
Sesampainya Dokter Aditya di ruang operasi, tanpa menunggu lama lagi. Dokter Aditya langsung saja menangani pasien yang sudah siap melakukan operasi.
Hanya dalam waktu setengah jam, operasi telah selesai dan pasien dapat diselamatkan. Meskipun begitu, Dokter Aditya akan tetap mengusahakan yang terbaik untuk pasien dan untuk hasilnya, biarlah Allah SWT yang menentukannya.
Setelah itu, Dokter Aditya ke luar dari dalam ruangan operasi. Dengan baru-baru, orang tua dari pasien menanyakan kelangsungan operasinya.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya?" tanya ibu dari anak yang melakukan operasi kanker otak.
"Alhamdulillah, anak Ibu selamat," jawab Dokter Aditya dan ia pun pergi dari hadapan ibu itu.
Mendengar jawaban dari dokter yang menangani operasi anaknya, ibu itu terlihat sangat senang dengan segera memberi tahu keluarga yang lainnya.
Sebenarnya sudah lama, anak itu menderita penyakit kangker otak. Bahkan sudah beberapa kali orangtuanya mencoba menyembuhkan penyakit putranya. Namun, hasilnya masih sama saja, malahan ada yang memvonis anaknya itu tidak akan panjang umur.
Akan tetapi, orang tua dari anak itu tidak putus asa dan terus mendoakan kesembuhan putranya sehingga pada akhirnya, anaknya itu bisa sembuh dari penyakit yang di deritanya itu.
Meraka sangat bersyukur karena pada saat ini usahanya tidak sia-sia lagi, padahal penyakit anaknya itu sudah sangat parah. Akan tetapi, masih bisa di sembuhkan dan pada saat ini keajaiban sudah datang kepada anak itu.
Saat Aditya pergi, tanpa di sengaja ia bertemu dengan Linda yang kebetulan melawati lorong yang sama. Dengan begitu, Aditya hanya menunduk malu karena Linda sudah tahu bahwa selama ini, ia mencintai Almaira.
Akan tetapi, sikapnya itu membuat Linda merasa aneh karena Aditya tidak biasanya seperti itu. Bagaimanapun, Aditya adalah seorang dokter yang begitu dihormati di Rumah Sakit Surya Jaya ini. Meskipun begitu, Linda sudah lama mengenal Aditya, tetapi ia tetap menghormati Aditya karena dia merupakan atasannya.
Namun, seketika langkah Linda terhenti karena mendengar suara Aditya. "Dokter Linda, bolehkah kita berbicara empat mata saja?" tanya Aditya karena ia sudah berencana untuk menemui Linda.
"Kebetulan sekarang jam istirahat, kita bisa bicara di taman yang ada di luar," lanjut Aditya.
__ADS_1
Sejenak Linda terdiam dan berpikir sebentar sebelum menerima ajakan Aditya. "Baiklah, tapi jangan terlalu lama."
"Baik, saya tidak akan lama." Dengan begitu, Aditya dan Linda langsung saja berjalan menuju taman yang ada di luar rumah sakit.
"Mau berbicara apa?" tanya Linda dengan penuh tanda tanya.
"Aku ingin belajar ikhlas, seperti yang kamu katakan kemarin. Akan tetapi, apa aku akan bisa?" Aditya nampak murung dan ia terlihat begitu kesulitan untuk bercerita kepada Linda karena tidak biasa.
Linda tersenyum. "Ikhlas, itu merupakan suatu hal yang tidak asing lagi di telinga banyak orang. Namun, tidak semua orang bisa iklhas dan belajar dari ikhlas. Sederhananya, ikhlas adalah suatu sikap untuk merelakan sesuatu yang kita anggap paling baik dengan harapan mendapatkan ridha dari Allah SWT."
Kini Linda mulai berbicara dan Aditya mencoba mendengarkannya dengan seksama.
"Ketahuilah, Kak. Dalam Surat An-Nisa ayat 125, Allah SWT juga telah berfirman:
وَمَنْ اَحْسَنُ دِيْنًا مِّمَّنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَّاتَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَاتَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلًا
"Nabi Ibrahim merupakan sosok yang berhati lembut dan taat kepada Allah. Dari sikapnya itu, kita bisa mengambil hikmahnya dan meneladani sikap mulianya. Maka dari itu, jangan takut, ikhlas akan merugikanmu." Linda menjelaskan semuanya kepada Aditya.
Dengan begitu, Aditya sudah sedikit mengerti dan akan berusaha untuk bisa mengikhlaskan sesuatu yang mungkin, sudah bukan takdirnya.
"Terimakasih atas penjelasannya," ucap Aditya dan tanpa disadari olehnya, ia sudah begitu dekat dengan Dokter Linda.
"Sama-sama ... kalau begitu, aku masuk ke dalam rumah sakit lagi. Tidak baik juga jika kita terlalu lama berduaan di sini. Assalamualaikum," ujar Linda yang kembali masuk ke dalam rumah sakit itu.
"Wa'alaikumsalam," jawab Aditya yang hanya melihat wanita itu pergi masuk ke dalam rumah sakit.
__ADS_1
"Masya Allah, wanita salihah," gumam Aditya yang mengagumi sikap bijaksana, Linda.
Untuk saat ini, Linda memang sudah jauh berbeda dari sebelum Aditya pulang ke Palembang untuk menghindari Almaira. Pada saat itu, Linda yang ia kenal masih saja menggunakan pakaian pendek dan tidak menutup auratnya dengan sempurna. Namun, sekarang ini Linda sudah banyak berubah.
Dari mulai pakaiannya, Linda sudah merubahnya dengan pakaian muslimah yang tertutup serta mengenakan hijabnya. Oleh karena itu, Aditya hampir tidak mengenali Linda lagi karena bukan hanya penampilannya saja yang berubah, tapi sikapnya pun ikut berubah. Yang asalnya, cara bicaranya itu tidak dipikirkan dulu.
Akan tetapi, sekarang semuanya hilang dengan begitu saja. Dan cara bicaranya itu sudah hampir sama dengan Almaira sehingga membuatnya nyaman, ketika berada di dekat Linda.
Bahkan, Linda juga menjadi sangat cantik dengan penampilannya yang sekarang. Jujur, Aditya juga mengagumi kecantikan Linda.
***
Di rumah keluarga Reza, Fatimah mulai merasa nyaman dan kedua orang tua dari suaminya juga memperlakukannya dengan sangat baik. Maka dari itu, Fatimah sangat senang bisa dipertemukan dengan kedua orangtuanya Reza dan mendapatkan pendamping hidup yang begitu baik, menurutnya.
Tidak lupa juga, sikap suaminya yang begitu perhatian sama seperti Alvian—suami dari Almaira. Membuatnya semakin sayang kepada suaminya, dan mungkin juga cinta mulai tumbuh di dalam hatinya.
"Dek, apa Adek mau bertemu dengan kakakmu—Almaira?" tanya Reza karena ia tahu, istrinya itu pasti ingin sekali bertemu dengan kakaknya.
Mendengar itu, Fatimah langsung saja menatap wajah suaminya dengan mata yang berbinar. "Benarkah, Kak? Apa Kakak mau mengajak Adek untuk menemui Kak Maira?" tanya Fatimah soraya memastikan kembali apa yang diucapkan oleh suaminya itu.
"Iya, soalnya besok Kakak ingin menemui Alvian di rumahnya dan sekalian saja, Kakak ajak Adek," jawab Reza sembari tersenyum.
"Kalau begitu, Adek mau ikut, Kak." Fatimah terlihat begitu gembira.
"Ya sudah, besok Kakak ajak Adek ke rumah Alvian."
__ADS_1
"Terimakasih, Kak." Karena sangat senang, Fatimah sampai memeluk suaminya sehingga membuat Reza tersenyum dan menerima pelukan dari istrinya itu.
Impian Fatimah yang ingin mendapatkan pendamping hidup yang baik, alhamdulillah terkabulkan. Baginya, tidak perlu yang pandai karena orang pandai belum tentu bisa menerima pasangannya yang lebih rendah ilmunya dari dirinya. Cukup saja oleh seseorang yang bisa menerimanya dengan baik serta kekurangannya sehingga dapat saling melengkapi.