
Suara adzan subuh berkumandang indah, tidak jauh dari kawasan rumahnya. Senyup-senyup Nisa mendengar suara adzan subuh, dengan begitu ia pun terbangun dari tidurnya yang begitu nyaman sehingga membuatnya susah untuk beranjak dari tempat tidurnya.
Sangat dingin, tapi Nisa tidak menghiraukannya dan beranjak dari tempat tidur untuk mengambil air wudhu. Tidak lupa juga Nisa membangunkan suaminya yang masih terlelap.
"Mas bangun! Sudah masuk waktu subuh," ucap Almaira dengan suara yang sedikit keras.
Hening tidak ada jawaban sedikitpun, Fahmi tidak merespon ucapannya karena masih tertidur nyenyak. Dengan begitu, Nisa tidak punya pilihan lain selain menyentuh tangan suaminya supaya terbangun.
"Mas, bangun!" ucap Nisa sekali lagi dan kali ini ia mendapat respon dari suaminya.
"Apaan sih, berisik banget!" kata Fahmi yang tidak menyukai seseorang yang telah mengganggu tidur nyenyaknya.
"Bingun Mas! sudah subuh, Mas salat subuh dulu," ujar Nisa dengan sedikit mendekati suaminya.
"Masih dingin banget, sudah nanti saja. Aku masih ingin tidur," sengkal Fahmi yang kembali menarik selimutnya sebatas bahu.
"Aku cuma mengingatkan Mas untuk melaksanakan salat subuh. Mas masih ingat perkataanku semalam, bukan? Jika masih ingat, cobalah pahami sehingga aku tidak perlu lagi mengulanginya kembali."
Mendengar penuturan dari istrinya, Fahmi kembali mengingat kejadian semalam dan apa yang istrinya katakan. Setelah mengingatnya kembali, Fahmi langsung tertegun dan mengusap wajahnya dengan keadaan kesal.
Dengan penuh keberanian, Fahmi menghadang Nisa yang ingin pergi. Riflek Nisa tersedak kaget dengan perlakuan suaminya yang tanpa aba-aba menarik tangannya.
Atensi mata keduanya bertemu dan tatapan Fahmi begitu dalam kepada Nisa. "Jangan coba-coba mengajariku!" tegas Fahmi yang sudah dipenuhi kekesalan di dalam dirinya.
__ADS_1
"Aku tidak mengajari, tapi aku mengingatkan. Tidak ada salahnya jika aku mengingatkan suami sendiri atas kewajibannya," ucap Nisa tanpa rasa takut sedikitpun.
Untuk itu, Fahmi dibuat bungkam oleh ucapan istrinya dan tidak bisa mengatakan apapun lagi. Nisa paham betul keadaan suaminya saat ini, dengan begitu ia memilih pergi ke kamar mandi untuk kembali mengambil air wudhu karena sempat bersentuhan dengan suaminya. Sengaja Nisa meninggalkan Fahmi begitu saja supaya suaminya itu bisa memikirkan kembali semua perkataannya.
Namun, bila Nisa tidak bertindak seperti itu. Fahmi tidak akan merubah dirinya dan akan tetap keras kepala. Maka dari itu, Nisa berusaha sebaik mungkin untuk mengurangi rasa egois dan keras kepala suaminya.
Kepergian Nisa dari hadapannya membuat Fahmi terdiam dan termenung memikirkan Nisa yang begitu jauh berbeda, dari sebelum ia mengenalnya. Awalnya Fahmi pikir setelah menikahi Nisa, ia akan terbebas untuk melakukan apapun, termasuk menikahi wanita pujaan hatinya, Almaira. Akan tetapi, semua yang Fahmi pikiran dan rencanakan tidak sesuai harapan.
Setelah Nisa keluar dari kamar mandi, Fahmi pun tidak hanya diam ia langsung mengambil air wudhu karena tidak mau kalah dari Nisa, sedangkan Nisa hanya tersenyum saja melihat suaminya yang mulai sedikit meninggalkan kebiasaannya.
Untuk yang kedua kalinya, Fahmi kembali melaksanakan salat berjamaah bersama istrinya. Namun, di saat Nisa mencium punggung tangannya, Fahmi tidak mencium kening istrinya karena egonya yang begitu besar. Sebenarnya jika Fahmi jujur, perasaannya saat ini seakan terhanyut dan tersentuh dikala Nisa mencium punggung tangannya. Akan tetapi, Fahmi menyengkalnya jauh-jauh perasaan itu. Bagaimanapun dihatinya masih tersimpan nama Almaira dan belum bisa tergantikan oleh siapapun.
Nisa yang tahu betul sikap angkuh suaminya, tidak mengatakan apapun dengan segera mengambil al-qur'an dari atas meja nakas, kemudian Nisa membacanya tanpa melihat reaksi suaminya yang tengah bingung.
Lama duduk di sofa membuat Fahmi sedikit bosan dan untuk menghindari rasa bosannya, Fahmi memilih membuka ponselnya sembari melihat pesan yang mungkin berkaitan dengan perusahaan. Nisa yang sudah selesai membaca al-qur'an dan melihat suaminya yang tengah sibuk, membuatnya pergi ke luar kamar untuk membuat sarapan pagi.
Dikala Fahmi selesai dengan urusan pekerjaannya, lantas ia pun melihat ke arah Nisa karena telah lama tidak mendengar suara istrinya. Namun, saat Fahmi melihat sekeliling, tidak menemukan keberadaan istrinya.
"Kemana perginya dia?" gumam Fahmi dan berjalan ke luar kamar karena merasa lapar.
Rumah sedikit sepi karena kelurga Nisa masih berada di dalam kamar. Lantas Fahmi pun berjalan ke arah dapur karena mencium bau makanan yang begitu lezat sehingga membuatnya tertarik untuk melihat siapa orang yang membuatnya.
"Nisa, dia bisa mesak?" ucap Fahmi pelan di saat melihat istrinya yang berkutik di dapur.
__ADS_1
"Iya, Mas sudah lapar kan? Maka dari itu, aku buatkan makanan untuk Mas," ucap Nisa yang berbalik menatap Fahmi dengan membawa nasi goreng yang ia masak.
Menyadari Nisa yang berbalik, membuat Fahmi sangat malu karena ketahuan mengintipnya di dapur.
"Kamu masak apaan?" tanya Fahmi, mencoba mengalihkan rasa malunya.
"Nasi goreng," jawab Nisa singkat.
Fahmi hanya diam dan berjalan ke arah meja makan sembari menunggu Nisa yang akan menyiapkan sarapan buatnya. Untuk saat ini Fahmi sangat lapar, dengan begitu nasi goreng buatan Nisa habis dan tidak tersisa sedikitpun karena memang rasanya juga sangat enak, sedangkan Nisa yang melihatnya hanya tersenyum.
Sesaat kemudian, Fahmi kembali ke dalam kamar, sedangkan Nisa membersihkan piring kotor di dapur. Di saat sendirian di dapur, tiba-tiba kakaknya datang dan menggodanya.
"Rajin banget, Dek.." Aditya mencoba menggoda adiknya yang dikira tengah bahagia karena telah menjadi seorang istri, sedangkan ia belum menikah.
"Sudah biasa. Rajin tidak perlu dilakukan dari waktu yang tertentu saja, tapi di hari-hari biasanya juga perlu rajin," kata Nisa sembari mengelap tangannya dengan kain.
"Pintar banget Adik, Kak Aditya ini. Semenjak pulang dari pesantren, Kakak lihat ada yang berubah dari diri seorang Nisa yang Kakak kenal dulu," ucap Aditiya di saat Nisa berjalan menghampirinya.
"Alhamdulillah, sedikit dari yang Kakak lihat. Sebenarnya Nisa belum bisa menjadi seorang istri yang sholihah, tapi Nisa akan mencobanya."
"Bagus, Kakak yakin. Adek bisa buat Fahmi senang dan beruntung mendapatkan istri seperti Adek," ujar Aditiya yang dari dulu sangat menyayangi Nisa—adiknya.
"Aamiin, Nisa do'akan Kakak supaya kelak bisa mendapatkan istri yang sholihah," ujar Nisa sembari tersenyum kepada kakaknya.
__ADS_1
Aditya hanya tersenyum simpul dan kembali mengingat Almaira—wanita yang dari dulu sudah mengambil hatinya. Namun, sekarang Almaira sudah menikah.