
Setelah melaksanan salat ashar, Fatimah dan Nisa bergegas pulang ke Pesantren Ar-Rasyid. Sesampainya mereka berdua dipondok, sudah disambut oleh Ummi Siti dengan wajah cemasnya.
"Fatimah, kok lama banget pergi ke luarnya? Tidak terjadi apa-apakan?" tanya Ummi Siti, khawatir.
"Tidak apa-apa kok Mi, Imah dan Nisa mampir dulu ke masjid jadi pulangnya kesorean," ucap Fatimah dengan sedikit menampakkan senyumannya.
"Oh, gitu yah. Ya sudah enggak papa yang penting kalian berdua tidak kenapa-kenapa, Ummi sangat khawatir sama kalian dari tadi," ucap Ummi Siti sembari mengajak putrinya masuk kedalam rumah, sedangkan Nisa kembali ke dalam pondok perempuan.
"Fatimah, sini sebentar. Abi mau nanya sesuatu kepadamu, Nak." Abi Zaenal mengajak putrinya untuk duduk di sampingnya.
Fatimah mengangguk dan duduk disamping Abi Zaenal dengan tertunduk. Setelah putrinya berada disampingnya, lantas membuat Abi Zaenal sedikit tersenyum.
"Besok, Fahmi dan kedua orang tuanya akan datang kemari untuk menentukan tanggal pernikahan kalian," ucap Abi Zaenal dengan menatap sendu wajah putrinya.
Seketika Fatimah terdiam dan sedikit kaget dengan penuturan Abinya.
"Bukanya akan dibicarakan nanti yah, Bi. Sebulan lagi," ucap Fatimah yang terlihat lemes.
"Iya ... tadinya mau dibicarakan sebulan lagi, tapi kedua orang tua Fahmi mempercepatnya karena mereka menginginkan putranya segera menikahi Imah," jawab Abi Zaenal sedikit gembira. Memang ini terlalu cepat, tapi ini juga kemauan Abi Zaenal untuk segera menikahkan putrinya dengan putra sahabatnya.
Fatimah hanya diam tidak menjawab, bahkan Abi Zaenal melihat sikap putrinya yang berbeda. Akan tetapi, ia tidak menghiraukannya.
"Abi tahu, mungkin ini terlalu cepat bagi Imah untuk menerimanya. Namun, percayalah ... Abi melakukan semua ini demi kebaikan Imah," tutur Abi Zaenal sembari menatap wajah putrinya yang hanya menunduk.
__ADS_1
"Imah sudah paham dengan maksud dari perkataan Abi barusan, maka dari itu. Imah tidak akan mengeluh apapun kepada Abi," balas Fatimah sembari menatap wajah damai Abi Zaenal.
"Baiklah jika Fatimah tidak keberatan, Abi sungguh behagia. Walaupun demikian, Abi tidak akan memaksa Imah untuk semua ini." Abi Zaenal bermaksud dengan tidak akan melarang putrinya untuk menentukan pilihannya.
"Tapi tunggu! Gelang Fatimah kemana, kok enggak dipakai lagi?" tanya Abi Zaenal saat melihat tangan putrinya yang polos.
"Ma--maaf, Bi. Fatimah telah menghilangkan gelang pemberian dari Abi," tutur Fatimah yang merasa bersalah. Gadis itu tidak berani lagi menatap wajah Abinya karena rasa bersalah yang ia rasakan.
Abi Zaenal tersenyum. "Tidak papa, Abi tidak akan marah. Jadi, jangan menunduk terus," ucap Abi Zaenal yang tidak tega melihat putrinya murung karena rasa bersalahnya.
"Abi tidak marah sama Imah, kan? Imah juga enggak tahu hilangnya gimana, tahu-tahu hilang aja gitu. Padahal, Fatimah tidak pernah melepaskannya," tutur Fatimah dengan tidak sedikitpun berbohong.
"Sudah yah, jangan sedih lagi. Kan, Abi udah bilang. Enggak akan marah sama Fatimah," ucap Abi dengan mencoba menenangkan putrinya yang ternyata, takut ia marah.
"Itu hanyalah benda dan bisa dibeli kembali. Maka dari itu, Abi tidak akan marah sama Fatimah. Kasih sayang Abi, tidak akan hilang begitu saja dan tidak seperti halnya gelang. Jika sudah hilang gelangnya, maka pudar juga keindahannya, lain halnya dengan rasa sayang. Tiada orangnya, tetapi masih bisa dikenang dan diingat dan kenangannya tidak akan hilang walaupun ia sudah tiada," tutur Abi Zaenal sembari mengusap kepala putrinya.
Penuturan Abi Zaenal membuat haru, dan Fatimah sangat paham dengan ucapan Abinya. Tidak akan ada seorang Ayah yang tidak sayang sama putrinya, meskipun sudah melakukan kesalahan. Tetap, orang tua akan memaafkannya, walaupun kesalahannya sangat patal.
...****************...
Di kediaman Fahmi, terlihat tidak baik karena ada kegaduhan di dalamnya. Mereka sedang mempermasalahkan pernikahan Fahmi dan Fatimah yang sengaja di percepat karena kemauan dari kedua orang tua Fahmi.
"Enggak bisa kayak gitu, Bi! Fahmi enggak setuju dengan keputusan Abi dan Ummi," ucap Fahmi yang tidak terima dengan keputusan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Apa yang enggak bisa? Itu bisa saja. Lagian kamu udah bertunangan, wajar saja jika Abi mempercepat proses pernikahan mu dengan Fatimah," jawab Salman yang merupakan Ayah dari Fahmi.
"Itu terlalu cepat untuk Fahmi, Bi. Fahmi belum mengenal sosok Fatimah itu, tapi Abi sudah mempercepat proses pernikahannya. Bagaimana nantinya, kalau sudah menikah? Jika kenal saja enggak," tutur Fahmi yang bersikeras menentang keputusan kedua orang tuanya.
"Nanti, setelah hidup bersama kalian akan saling kenal. Seiring berjalannya waktu, kamu akan mengenalnya dan mencintainya. Abi yakin, Fatimah bukanlah wanita sembarangan," ucap Salman dengan memberikan pengertian agar putranya bisa luluh, dan tidak bersikeras menentangnya lagi.
"Baiklah, Fahmi akan setuju dengan keputusan Abi. Akan tetapi, Fahmi tidak akan menikahi Fatimah. Fahmi hanya ingin menikah dengan Almaira!" tegas Fahmi. Entah apa yang dipikirkannya sekarang, sampai-sampai ia ingin menikahi Almaira.
"Apaan, kamu ini. Sadar Mi, Almaira sudah menikah dan tidak mungkin untuk kamu menikahinya." Salman terlihat marah, bagaimana bisa putranya ini berpikiran seperti itu.
"Fahmi sadar ini salah, tapi Fahmi sudah menaruh hati sama Almaira. Dari awal, Fahmi kira Fatimah itu Almaira dan Fahmi menerima tawaran Abi yang mau menjodohkan Fahmi dengan salah satu putri dari Abi Zaenal. Namun nyatanya, bukan Almaira yang Abi jodohkan sama Fahmi," tutur Fahmi soraya tertunduk lemas karena mengatakan kebenaran yang selama ini, ia pendam.
"Kenapa baru sekarang kamu mengatakannya, Mi? Kalau kamu maunya sama Almaira. Sekarang sudah terlambat, kamu hanya bisa menerima. Abi yakin, Fatimah tidak akan jauh beda dengan Almaira, cobalah membuka hati untuknya," ucap Salman. Awalnya dia kaget dengan penuturan putranya, tapi harus bagaimana lagi jika orang yang putranya cintai sudah menikah.
"Tidak tahu kapan, Fahmi bisa menyukai Fatimah karena untuk sekarang, mungkin belum bisa," ucap Fahmi dengan lemahnya.
"Cobalah dulu mengenalinya, sebelum kamu mencobanya maka kamu tidak akan pernah menerima kehadirannya," tutur Salman pada putranya. Fahmi hanya diam mendengarkan penuturan dari Abinya.
"Tidak ada salahnya bukan kalau mencoba? Abi yakin, Fatimah tidak akan jauh beda dengan Almaira," lanjut Salman menekankan putranya untuk mencoba menerima calon istrinya.
"Benar Mi, cobalah dulu saran dari Abi." Ummi Kulsum mendukung penuh saran dari suaminya.
"Tapi Mi ...," ucapan Fahmi terpotong karena Umminya melarang keras ia untuk tidak melawan kepada kedua orang tuannya.
__ADS_1
"Keputusan Abi sudah bulat, kamu tidak bisa menyengkalnya lagi. Abi akan tetap menikahkan mu dengan putri bungsu Zaenal yang merupakan Fatimah," sanggah Salman yang dimana keputusannya sudah bulat. Tidak bisa di ubah lagi, Fahmi hanya bisa menerima keputusan Abinya dengan perasaan yang tidak karuan.