
Bukan hanya Abi dan ummi yang turut menyayangi Almaira ada Kak Ahmad, Kak Ilham dan Fatimah yang ikut serta menyayangi Almaira.
Bukan tidak sulit untuk Almaira menggapai cita-citanya untuk menjadi seorang dokter, butuh bimbingan dan dukungan dari keluarga. Pertama Abi Zaenal menentang keras Almaira, dan memilih putrinya itu untuk terus menuntut agama di pesantren seperti kakak dan adiknya.
Namun, Almira berhasil menyakinkan Abinya untuk tidak keliru dalam masalah karir dan cita-cita. Wanita memang selalu diperintahkan untuk tetap di rumah dan banyak menuntut ilmu agama. Almaira hanya meyakinkan Abi Zaenal dengan memberikan alasan.
'Almaira akan tetap menuntut ilmu agama dengan menjunjung tinggi adab dan etika yang di ajarkan Abi Zaenal kepada dirinya. Menjadi wanita karir bukan hanya sekedar prioritas dan pekerjaan, melainkan bagaimana cara kita memberikan ilmu pengetahuan yang kita dapatkan menjadi bermanfaat untuk semua orang'.
Dengan begitu Abi Zaenal setuju dan mendukung Almaira untuk menggapai cita-citanya. Bukan sekedar materi ekonomi yang dicari, melainkan membuat ilmu yang kita dapatkan menjadi bermanfaat bagi orang yang membutuhkan.
Menjadi seorang Dokter bukan hanya pekerjaan yang mulia, melainkan mengajarkan kita untuk bisa saling menolong satu sama lain dan juga memahami arti dari sebuah keberhasilan dan pencapaian yang di dapatkan.
Tidak mudah menjadi seorang dokter, mental dan harga diri di pertaruhkan. Butuh kesabaran yang ekstra untuk menghadapinya.
__ADS_1
***
Pada keesokan harinya, Almaira menepati ucapannya untuk memberitahu kepada orang tuanya soal semalam.
Di ruang tengah terdapat Abi, Ummi dan juga Kakak dan Adiknya. Mereka terlihat sedang berkumpul, mendengarkan apa yang ingin Almaira sampaikan.
"Abi, Almaira ingin memberitahukan kepada Abi bahwa semalam sebelum Almaira pulang ke rumah. Pasien mengajukan lamaran putranya kepada Almaira. Apa Abi keberatan dengan ucapan Almaira?" tutur Almaira dengan sedikit ragu.
"Apa kamu mengenalnya?" tanya balik Abi Zaenal.
"Abi hanya ingin memberikan yang terbaik kepada kamu, bila kamu menginginkannya Abi akan pertimbangkan kembali," jawab Abi Zaenal.
"Almaira juga tidak ingin mengambil keputusan dengan begitu cepat, apalagi orang itu belum pernah Almaira kenal. Almaira memberikan keputusan ini kepada Abi, karena Almaira tidak bisa memberikan keputusan," lirih Almaira dengan menunduk.
__ADS_1
"Apa yang diminta pasien itu, termasuk keinginannya?" tanya Abi Zaenal pada putrinya.
"Iya Abi, ibu itu mengatakan. Bahwa ini adalah keinginan terakhirnya, padahal masih banyak kesempatan untuk dirinya bisa sembuh kembali. Namun yang membuat Almaira heran, kenapa Almaira yang dipilih Ibu Hilma bukan orang lain? Dan yang lebih membuat Almaira kaget, Ibu Hilma menginginkan putranya menikahi Almaira besok," jelas Almaira panjang lebar.
"Pasti ada alasan di balik semua ini, ada yang dilihat dari dirimu yang mungkin menjadi daya pikat untuk pasien itu memilihmu," ujar Abi Zaenal berpikir positif.
"Seorang ibu pasti mempunyai insting yang tinggi untuk anaknya," timpal Ahmad yang merupakan kakak pertama, Almaira.
"Apa Abi menerima lamaran tersebut?" tanya Ummi, menatap serius suaminya.
"Abi hanya mengikuti kata hati Abi saja. Kita bisa lihat dulu seperti apa orang yang berani melamar putri kita," jawab Abi Zaenal.
"Kakak setuju dengan saran dari Abi, kita tidak perlu tergesa-gesa menerima lamaran itu. Kita lihat dulu bagaimana keseriusan dan keadaan ibu tersebut." Saran Abi di terima oleh Ilham.
__ADS_1
"Kalau begitu kita semua segera berangkat kesana, ibu itu pasti sudah menantikan kedatangan kita." Ummi membenarkan saran dari Abi dan anak-anaknya.