Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 79. Telah Di Tetapkan


__ADS_3

Keesokan harinya, Fahmi dan kedua orang tuanya datang berkunjung ke rumah Abi Zaenal. Perkataan Abi Zaenal tidak salah, Fahmi benar-benar datang ke rumah untuk membicarakan tanggal pernikahannya dan Fatimah.


Kini Fahmi bersama kedua orang tuanya duduk di kursi ruang tamu yang dimana sudah berkumpul dua keluarga.


Diam-diam Fahmi memerhatikan penampilan calon istrinya dan Fatimah pun tidak diam saja, ia memilih menundukkan kepalanya dari pada membuatnya dosa karena telah menatap yang bukan mahramnya.


"Tanggal pernikahan kalian, jatuh pada dua belas oktober yang dimana dua minggu lagi dari sekarang." Abi Zaenal sudah menentukan tanggal pernikahan putrinya dengan anak dari sahabatnya.


Pasangan yang telah bertunangan ini hanya diam, tidak bergeming. Seakan sudah pasrah dengan semua yang telah terjadi.


"Alhamdulillah, kini tanggal pernikahannya telah ditentukan maka tidak akan ada lagi keraguan yang kadang hinggap dipikiran kami," tutur Arya yang diselingi dengan gelak tawanya. Sehingga membuat orang yang berada disana ikut tertawa oleh candaan yang Salman berikan.


"Nak Fahmi, kamu boleh berbicara sebentar dengan putri Abi. Namun akan ditemani oleh Nisa," ucap Abi Zaenal yang tahu persis rasa penasaran Fahmi yang sering kali terlihat dari ekspresi wajahnya.


Fahmi menatap wajah Abinya dan mendapatkan anggukan kepala dari Salman. Seakan Salman mengerti, arti dari tatapan mata putranya.


Dengan begitu, membuat Fahmi menerima tawaran dari Abi Zaenal yang mengijinkannya untuk mengenal calon istrinya itu.


Untung saat itu Nisa sedang berada di luar halaman rumah Abi Zaenal, sehingga membuat Fatimah tidak kesusahan untuk mencarinya.


Mereka bertiga kini duduk di kursi yang berada di luar teras rumah Abi Zaenal yang memiliki jarak agar tidak saling berdekatan ataupun bersentuhan.


"Apa kamu benar-benar mau menikah denganku?" tanya Fahmi dengan menelisik.

__ADS_1


Tiba-tiba Fatimah kaget, seakan tidak percaya. "A--aku tidak tahu, tapi sekarang tanggal pernikahan sudah ditetapkan," tutur Fatimah yang sedikit terbata saat menjawabnya.


"Baiklah jika itu jawabanmu, maka aku akan menerimanya." Entah apa yang dimaksud oleh Fahmi yang pasti ada arti yang terselubung, dari perkataannya.


Fatimah saja tidak berani bertanya bahkan hanya menunduk. Meskipun sebenarnya, sudah ada berbagai pertanyaan yang seharusnya diungkapkan oleh gadis itu.


Penasaran sudah pasti, tapi harus bagaimana lagi? Dari awal, Fahmi sudah sangat dingin dan itu membuat calon istrinya tidak berani mengatakan sesuatu.


"Sudah, hanya itu yang ingin aku katakan kepada mu. Sekarang kita kembali ke dalam lagi," ucap Fahmi datar. Pria itu berdiri dari tempat duduknya sambil berjalan memasuki rumah Abi Zaenal dan diikuti oleh Fatimah di belakangnya.


Jangan tanyakan lagi, bagaimana cara Nisa menanggapinya, pasti heran. Nisa juga seakan merasakan keganjalan dari hubungan Fatimah dengan calon suaminya.


"Bagaimana, apa kalian sudah saling mengenal?" tanya Arya pada putrinya yang merasa penasaran.


"Tidak apa-apa, nanti juga akan saling kenal." Abi Zaenal angkat bicara disaat suasana menjadi hening karena jawaban Fahmi yang tanpa dipikirkan terlihat dahulu. Mendengar itu, Fahmi hanya bisa tersenyum kecut.


Suasana yang hening, kini kembali menjadi gembira. Lain halnya dengan Fatimah yang hanya terdiam memikirkan ucapan calon suaminya yang entah mengapa sangat menggangu pikirannya.


Setelah kepergian Fahmi bersama kedua orang tuanya, Fatimah malah langsung pergi ke kamarnya dengan alasan, ingin mengganti baju. Ummi Siti mengijinkannya tanpa curiga dengan sedikitpun terhadap sikap putrinya yang sering kali diam.


Di dalam kamar, Fatimah termenung. "Entah apa yang aku rasakan saat ini, hati ini rasanya tidak berdaya dengan apa yang terjadi. Seakan semua ini tidak pernah aku harapkan," gumam Fatimah dikala menatap langit-langit kamar dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Apakah dia yang akan menjadi imamku kelak? Tapi kenapa, rasanya aku tidak bisa menerima kehadirannya dalam hidupku ini." Fatimah membatin dan pikirannya sedang tidak sejalur dengan kenyataan.

__ADS_1


Terhanyut dengan pikiran yang mulai merajalela, membuat Fatimah memutuskan untuk melakukan salat istikharah. Meminta petunjuk kepada yang maha kuasa.


Mungkin Fatimah diam saat diminta untuk menerima kenyataan yang dimana, ia belum siap untuk itu. Akan tetapi, di balik diamnya itu. Fatimah sering mengadu keluh kesahnya kepada Yang Maha Esa di sepertiga malamnya yang sunyi.


Mengadu? Ya, itulah yang sekarang Fatimah lakukan. Menurutnya tempat curhatnya hanya dengan berdoa kepada Allah untuk meminta jalan yang terbaik untuk dirinya.


"Ya Allah, tolong berikanlah yang terbaik dan jauhkan yang mungkin buruk untuk Imah. Bila memang Mas Fahmi adalah orang yang engkau pilihan untuk menjadikannya sebagai imam terbaik untuk Imah maka Imah dengan senang hati menerimanya. Namun jika dia bukanlah yang terbaik untuk Imah, tolong jauhkanlah dia dari hidup Imah dan biarkanlah orang yang terbaik datang dalam hidup Imah dengan membawa kesan indah yang mungkin, engan untuk dilupakan." Fatimah memanjatkan do'a yang tanpa terasa butiran air matanya mulai keluar dari sudut mata indah, milik gadis cantik tersebut.


Memang sulit dipercaya, Fatimah malah meminta sesuatu yang dimana dirinya sudah mendekati pernikahan. Mungkin sudah tidak ada lagi yang bisa Fatimah lakukan, selain menerima semua yang telah terjadi.


...****************...


Di sebuah kamar yang terlihat begitu indah dengan ciri khas laki-laki. Tepatnya kamar milik Reza, entah apa yang dipikirkan Reza saat ini. Reza nampak mengusap wajahnya kasar, "Akhh! Mengapa gadis itu selalu muncul setiap hari, dimimpiku ini? Seakan gadis itu, memintaku untuk menemuinya. Barulah dia akan menghilang dari mimpi ini," gumam Reza dengan sedikit kesal.


Sudah tiga malam Reza tidak bisa tidur dengan tenang, sering kali ia terbangun karena mimpinya. Di dalam mimpinya Reza selalu melihat wanita yang berpakaian panjang lengkap dengan hijabnya. Namun yang membuatnya kepikiran adalah, ia tidak bisa melihat wajahnya karena cahaya yang bersinar dari wajah gadis tersebut. Dan di saat Reza ingin menghampirinya, gadis itu selalu menghilang.


Karena itulah Reza selalu terbangun ditengah malam. Dirasa itu nyata, tapi nyatanya itu hanyalah mimpi. Namun, seakan nyata menurut Reza.


Oleh karena itu, dalam tiga hari ini Reza terlihat tidak semangat dengan pekerjaannya di kantor. Lelah, itulah yang Reza rasakan karena kurangnya istirahat.


Bahkan kedua orang tua Reza sering bertanya tentang kesehatan putranya yang dalam tiga hari ini berbeda, seakan diri Reza tidak memiliki semangat lagi.


Reza termenung memikirkan hari-harinya yang tidak bersemangat seperti dulu lagi, dan akhirnya Reza teringat kembali, saat Alvian yang sempat menanyakan salat kepadanya. Ya, Reza menyadari dirinya telah jauh dari Allah SWT. Entah mengapa Reza merasakan, sekarang ini adalah waktu yang tepat menurutnya untuk kembali ke jalan yang benar dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

__ADS_1


"Aku akan salat dan berdoa kepada Allah SWT untuk meminta jawaban dari mimpiku ini yang berlangsung dalam tiga hari berturut-turut." Tekad Reza kini sudah bulat, ia ingin meminta jawaban dari setiap mimpinya yang membuatnya kurang tidur dan tidak tenang karena rasa penasarannya, akan sosok gadis yang datang di dalam mimpinya.


__ADS_2