Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 99. Membolak-balikkan Kata


__ADS_3

Ke esokan harinya Fatimah dan Reza pergi ke rumah kedua orangtuanya Reza dan Fatimah sudah menyiapkan segalanya sehingga tidak ada lagi yang harus dibawa.


Dalam perjalanan menuju rumah, Reza hanya fokus mengendarai mobilnya sehingga tidak terasa mereka berdua telah sampai di depan rumahnya. Terlihat sebuah bangunan yang cukup besar dan Fatimah menyakini, apa yang dilihatnya ini adalah tempat tinggal suaminya.


"Ayo, Dek," ajak Reza sembari menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam rumahnya. Dan Fatimah hanya diam serta mengikuti suaminya ke dalam.


"Assalamualaikum," ucap Reza di saat memasuki rumahnya. Dengan begitu, kedua orangtuanya Reza segera menemui putranya yang datang bersama menantunya.


"Wa'alaikumsalam," jawab kedua orangtuanya dan mengajak sepasang suami istri itu untuk masuk ke dalam rumah. "Ayo masuk," ajak Ibu Liana—ibunya Reza.


Sehingga keduanya pun menurut dan di sambut hangat oleh keluarga Reza, sedangkan Fatimah hanya mengucap syukur di dalam hatinya karena kedua orang tua suaminya bisa menerimanya dengan sangat baik.


Begitulah Fatimah yang sama seperti Nisa, bisa membuat mertuanya menyayanginya. Walaupun demikian, Fatimah merupakan orang baru di kehidupan Reza dan keluarganya. Namun, dengan sekejap ia bisa membawa warna dikehidupan Reza dan membuatnya menemukan cinta yang sama sekali belum pernah terpikirkan olehnya.


***


Di sebuah ruangan yang cukup luas, terdapat pasangan suami istri yang belum lama ini menjalani kehidupan rumah tangga dengan semestinya. Keduanya terlihat begitu jauh, padahal berada di dalam satu atap yang sama. Raga mereka dekat, tapi hati mereka jauh. Itulah yang mereka alami saat ini.


"Mas, mau pergi ke kantor, kan?" tanya Nisa karena melihat suaminya yang mengenakan pakaian rapih.


"Mau ke mana pun saya pergi, itu bukan urusan kamu," jawab Fahmi dengan santainya dan dari wajahnya tersirat rasa ketidak perdulian terhadap istrinya.


"Kata siapa, itu bukan urusan aku?" tanya Nisa sembari mendekati suaminya.


"Aku," jawab Fahmi singkat dan kembali merapihkan pakainya.


"Mas, aku mau tanya. Siapa sebenarnya aku ini?" tanya Nisa yang membuat Fahmi mengerutkan keningnya.


"Istriku," jawab Fahmi setelah terdiam sejenak.


"Lalu, apa seorang istri boleh mengetahui ke mana pun suaminya pergi?" tanya Nisa kembali dan kali ini membuat Fahmi sedikit tercengang.


"Boleh saja," jawab Fahmi yang tidak menyadari bahwa pada saat ini, istrinya itu sedang menjebaknya dengan banyak pertanyaan.


"Jika diperbolehkan, kenapa aku tidak?" tanya Nisa dengan penuh harap.

__ADS_1


Fahmi dibuat terkejut dengan pertanyaan istrinya yang baru bisa ia pahami. "K--kamu, aku tidak ...," jawab Fahmi dengan terbata karena tidak tahu lagi harus bagaimana, ia terjebak dengan perkataannya sendiri.


"Tidak apa? Kenapa tidak? Aku istrimu dan sudah sewajarnya jika seseorang istri menanyakan itu kepada suaminya," ucap Nisa yang sudah membuat Fahmi tidak bisa berkutik lagi.


"Iya, tapi aku tidak mau diperhatikan oleh kamu," tegas Fahmi tanpa memikirkan perasaan Nisa.


"Aku tidak memerhatikan Mas, tadi aku cuma tanya saja," ujar Nisa yang sudah tahu arah pembicaraannya.


"Sudahlah, aku tidak ada waktu lagi untuk berdebat dengan kamu. Aku harus segera ke kantor, ada pekerjaan yang lebih penting dari pada berdebat dengan hal yang sepele kayak gini," ujar Fahmi sembari mengambil tasnya yang berada di atas meja.


"Jangan terlalu buru-buru karena itu tidak baik. Terima saja kekalahan Mas, dalam mengambil jawaban yang begitu mudah," ucap Nisa yang seakan menyepelekan suaminya.


Fahmi merasa kesal sehingga menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. "Aku tidak kalah! Aku masih bisa menjawabnya hanya saja waktunya tidak memungkinkan."


"Tidak ada susahnya untuk menjawab pernyataan yang begitu mudah ini. Mas tinggal menjawab saja iya atau tidak, tapi Mas tidak memilih jawaban di antara dua itu. Maka dari itu, aku mempersulit jawabannya," ucap Nisa yang kembali membuat Fahmi tidak bisa lagi berkutik dan pergi begitu saja.


"Sabar, Nis. Kamu harus lebih sabar lagi untuk menghadapi sikap Mas Fahmi yang keras kepala itu," gumam Nisa sembari mengelus dadanya, pada saat Fahmi ke luar dari dalam kamar.


Dalam perjalanan ke luar rumah, Fahmi terus saja menggerutu soal istrinya yang selalu membuatnya kalah.


Setelah dari dalam kamar, Nisa pun kembali ke bawah untuk membantu ibu mertuanya membuat makanan.


"Nis, apa yang terjadi dengan Fahmi, kok dia jadi aneh?" tanya Widia dengan wajah keheranan karena melihat putranya berjalan sambil menggerutu saja.


"Tidak terjadi apa-apa kok, Mih. Tadi itu Mas Fahmi hanya sedang buru-buru saja ingin pergi ke kantor," jawab Nisa seadanya karena memang pada buktinya begitu.


"Oh, tapi kayak lagi kesel gitu deh," ucap Widia sembari tersenyum karena lucu melihat sikap putranya, sedangkan Nisa menanggapinya hanya dengan tersenyum saja.


"Mih, boleh Nisa bantu?" Nisa menawarkan dirinya untuk membantu Widia untuk membuat makanan.


"Boleh, tapi Nisa bisa masak enggak?" tanya Widia karena yang ia tahu, wanita dari kalangan berada jarang yang bisa masak.


"Insya Allah, bisa," jawab Nisa dengan penuh keyakinan.


"Benarkah? Kalau begitu, Mamih ingin nyobain masakan Nisa," ujar Widia yang belum mempercayai sepenuhnya ucapan Nisa.

__ADS_1


"Baik, Mih. Mamih mau buat apa?" Nisa menanyakan menu yang ingin mertuanya buat.


"Sup ayam," jawab Widia sembari melihat menantunya yang telah siap untuk memasak.


"Ya sudah, kita mulai saja membuatnya," ucap Nisa, tangannya sudah mulai bergerak menyiapkan bumbu dan sayuran yang dibutuhkan.


"Nisa yakin bisa membuatnya?" tanya Widia kembali.


"Insya Allah, Mih," jawab Nisa singkat.


"Eh, tapi tunggu dulu! Nisa pakai pakaian seperti itu, apa tidak ribet?" tanya Widia karena melihat penampilan menantunya yang menggunakan pakaian muslimah.


"Enggak kok, enggak apa-apa," balas Nisa dan melanjutkan kembali memotong ayam yang ingin dibuat sup.


"Tapi itu sangat panjang, nanti Nisa akan kesusahan untuk memasaknya. Ganti dulu sana, biar Mamih yang lanjutkan itu," ujar Widia yang begitu memerhatikan menantunya.


"Enggak papa, udah terlanjur," kata Nisa yang terus melanjutkan kegiatannya.


Sebenarnya Nisa memang sedikit kesusahan memasak dengan menggunakan pakaian penjang, tapi kalau ia menggantinya, Nisa masih belum siap karena belum terbiasa dengan lingkungan barunya.


Setelah Nisa mengatakan itu, Widia tidak mengatakan apapun lagi dan kembali melihat menantunya yang katanya bisa memasak. Sedikit Widia juga membantu Nisa untuk membuat masakannya.


Membuat sup ayam tidak membutuhkan waktu yang lama, dan cara membuatnya juga tidak terlalu susah sehingga Nisa bisa membuatnya.


"Harum yah, sampai kecium ini pasakannya," ujar Widia yang mencium hasil masakan menantunya dan Widia belum bisa mempercayai Nisa bisa memasak, sebelum mencoba masakannya.


"Coba Mamih cicipi sup ayamnya," ucap Nisa menawarkan mertuanya yang sepertinya sedang penasaran dengan rasanya.


"Mamih coba, yah." Widia mengambil sendok dan mencicipi sop ayam buatan Nisa.


"Sempurna, masakannya enak banget, pasti Fahmi suka banget karena ini sup kesukaannya," kata Widia yang menyukai pasakan buatan Nisa dan tidak meragukan lagi Nisa yang bisa memasak.


"Alhamdulillah, Mamih suka semoga semua orang juga suka dengan supnya," ujar Nisa yang sangat senang karena mertuanya menyukai masakannya.


"Pasti," balas Widia dengan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2