Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 116. Maaf, Aku Tidak Bisa


__ADS_3

Pada malam itu juga, Linda berinisiatif untuk menelpon Aditya dengan keputusan yang begitu sulit. Namun, ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Lantas, Linda pun segera mengambil telponnya yang berada di atas meja nakas, dan di samping tempat tidurnya.


Linda mencoba menghubungi nomor telepon Aditya dan kebetulan sekali, nomor ponselnya aktif. Aditya juga dengan cepat mengangkat telpon darinya.


"Assalamualaikum, Lin." Laki-laki itu nampak memulai pembicaraan lewat telpon.


"Wa'alaikumsalam, hiks," jawab Linda sembari menangis.


"Linda, kamu kenapa?" tanya Aditya. Di sebrang sana, laki-laki itu sudah sangat khawatir karena mendengar suara tangisan Linda.


"Hiks, hiks. Maaf, aku tidak bisa menerima lamaran kamu," ucap Linda di sebrang sana sembari menangis tersedu-sedu.


"Kenapa begitu? Apa yang terjadi, Lin?" Aditya nampak begitu heran dengan ucapan yang telah dilontarkan oleh Linda.


"A--aku sudah tidak bisa lagi untuk melanjutkan semua ini, hiks," balas Linda yang semakin meninggis.


Mendengar itu, Aditya menjadi sangat bingung. Entah bagaimana ia bisa mengatasinya karena sedari tadi Linda hanya menangis.


"Coba jelaskan semuanya kepadaku. Kenapa bisa sampai begini, dan apa yang terjadi kepadamu?" tanya Aditya yang sudah begitu ingin mengetahui penyebabnya.


"Hiks, Kak. Tadi itu mantan pacarku kembali dan datang ke rumahku, terus di--dia mengajakku untuk menikah," jelas Linda yang langsung membuat Aditya tertegun.


Di sebrang sana, Aditya sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Rasanya, ia mengalami patah hati untuk yang kedua kalinya, seakan semuanya begitu sulit untuk dihadapi. Harapannya juga sudah tidak ada lagi, sungguh disayangkan hidupnya.


"Jadi, itu yang membuatmu memutuskan untuk tidak melanjutkan lamaran dariku? Kalau begitu, tidak papa. Kamu juga berhak untuk memutuskan yang terbaik, mungkin kita tidak berjodoh," ucap Aditya dengan hati yang begitu sakit.


Linda nampak semakin sedih, sakit rasanya ketika Aditya mengatakan itu. Namun, ia tidak bisa melakukan apa pun, selain menangisi semua yang sudah terjadi kepadanya.


"Aku tidak bisa berada di dalam situsi yang seperti ini, hiks. Aku tidak bisa, Kak! Hiks, hiks," ucap Linda yang semakin menjadi.


"Cobalah tenangkan dirimu dulu, Lin. Setelah itu, mintalah pertolongan kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Jangan terus menangis karena itu sangat menyakiti diriku," ucap Aditya sembari menahan rasa sakit hatinya.


Kalaupun Aditya tidak bisa menahannya, mungkin saat ini Aditya juga sudah menangis seperti Linda. Akan tetapi, ia tidak seperti itu. Dirinya dapat mengontrol hati dan pikirannya sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

__ADS_1


Hening, kini keduanya tidak lagi mengatakan apa pun. Apalagi setelah Linda mendengarkan kalimat terakhir dari Aditya yang seakan menyentuh relung hatinya yang paling dalam.


"Sudah dulu, Lin. Selamat malam, jangan lupa baca doa sebelum tidur dan jangan menangis lagi. Assalamualaikum," pesan Aditya sebelum menutup pembicaraannya di telpon.


"Wa'alaikumsalam," jawab Linda yang masih menangis. Entah kenapa hatinya begitu sakit mendengarkan perkataan Aditya tadi di telpon.


Setelah itu, Linda menuruti pesan dari Aditya untuk tidur dan menenangkan diri dulu. Dengan begitu, ia bisa kembali terbangun di sepertiga malam untuk meminta pertolongan kepada yang Maha Esa.


Di tempat lain, Aditya juga terlihat begitu memikirkan perkataan Linda tadi. Sungguh sangat menyakitkan, tapi Aditya hanya bisa pasrah dan ikhlas menerima semuanya. Mungkin sudah jalannya begini, maka Aditya tidak bisa melakukan apa pun lagi selain menerima dan ikhlas dengan takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wata'ala.


Maka dari itu, Aditya berpikir begini. Ya sudahlah, mungkin bukan waktunya dan ia masih berkesempatan untuk menjalani masa-masanya. Mungkin juga Linda bukan jodohnya, maka ia hanya bisa menunggu yang terbaik saja.


Malam itu menjadi malam yang sangat menyakitkan bagi Aditya dan Linda yang sedang berjuang menghadapi kenyataan hidup yang begitu menantang.


***


Keesokan harinya, Aditya kembali beraktivitas seperti biasanya dan menjalankan tugasnya sebagai seorang doktor yang baik. Walaupun demikian, hatinya sedang tidak baik-baik saja.


Namun, di saat Aditya sudah selesai menangani pasiennya. Dengan tiba-tiba saja, Alvian menghampirinya yang kebetulan baru mengantarkan Almaira untuk mengecek kandungannya.


"Dari siapa kamu tahu semuanya?" tanya Aditya dengan wajah herannya.


"Tadi pagi Linda menelpon istriku, dan dia menceritakan semuanya kepada Almaira. Dengan begitu, Almaira kembali menceritakannya kepadaku. Maka dari itu, aku mengetahui semuanya," jelas Alvian sembari bersikap ramah walaupun dulu pernah berselisih dengan Aditya.


"Ya sudahlah, kalau kamu sudah tahu," lirih Aditya. Dia seakan tidak punya arah tujuannya lagi.


"Semangat, Dit." Alvian malah memberikan semangat kepada Aditya yang sedang bersedih.


"Untuk apa? Semua telah berakhir, sudah tidak ada lagi yang perlu diperjuangkan," ujar Aditya soraya menatap wajah Alvian.


"Belum berakhir, semua masih berjalan karena Linda sudah menerima lamaran darimu," ucap Alvian yang membuat Aditya kebingungan.


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Jadi begini, tadi pagi Linda mengatakan kepada istriku bahwa ia sedang kesulitan untuk menentukan pilihannya. Dan sebenarnya dia sudah memilih kamu, tapi keadaan sangat menentangnya sehingga membuat Linda kesulitan untuk mengambil keputusan. Apalagi setelah pembicaraan semalam denganmu, Linda begitu merasa tidak enak dan akan meminta maaf soal semalam kepadamu," jelas Alvian.


Sebuah senyuman terbit dari sudut wajah Aditya yang membuat ketampanannya semakin bertambah, Aditya juga nampak begitu bahagia kembali setelah mendengarkan penjelasan dari Alvian.


"Benarkah itu, Alvian? Kamu tidak sedang becanda, bukan?" tanya Aditya soraya menyakinkan kembali perkataan dari Alvian.


"Iya, aku tidak sedang berbohong, apalagi kalau main-main. Semua itu benar, aku mengetahuinya dari Almaira, dia merupakan teman dekat Linda. Maka dari itu, Linda bercerita kepadanya," jawab Alvian sembari melihat kepada Aditya.


"Sekarang, perjuangkanlah cintamu. Linda sudah menunggumu, dan jangan sia-siakan kesempatan ini karena kesempatan jarang didapatkan dua kali," lanjut Alvian dengan menepuk pundak Aditya pelan.


Merasa mendapatkan dukungan dan kesempatan penuh, Aditya menjadi semakin semangat untuk mendapatkan kembali cintanya yang hampir hilang karena kejadian semalam.


"Baiklah, aku akan berjuang kembali untuk mendapatkan Linda," ucap Aditya dengan penuh keyakinan.


Namun, kemudian Aditya kembali melihat kepada Alvian."Terima kasih, Alvian. Kamu sudah memberitahuku semua ini," ucap Aditya dengan wajah yang begitu ceria.


"Sama-sama, Dit. Aku doakan, semoga berhasil," balas Alvian sembari memberi dukungan kepadanya.


"Aamiin. Aku akan mencobanya dengan bismillah. Bismillah pasti biasa," ucap Aditya. Ia terlihat begitu yakin dan semakin semangat saja.


"Semangat, tidak ada yang tidak mungkin selagi kita berusaha," kata Alvian kembali dan Aditya membenarkan perkataannya.


"Kalau begitu, aku mau temui istriku dulu. Takutnya dia menunggu kedatanganku lama," ujar Alvian yang kembali teringat kepada istrinya.


"Iya, temui Almaira sana. Dia sudah sangat membutuhkan kehadiranmu di sampingnya," ucap Aditya.


Untuk kali ini, Aditya tidak sama sekali merasakan sakit hati lagi ketika melihat Almaira bersama dengan Alvian, karena sekarang ia sudah menemukan cintanya yang harus diperjuangkan dan dipertahankan.


.


.


.

__ADS_1


Assalamualaikum.


__ADS_2