaknya ucapkan.
Setelah itu Almaira pun meninggalkan kamar Fatimah, dengan segera gadis itu menutup pintu kamarnya dan langsung kembali ke tempat tidurnya. Sedari tadi rasa penasaran telah menyelimuti hatinya, tangannya mulai kembali membuka kertas yang Reza berikan kepadanya.
Terlihatlah goresan pena yang begitu indah dan dihiasi oleh gambar gelang berinisial F, yang merupakan gelang tangannya sendiri. Dengan keberaniannya, Fatimah mulai membaca isi dari sepenggal kertas tersebut sampai selesai.
Jantungnya tiba-tiba berdetak begitu kencang, rasanya ia tidak mempercayainya. Rangkaian kata itu begitu menggetarkan hati sang gadis yang kini sudah terikat tali pertunangan dengan pemuda lain.
"Bagaimana bisa? Ini tidak mungkin!" sengkal Fatimah yang tidak menyangka, apapun yang telah ia lihat dan baca.
Fatimah terlihat begitu kebingungan, dan jawaban apa yang harus ia berikan nantinya kepada pemuda itu. Di dalam kertas itu, Reza telah menceritakan semuanya dari awal ia mengenal Fatimah sampai saat ini.
__ADS_1
Sekarang Fatimah telah mengetahui semuanya, dan bagaimana tanggapannya atas lontaran kata yang ditulis oleh pemuda tersebut? Untuk sekarang, Fatimah hanya bisa meminta bantuan kepada Allah SWT atas semua keganjalan yang masih ia rasakan sampai saat ini.
Fatimah tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapapun, ia lebih memilih diam dulu. Bahkan seluruh keluarganya belum ada yang tahu masalah ini.
Bagi Fatimah ini sangat sulit, dalam waktu tiga hari, ia akan segera dinikahi oleh seorang pemuda yang bernama Fahmi, sedangkan ada lagi pemuda yang secara tiba-tiba datang dan menggetarkan hatinya.
Sudah beberapa kali Fatimah melakukan salat istikharah dan ia belum mendapatkan jawabannya. Ia hanya bisa berdoa, sebelum waktunya tiba. Dia bisa dipertemukan dengan laki-laki yang tepat.
Di tatapnya kertas tersebut. Namun hanya sebentar, kemudian Fatimah menyimpan kembali kertas pemberian dari Reza dan pergi meninggalkan kamarnya.
Di dapur, terlihat Ummi Siti dan Almaira yang tengah mencuci piring. Dengan begitu, Fatimah langsung saja menghampirinya.
"Mi, biar Imah saja," pinta Fatimah dan jangan lupakan senyumannya. Senyuman indah itu selalu gadis itu perlihatkan walaupun, ia tidak baik-baik saja.
"Eh, jangan! Imah istirahat saja. Biar Ummi yang bereskan," jawab Ummi Siti yang tidak membolehkan Fatimah melakukan kegiatannya.
"Tidak apa, Mi. Ummi sama Kak Maira bisa istirahat, ini biar Imah bereskan. Kalian berdua pasti sudah sangat capek karena terlalu banyak yang dikerjakan," ujar Fatimah dengan lembutnya mengambil alih pekerjaan Ummi Siti.
"Baiklah, kalau begitu mau mu. Ummi sama Almaira pergi dulu," ucap Ummi Siti yang mengalah karena putrinya sudah bersikeras untuk membantunya.
Fatimah mengangguk. "Iya Mi," ucapanya sembari melanjutkan kembali kegiatannya.
Saat meninggalkan dapur, Almaira mulai menanyakan sesuatu kepada umminya. "Mi, kenapa sekarang ini, Dek Fatimah terlihat sangat murung dan sedikit menyendiri?" tanya Almaira yang menyadari perubahan adiknya.
Ummi Siti terdiam sebentar. "Ummi juga tidak tahu Maira, mungkin Fatimah tengah mempersiapkan diri karena sebentar lagi Fahmi akan meminangnya," jawab Ummi Siti yang masih berpikir positif terhadap perubahan putrinya.
"Iya ... mungkin karena itu Fatimah sering menyendiri," ujar Almaira yang ikut mempercayai ucapan umminya, sehingga pikiran buruk tidak menguasai pikirkannya.
Mereka berdua pun melanjutkan kembali langkahnya. Ummi Siti memilih ke ruang tamu menemui suaminya, sedangkan Almaira pergi ke kamarnya karena lelah. Almaira perlu istirahat, apalagi kandungannya masih sangat muda dan mudah kecapean. Jadi, Almaira perlu istirahat yang cukup untuk saat ini.
__ADS_1