Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 32. Memberikan Izin


__ADS_3

"Apa kamu masih ingat, saat kita berdua berbicara di taman belakang yang ada di rumah?" tanya Alvian sambil mengusap lembut tangan Almaira yang masih terasa dingin.


Terlihat Almaira sedang berpikir dengan mengingat kejadian itu kembali. "Iya Mas, Almaira ingat saat itu tangan Almaira tersiram air sup, kan? Akan tetapi, kenapa Mas bertanya seperti itu?"


"Kamu benar, tapi apa kamu ingat di saat itu Mas pernah bicara apa sama kamu?"


"Emang Mas bicara apa sama Maira, pada saat itu?" Almaira malah bertanya balik.


Alvian tersenyum sambil berkata, "Saat itu Mas sudah bilang sama kamu, Mas juga tidak akan melarang kamu untuk tetap bekerja, asalkan kamu harus tetap berada di rumah pada saat Mas ada di rumah, ataupun Mas baru pulang dari kantor." Alvian mengusap lembut wajah cantik istrinya.


Seketika wajah Almaira terlihat gembira setelah mendengar perkataan suaminya itu. "Apa Mas Mengijinkan Maira untuk tetap bekerja di Rumah Sakit Surya Jaya?"


Alvian tersenyum. "Mas mengijinkannya." Dengan refleks, Almaira langsung memeluk tubuh suaminya itu dengan sangat gembira.


"Terima kasih Mas," ucapnya.


Tampak Alvian mematung kaget dengan perlakuan Almaira pads saat ini. Namun, sesaat Alvian terdiam dan membalas pelukan Almaira dengan hangat.

__ADS_1


"Almaira kamu nanti pulangnya jam berapa? biar nanti Mas jemput kamu." Alvian nampak bertanya kepada istrinya.


Almaira tersadar dengan ucapan suaminya, dan melerai dirinya dari pelukan Alvian. Terlihat jelas Almaira nampak sangat malu, karena telah berani memeluk suaminya itu.


"Almaira tidak tahu Mas, tapi biasanya sih pulangnya selalu sore Mas."


Alvian tersenyum sembari berkata, "Nanti Mas jemput kamu, jangan pulang sendiri! Tunggu Mas, sampai Mas datang menjemput kamu."


Almaira mengangguk sambil menunjukkan senyum indahnya, sedangkan Alvian paling sulit menahan diri di saat melihat senyum indah istrinya itu.


Dengan sigap, Alvian langsung mencium kening Almaira dengan sangat lama, guna menghilangkan rasa yang amat sulit di tahan. Perlahan Alvian menyudahi mencium kening Almaira, dan nampaklah wajah Alvian yang tersenyum menatap istri cantiknya itu.


Senyuman mengembang terlihat jelas dari sudut wajah Alvian, ketika melihat istrinya yang sangat perhatian kepada dirinya.


"Jika di lihat dari dekat begini, wajah Almaira sangatlah cantik karena memang pada dasarnya juga dia sudah cantik. Dan jarang juga aku melihat wanita seperti Almaira yang tidak pernah menggunakan alat rias wajah. Meskipun begitu, Almaira tetap terlihat cantik tanpa riasan wajah pun." Diam-diam Alvian mulai mengagumi wajah rupawan istrinya itu.


Almaira nampak keheranan dengan suaminya yang terlihat terus terdiam sembari menatap dirinya. "Mas kenapa Mas menatap Almaira seperti itu?" Almaira nampak tertunduk karena merasa malu tengah di tatap oleh suaminya.

__ADS_1


Alvian mulai tersadar dari lamunannya, dengan perlahan mengangkat dagu Almaira. "Hey, jangan menunduk seperti itu. Menatap wajah istri sendiri, kan itu halinyah yang sangat wajar karena kamu sudah menjadi milik Mas. Hendaknya kamu menundukkan kepalamu itu kepada laki-laki yang bukan mahram."


Almaira terdiam karena telah mengerti maksud dari ucapan suaminya itu.


Melihat istrinya yang terdiam, Alvian langsung mengalihkan pembicaraannya. "Bukannya kamu ingin pergi ke rumah sakit? Nanti kamu terlambat Maira jika kamu terus terdiam seperti ini."


"Astaghfirullah, Maira hampir lupa Mas." Almaira nampak risau mengingat dirinya harus segera pergi ke Rumah Sakit Surya Jaya, di sana tempat Almaira bekerja sebagai seorang dokter.


Sebuah senyuman Alvian berikan kepada istrinya, sambil mengusap lembut kepala Almaira yang masih tertutup dengan kerudung.


"Sudah, kamu tidak usah khawatir, pergilah sana. Mas yakin kamu tidak akan terlambat." Dan sebuah ciuman berhasil mendarat di kening Almaira.


Mendengar ucapan suaminya, Almaira nampak lebih tenang. Perlahan Almaira mencium tangan suaminya itu dengan sangat lembut.


"Jaga diri kamu baik-baik Maira, nanti supir Mas yang akan mengantarkan kamu ke sana."


Almaira mengangguk sambil berjalan pergi meninggalkan suaminya, tidak lupa juga Almaira mengucapkan salam kepada suaminya. "Assalamualaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam." Dengan begitu, Alvian menjawab salam dari istrinya.


__ADS_2