Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 37. Proyek Di Luar Negeri


__ADS_3

Alvian tersenyum menatap wajah istrinya yang terlihat tidak menangis lagi, hanya guratan merah ah yang ia lihat dari wajah istri cantiknya itu.


"Tok, tok, tok."


Suara ketukan pintu terdengar dari luar pintu kamar mereka, membuat Almaira langsung membukanya.


"Mas sebentar ya, Maira buka dulu pintunya." Almaira bergegas menghampiri pintu.


Alvian mengangguk dengan tetap duduk di sebuah kursi yang terdapat di balkon kamarnya, menanti istrinya kembali.


Perlahan Almaira berjalan meninggalkan suaminya dengan membukakan pintu kamarnya.


"Ceklek." Pintu kamar telah terbuka dengan menampakkan Ayah Ahlan yang tengah berdiri di hadapannya.


"Ayah, ada perlu apa? Biar Almaira bantu," ucap Almaira sembari tersenyum.


"Tidak menantu, Ayah hanya ingin bicara dengan kalian berdua. Maaf karena Ayah telah menganggu malam menantu Ayah ini," ucap Ayah Ahlan sambil tersenyum.


"Ayah tidak menganggu kok, lagian Maira sama Mas Alvian belum tidur. Sebentar ya, Almaira panggilkan dulu Mas Alviannya."


"Apa Ayah mau tunggu di dalam dulu?" Sebelum itu Almaira menawarkan mertuanya untuk masuk.

__ADS_1


"Tidak perlu Maira, Ayah tunggu di bawah saja, nanti kalian berdua bisa langsung ke bawah," balas Ayah Ahlan soraya tersenyum.


Almaira mengangguk dengan melihat kepergian Ayah Ahlan yang mulai berjalan pergi ke bawah. Dengan begitu, Almaira kembali menutupkan pintu kamarnya.


Almaira berjalan menghampiri suaminya yang terlihat masih berada di balkon. "Mas," panggilnya.


Alvian nampak mendongakkan kepalanya ke samping setelah mendengar suara Almaira yang memanggilnya.


"Iya ada apa sayang, tadi siapa yang datang ke kamar kita malam-malam begini?" tanya Alvian dengan menatap wajah istrinya.


Perlahan Alvian mulai melangkah maju menghampiri istrinya. "Tadi Ayah yang datang, Mas," jawab Almaira.


"Ayah tadi bilang ingin membicarakan sesuatu kepada kita berdua Mas, dan sekarang Ayah sedang menunggu kita di bawah."


"Kalau begitu, ayo kita segera ke bawah sayang," ucap Alvian sembari mengandeng tangan istrinya dengan mesra.


Almaira hanya tersenyum. "Baiklah, ayo kita ke bawah Mas," ucap Almaira dengan menyambut hangat tangan suaminya.


Mereka berdua berjalan beriringan sambil berpegangan tangan mesra, padahal barusan mereka sempat bertengkar. Namun, sekarang mereka sudah kembali tersenyum dan terlihat mesra, serasa tidak terjadi apa-apa di antara keduanya.


Ayah Ahlan nampak tersenyum melihat keromantisan anak dan menantunya yang semakin hari semakin mesra saja. Membuatnya kembali teringat kepada mendiang istrinya yang sudah dua Minggu ini meninggalkan dirinya dan anaknya—Alvian.

__ADS_1


Setelah semua telah berkumpul di ruang tengah, dan Ayah Ahlan yang terlihat ingin mengutarakan sesuatu kepada anaknya.


"Alvian, mungkin Ayah tidak bisa tinggal di rumah ini dulu untuk sementara waktu," ucap Ayah Ahlan tiba-tiba.


"Kenapa Ayah? Ayah mau pergi ke mana kalau tidak tinggal di sini?" tanya Alvian.


"Ayah ada urusan bisnis di luar negeri. Jadi, sementara waktu, Ayah akan tinggal di sana sampai proyeknya berhasil," jawab Ayah Ahlan.


"Apa Ayah tidak lelah bekerja terus? Alvian takut Ayah jatuh sakit nanti," lirih Alvian yang sangat menyayangi ayahnya.


"Tidak Alvian, Ayah masih kuat bekerja kok, kamu di sini saja bersama dengan istrimu. Ayah percayakan urusan Atmaja Putra kepadamu, selama Ayah masih berada di luar negeri nanti."


Alvian hanya bisa pasrah menerima keputusan Ayahnya yang harus pergi mengurus proyek di luar negeri. "Baiklah, Alvian terima keputusan Ayah yang bersikeras untuk tetap pergi ke luar negeri, tapi Ayah harus tetap menjaga kesehatan Ayah selama di sana."


"Ayah pasti menjaga kesehatan Ayah. Di sini kamu jangan mengkhawatirkan kesehatan Ayah selama di sana. Lagi pula Ayah tidak sendirian, Reza akan menemani Ayah selama proses proyek ini"


"Kenapa bukan Alvian saja Ayah yang pergi ke luar negeri?"


"Ayah tidak mau membuat istrimu sendirian di sini, tanpa kehadiran kamu sebagai suaminya yang harus tetap melindunginya. Ayah harap kalian berdua bisa terus mesra seperti ini sampai Ayah pulang dari luar negeri."


Alvian nampak terdiam karena yang Ayahnya ucapkan memang benar, ia mempunyai kewajiban menjaga istrinya—Almaira, dan tidak mungkin kan, dia meninggalkan istrinya sendirian di rumah dengan waktu yang sangat lama. Apalagi di tambah kehadiran Dokter Aditya yang mulai mengusik istrinya.

__ADS_1


__ADS_2