Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 87. Keputusan Fahmi


__ADS_3

Sedangkan di rumah besar milik Tuan Arya, jauh sebelum Fahmi memutuskan untuk membatalkan pernikahannya bersama Fatimah. Keadaan saat itu sungguh menegangkan, kedua orang tua Fahmi merasa kecewa dengan apa yang dilakukan putranya.


Dengan beraninya, Fahmi memutuskan hubungan untuk tidak menikahi Fatimah, sedangkan ini sudah jenjang dari akhir keseriusan. Kecewa, marah dan kesal bercampur menjadi satu. Bahkan untuk saat ini, Tuan Arya sangat marah terhadap putranya.


Flashback


Dua puluh menit sebelum akad pernikahan yang sudah dijanjikan.Tuan Arya mendatangi kamar putranya karena sebentar lagi ia akan berangkat ke rumah Abi Zaenal. Namun, hal yang tidak terduga malah terjadi begitu saja.


"Abi, Fahmi tidak mau menikahi Fatimah. Kenapa Ayah sangat memaksa?" ujar Fahmi yang tersulut emosi. Terlihat wajah tidak senang dari pria itu, bahkan Fahmi tidak mengenakan pakaian pengantinnya yang seharusnya ia kenakan.


"Ayah tidak mau mendengar alasan apapun dari kamu! Semua ini Ayah lakukan untuk kebaikan kamu juga," jawab Arya dengan sedikit penegasan supaya putranya dapat memahami apa yang ia katakan.


"Tapi, Fahmi tidak mencintainya. Ayah tahu bukan jika cinta itu tidak bisa dipaksakan," ucap Fahmi dengan nada yang tidak mengenakan.


"Ya, Ayah tahu itu. Akan tetapi, cinta bisa datang seiring berjalannya waktu. Ayah yakin setelah kamu menikahi Fatimah, kamu akan bisa melupakan perasaan cintamu terhadap Almaira dan mencintai Fatimah." Merasa sangat kesal, Arya sampai mengatakan begitu karena dari awal Fahmi sering mengungkit-ungkit masalah cinta.


"Ayah bisa mengatakan itu karena Ayah tidak merasakan apa yang Fahmi rasakan. Untuk itu, Fahmi akan tetap membatalkan pernikahan ini walaupun Ayah sangat menginginkannya," tekad Fahmi sudah bulat. Untuk itu, Fahmi tidak akan mengubah keputusannya.


"Bagaimana bisa kamu membatalkan pernikahan ini? Coba kamu pikirkan, sekarang ini di rumah Abi Zaenal sudah banyak orang yang menunggu kedatangan kita. Akan tetapi, lihatlah apa yang kamu lakukan. Sungguh memalukan," cibir Arya yang merasa anaknya itu sangat bodoh karena menyia-nyiakan wanita seperti Fatimah.


"Ya, Fahmi tahu itu. Akan tetapi, semua itu tidak akan mengubah keputusanku," ketus Fahmi yang seakan-akan tidak perduli dengan apa yang akan terjadi kedepannya.


"Apa kamu tidak memikirkan keluarga Abi Zaenal jika nantinya kamu membatalkan pernikahan ini? Mereka akan sangat malu, bukan hanya mereka. Akan tetapi, keluarga kita juga akan dipandang buruk dihadapan semua orang." Tuan Arya sudah sangat kesal kepada putranya yang memutuskan sesuatu tanpa memikirkan akibat dari apa yang diperbuatnya.


"Jika Ayah terus memaksa Fahmi untuk tetap menikahi Fatimah, maka aku tidak akan segan-segan menikahi wanita lain!" Entah apa yang ada dipikiran Fahmi saat ini, perkataanya sungguh tidak ada yang benar.

__ADS_1


"Apa kamu akan memadu Fatimah? Belum saja kamu menikahinya, kamu sudah berpikiran begitu. Fahmi, sadarlah semua ini tidak ada benarnya," imbuh Arya yang sudah kesal dengan sikap kekanak-kanakan Fahmi. Seakan semua ini mudah, padahal sebenarnya semua ini susah.


"Apa yang salah dengan ini? Bukanya dalam islam laki-laki diperbolehkan untuk menikahi perempuan lebih dari satu?" kata Fahmi yang seakan-akan mengangap pernikahan ini, bagaikan permainan.


"Kamu tahu itu, tapi kamu jangan buat pernikahan ini sebagai ajang permainan yang bisa kamu arahankan sesuai kemauan mu sendiri. Pernikahan itu ikatan yang suci, jangan coba-coba mempermainkannya," jelas Arya yang sudah lelah memberikan masukan kepada putranya yang keras kepala.


"Ya, semua itu benar. Maka dari itu, Ayah juga jangan mempermainkan hati orang lain. Bagaimana jika nantinya Fahmi jadi menikahi Fatimah, tatapi Fahmi tidak bisa mencintainya karena hati Fahmi masih milik Almaira? Maka hatinya akan terluka, lebih baik pernikahan ini jangan dilanjutkan jika nantinya hanya menyakiti saja." Fahmi mengeluarkan unek-unek yang ada dipikirannya, sampai-sampai ayahnya dibuat bungkam dengan semua kata-katanya.


Tidak lama dari itu Widia datang ke dalam kamar Fahmi karena tidak sengaja mendengarkann perselisihan antara anak dan suaminya.


"Ada apa ini?" tanya Widia dengan atensi yang menandakan kebingungan. Mendengar suaranya, Fahmi dan Arya pun menoloh ke arahnya.


"Mamih, tanya saja sama Ayah. Fahmi sudah males untuk menjawabnya," ujar Fahmi dengan wajah santainya yang seakan ayahnya lah yang menjadi objek pertama.


Lantas Widia menatap wajah suaminya. "Apa yang terjadi, Yah?"


"Apa? Ini tidak mungkin. Pernikahannya akan dilangsungkan sekarang. Fahmi, jangan main-main, Nak." Widia terlihat sangat marah dan kecewa seperti Arya, dikala mendengar keputusan putranya.


"Enggak, Mih. Semua ini bukan main-main, Fahmi sudah memikirkannya dengan sangat matang," balas Fahmi dengan santainya.


"Enggak bisa gitu, Mi. Semua sudah terlambat, mau tidak mau kamu harus tetap menikahi Fatimah!" tegas Widia yang masih mengangap perkataan anaknya itu sebagai lolucon.


"Kalian berdua memang sama, tidak tahu perasaan Fahmi. Kalian cuman bisa memaksa tanpa tahu perasaan putranya yang masih labil dalam berpikir," tutur Fahmi yang merasakan, bahwa apa yang dilakukan kedua orang tuanya itu sangat tidak adil.


"Fahmi punya hati dan aku juga berhak untuk memilih wanita mana yang akan menjadi istriku. Maka dari itu, Mamih jangan memaksa Fahmi untuk tetap menikahi Fatimah karena Fahmi tidak mencintainya." Sudah cukup Fahmi tidak mau lagi berdebat dengan kedua orang tuanya, dengan begitu ia menjelaskan perasaannya selama ini.

__ADS_1


Untuk saat ini, Widia sudah sangat kecewa dan marah terhadap putranya. Akan tetapi, ia juga sadar akan kesalahannya yang terlalu mendesak Fahmi dalam semua ini.


"Jika kamu menolak untuk menikahi Fatimah, maka kamu akan menikah dengan siapa?" tanya Arya yang sudah putus asa, terhadap sikap keras kepala putarannya.


"Almaira," jawabnya dengan yakin. Karena itu, Fahmi memilih untuk membatalkan pernikahannya.


Widia dan Arya membulatkan kedua bola matanya karena merasa kaget dengan jawaban dari putranya. "Apa kamu ini sudah lupa? Almaira sudah menikah dan mempunyai suami, kamu tidak bisa memilikinya." Arya sudah tidak tahan dengan sikap Fahmi yang menurutnya tidak masuk akal.


"Fahmi tidak lupa, tetapi hati ini hanya untuk Almaira dan belum ada yang bisa menggantikannya," ucap Fahmi dengan entengnya.


"Jika tetep begitu, Ayah akan tetap melanjutkan pernikahan mu dengan Fatimah," tegas Arya. Ia merasa, bahwa Fahmi sudah terlena dengan cinta yang akan membuatnya terobsesi untuk mendapatkan Almaira. Maka dari itu, Arya mencoba mencegahnya dengan melanjutkan kembali pernikahan putranya.


"Tidak! Fahmi tidak mau," jawab Fahmi dengan memohon kepada ayahnya karena Fahmi tahu jika ayahnya sudah mengambil keputusan pasti akan sulit untuk dibatalkan.


"Fahmi akan menikah, tapi tidak dengan Fatimah," ucapanya karena sudah tidak ada lagi pilihan lain.


"Lalu dengan siapa kamu akan menikah?" tanya Widia yang sudah kecewa dengan semua perlakuan Fahmi.


"Nisa," jawab Fahmi yang dimana membuat Tuan Arya melotot, tidak percaya.


"Apa kamu yakin?" ucap Arya yang sebenarnya tidak yakin.


"Ya, Fahmi akan menikahi Nisa." terang Fahmi yang sudah tidak berdaya.


"Baiklah, Ayah akan segera mengabari Abi Zaenal." Sudah tidak ada pilihan lain lagi, dengan terpaksa Arya membatalkan pernikahan putranya dengan Fatimah.

__ADS_1


Setelah perdebatan itu, Arya pun hanya bisa menyesal dan meminta maaf kepada keluarga Abi Zaenal karena keras kepala putranya.



__ADS_2