
Mobil Alvian telah terparkir sempurna di garasi dan Alvian pun segera masuk ke dalam rumah. Namun Alvian heran, kali ini Almaira tidak menyambut kepulangannya. Tidak seperti biasanya loh Almaira seperti itu. Akan tetapi, Alvian lebih berpikir positif saja, mungkin istrinya itu sedang melaksanakan salat jadi tidak menyambutnya.
Dengan langkah yang lebar, Alvian menaiki anak tangga dan tepat di pintu kamar dirinya dan Almaira. Remang-remang terdengar suara merdu Almaira yang tengah melentunkan ayat suci al-qur'an, lantas Alvian pun langsung masuk ke dalam kamar dengan mengucapkan salam. "Assalamualaikum."
Mendengar pintu kamar dibuka dan ucapan salam dari suara yang amat Almaira nantikan, membuat Almaira menoleh ke belakang dan benar, dia adalah Alvian—suaminya.
"Wa'alaikumsalam, Mas sudah pulang?" tanya Almaira sembari menutup al-qur'an yang barusan ia baca, dan di letakan ke tempatnya kembali, dengan segera menghampiri suaminya.
Terlihat wajah Alvian yang kelelahan, sehingga Alvian hanya menjawabnya dengan anggukan kepala saja.
"Mas, maaf barusan Maira enggak nyambut Mas," ujar Almaira yang takut membuat suaminya kecewa.
"Tidak apa-apa, lagian Mas tadi denger suara kamu melentunkan ayat suci al-qur'an dengan sangat merdu."
Lantas Almaira tersenyum, suaminya itu selalu bisa membuatnya tidak merasa bersalah.
__ADS_1
"Sayang, Mas mau bersihin dulu tubuh Mas yang lengket ini yah," ucap Alvian, sembari melepaskan jas yang melekat dari tubuhnya.
"Sini, biar Maira bantuin Mas," ujar Almaira karena melihat suaminya yang kecapean sehingga membuat Almaira tidak tega, kalau tidak membatunya.
Alvian tersenyum kepada Almaira, sembari menatap wajah cantiknya yang amat ia rindukan. Wajah Almaira terlihat begitu teduh dan enak di pandang, sehingga membuat Alvian engan berpaling kepada siapapun.
Setelah Almaira selesai membantu suaminya, Almaira bergegas kembali untuk melepaskan mukena yang masih ia kenakan. Tidak lupa, Almaira juga menyiapkan baju ganti untuk suaminya.
***
Melihat itu Almaira menjadi iba, Alvian pasti sangat lelah yang terus bekerja tanpa henti untuk menafkahinya, tapi Almaira belum bisa memberikan sesuatu yang membuat Alvian bahagia.
Lama termenung, akhirnya terlintas sebuah ide yang mampu membuat Alvian tidak banyak pikiran. Mungkin ini sudah waktunya bagi Almaira untuk memberikan sesuatu yang paling berharganya kepada yang berhak atas dirinya. Skip~ mohon dimaafkan yah.
...****************...
__ADS_1
Siar bulan terpancar indah, membuat seluruh orang tertidur nyenyak. Seorang wanita berjalan mengelilingi tempat yang begitu indah, tanamannya tertata dengan rapih, berbagai tanaman yang terawat, dan pemandangan yang begitu indah.
Lama berkeliling, sampai saat ini ia belum mengetahui tempatnya. Pada akhirnya Almaira termenung dan duduk di sebuah kursi yang ada di sana, sembari menatap pemandangan yang begitu indah.
Seorang anak laki-laki berlari ke arahnya, sehingga membuat Almaira gembira. Anak laki-laki itu terus berjalan mendekatinya soraya tersenyum lembut kepadanya. Tanpa perijinan dari Almaira, anak itu memeluknya dengan begitu erat, tersirat rasa kelembutan dan kasih sayang seorang ibu pada diri Almaira. Anak laki-laki itu begitu tampan, wajahnya putih, hidungnya mancung, dan hampir menyerupai Alvian.
Tanpa sadar Almaira terhanyut dalam kelembutan anak itu yang memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Namun, di saat Almaira membuka kedua matanya. Anak laki-laki itu sudah tidak ada, entah kemana perginya. Almaira begitu heran, seketika Almaira terperanjat kaget karena ada sebuah tangan yang memegang pundaknya. Di saat ia berbalik, Almaira menemukan suaminya yang tengah berdiri di belakangnya. Almaira tidak bisa mengatakan apa-apa dan langsung saja memeluk tubuh suaminya.
Pada akhirnya, Almaira terbangun di tengah malam. Perlahan kedua kelopak matanya, terbuka. Melihat sekelilingnya yang jauh berbeda dengan tempat yang sebelumnya ia hinggapi. Di sampingnya ada Alvian yang tengah tertidur pulas, lantas Almaira tersenyum melihatnya.
"Ternyata yang tadi itu mimipi, andai itu nyata. Maira pasti akan bahagia. Anak laki-laki itu sangat mirip dengan mu, Mas. Ia begitu tampan. Wajahnya berseri memeluk Maira dan menghilang begitu saja," gumam Almaira sembari mengelus lembut wajah suaminya yang masih tertidur pulas.
Lantas Almaira pun kembali, membaringkan tubuhnya di samping suaminya sembari menatap wajah suaminya dan tanpa terasa, ia pun kembali terlelap dengan begitu nyaman.
Mimpi yang Almaira alami, sangatlah indah. Seakan mimpi itu nyata dan Almaira memeluk anak laki-laki itu dengan penuh kasih sayang, tanpa di sadari olehnya, kejadian itu hanyalah mimpi.
__ADS_1