
Mobil Almaira sudah sampai di kawasan perusahaan Alvian yang terlihat begitu luas dan besar.
"Non, kita sudah sampai di Perusahaan Atmaja Putra—tempat Tuan Alvian bekerja," ucap supir pribadi yang mengantarkannya.
Almaira melihat sekeliling kawasan perusahaan tempat suaminya bekerja, melalui kaca jendela mobil. "Apa benar Mang, ini tempat Mas Alvian bekerja?" Almaira bertanya kepada supir yang telah mengantarkannya.
"Iya benar, Non. Ini tempatnya. Apa mau Mamang antar sampai pintu masuk?" Supir itu menawarkan bantuan.
"Tidak perlu Mang, Almaira bisa sendiri kok. Mamang bisa kembali pulang, nanti pulangnya Almaira bisa naik taksi saja."
"Tapi Non ...." Belum sempat supir itu membereskan ucapannya, sudah Almaira potong dengan kata-kata.
"Sudah Mamang tidak perlu khawatir, nanti Almaira berbicara dengan Mas Alvian. Mamang boleh pergi sekarang," senggah Almaira.
"Serius, Non?" ujar Mamang yang terlihat tidak mempercayainya.
"Iya Mang. Sudah, yah? Almaira mau menemui Mas Alvian dulu."
Almaira membuka pintu mobil dan melihat Mamang dari luar. "Mang, terima kasih banyak karena sudah mau mengantarkan Almaira sampai sini."
__ADS_1
"Iya Non, sama-sama. Bila nanti Non Almaira tidak mendapatkan taksi, Non bisa telpon saja Mamang, yah."
Almaira hanya mengangguk saja, bersamaan dengan perginya mobil Mamang dari kawasan Perusahaan Atmaja Putra.
Perlahan Almaira mulai melangkahkan kakinya, dan berjalan memasuki perusahaan yang dipimpin oleh suaminya itu.
Almaira menjadi pusat perhatian para karyawan yang tengah bekerja, ada di antaranya yang melihat Almaira rendah ketinggalan jamanlah, dan ada pula yang melihat Almaira kagum dengan pakaian tertutupnya, sedangkan Almaira hanya acuh dan tidak menanggapi ucapan para karyawan yang tengah membicarakan dirinya, dengan santainya Almaira berjalan menghampiri resepsionis dan bertanya kepadanya.
"Mbak, saya boleh tanya. Di mana ruangan tempat Mas Alvian bekerja?"
Awalnya resepsionis itu keheranan kepada Almaira yang ingin bertemu dengan atasannya, tapi tetap disambut dengan lembut oleh resepsionis tersebut.
"Tidak, saya hanya ingin mengantarkan bekal untuk ...." Belum sempat Almaira menyelesaikan ucapannya sudah ada yang memanggilnya dari belakang.
"Nona Almaira!"
Almaira berbalik ke belakang untuk melihat siapa orang yang telah memanggil dirinya. Dan dengan perlahan, Reza menghampiri Almaira.
"Biarkan dia masuk!" Reza menatap tajam resepsionis perempuan yang berbicara dengan Almaira tadi.
__ADS_1
Resepsionis itu menunduk karena melihat asisten atasannya terlihat sedang marah kepada dirinya.
"Sudah Nona Almaira, sekarang Nona ikut saya saja karena Non juga pasti ingin bertemu dengan Bos Alvian, kan?"
"Iya saya ingin menemuinya."
"Mari saya antarkan Nona untuk menemui Bos Alvian."
Almaira yang tidak mengetahui siapa Reza itu hanya mengangguk, dan berjalan mengikuti Reza dari belakang.
Setelah sampainya Almaira di depan pintu ruangan Alvian yang terlihat terpisah dari para karyawan. Almaira berhenti sejenak dan menatap pintu itu.
Reza melihat Almaira yang masih berdiri menatap pintu ruangan Alvian. "Non Almaira, Non bisa langsung saja masuk ke dalam. Ini adalah ruangan Bos Alvian." Reza menunjuk pintu yang masih di lihat oleh Almaira.
Almaira mengangguk. "Terima kasih karena kamu sudah mau mengantarkan saya kemari," ucap Almaira.
"Sama-sama, kalau begitu saya tinggal dulu ya, Non." Perlahan Reza pergi meninggalkan Almaira yang masih berdiri menatap pintu masuk ruangan suaminya.
Dengan jantung yang berdetak kencang dan hati yang bercampur aduk, Almaira dengan keberaniannya tetap berusaha membuka gengang pintu itu, sampai terlihatlah Alvian yang tengah duduk di kursi kebanggaannya.
__ADS_1