
Keesokan harinya Almaira nampak sibuk menyiapkan makanan di atas meja, untuk sarapan pagi seluruh keluarganya.
Semua keluarga sudah berkumpul di meja makan, dan Abi mulai berbicara kepada menantunya. Sembari menunggu makanan yang masih di siapkan oleh Ummi dan Almaira.
"Alvian apa putri Abi selalu merepotkan mu?" tanya Abi Zaenal kepada menantunya.
"Abi jangan bicara begitu!, malahan selama ini putri Abi tidak pernah merepotkan Alvian sama sekali" ucap Alvian, dengan ekor mata yang melihat kepada Almaira.
"Alhamdulillah, kalau begitu Abi ikut senang dengarnya" ucap Abi Zaenal.
"Abi pagi ini setelah selesai sarapan, Alvian izin bawa Almaira jalan-jalan di sekitar kompleks ini, boleh kan?. Kayaknya di sini suasananya sangat indah" ujar Alvian, berencana mengajak Almaira jalan pagi.
"Iya boleh aja, lagian Almaira istrimu! Kamu berhak atas dirinya Alvian!" ucap Abi Zaenal, sembari tersenyum lembut kepada menantunya.
Alvian pun turut tersenyum kepada Abi Zaenal. Tidak lama dari itu, Ummi dan Almaira sudah kembali menyiapkan makanan dan bersiap menyajikannya, untuk semua anggota yang ada di meja makan.
Lantas seluruh keluarga pun segera sarapan pagi bersama. Setelah sarapan, Alvian dan Almaira pamit pergi keluar untuk jalan pagi, sebut aja joging.
Setelah keluar dari kawasan pesantren, terlihat para perempuan yang tengah menatap Alvian dengan tatapan mendamba. Almaira di buat kesal untuk itu, sedangkan Alvian yang menyadarinya hanya tersenyum melihat Almaira yang tengah cemburu.
Salah satu anak remaja perempuan nampak berani menghampiri Alvian, dan mengatakan sesuatu yang bikin Almaira menjadi lebih kesal.
"Kakak, boleh minta nomor handphone nya gak?" pinta gadis itu, belagak cantik di hadapan Alvian.
"Maaf Dek! Kakak udah punya istri!! dan istri Kakak sedang sensitif sekarang. Adek bisa minta sama siapapun tapi jangan sama saya yah" ucap Alvian memberi penjelasan, sembari melirik Almaira yang cemberut.
Gadis itu terlihat kecewa, setelah mengetahui Alvian sudah mempunyai istri. "Yaudah deh gak papa" ucap anak gadis itu, sembari berjalan kembali menghampiri temannya yang lain.
"Ayo sayang, kita lanjut jalan? tuh di depan sana ada kursi. Kita istirahat dulu di kursi itu" ajak Alvian, sembari menunjuk taman yang terletak tidak jauh dari tempatnya sekarang.
"Iya Mas" jawab Almaira, tidak bersemangat.
Alvian menyadari bahwa Almaira tengah cemburu, tapi Alvian bersikap biasa saja supaya Almaira bisa mengatakan kekesalannya kepada dirinya.
__ADS_1
Setelah sampai di kursi taman, Alvian sengaja duduk di kursi yang tidak terlalu ramai. Agar bisa leluasa mengajak Almaira berbicara.
"Sayang haus gak? biar Mas beliin minum dulu di depan sana" tanya Alvian, sembari mengusap lembut kepala Almaira.
"Enggak Mas! Maira gak haus. Mas duduk saja di sini" jawab Almaira ketus.
"Loh gitu sih sayang, kita sudah jalan lumayan jauh loh. Apa tidak capek?" tanya Alvian, soraya memancing Almaira.
"Gak tau ah! Mas ngeselin!!" ujar Almaira.
"Kenapa emang? Mas berbuat apa?? sehingga bikin kamu kesel" tanya Alvian, pura-pura tidak tahu apapun.
"Lupakan saja! itu juga udah berlalu" ucap Almaira, ia baru menyadari sikapnya yang tidak seperti biasanya.
"Mas tahu kok kamu kenapa? Maaf Mas belum bisa menjaga diri Mas dari para wanita" ucap Alvian menatap lekat wajah cantik Almaira.
"Iya gak papa Mas!, lagian wajar Maira bersikap begini. Karena mungkin Maira tidak suka melihat Mas dekat-dekat sama wanita lain!"
"Mulai dari sekarang dan seterusnya, Mas akan mencoba memantaskan diri, untuk bisa terus membahagiakan mu" ucap Alvian, tanpa keraguan sedikitpun.
"Sini dong, peluk Mas dulu" ucap Alvian, memeluk tubuh Almaira.
"Ehh, Mas jangan di sini!, lihat ini tempat umum takutnya ada yang melihat kita" ucap Almaira, sedikit malu.
"Kita kan suami istri, gak papa kan?" balas Alvian, tidak memperdulikan sekeliling.
"Iya, tapi kan ini tempat umum? banyak orang yang tidak tahu hubungan kita. Takutnya mereka beranggapan tidak baik, apalagi di sini banyak anak remaja. Nanti mereka kebawa tidak baik juga" ucap Almaira menjelaskan.
"Iya sayang, sekarang kita pulang saja yuk?. Nanti Mas bisa lanjutin di rumah" ucap Alvian, soraya tertawa kecil.
"iya-iya! terserah Mas sajalah" ucap Almaira pasrah, meskipun tidak tahu apa yang akan Alvian lakukan nanti di rumah.
"Nah gitu dong, yuk?" ajak Alvian pada Almaira.
__ADS_1
Almaira pun langsung menuruti ucapan suaminya, yang ingin mengajaknya pulang. Di perjalanan pulang, Almaira dan Alvian terus bercanda tawa. Sampai tidak terasa mereka telah memasuki kawasan pesantren Ar-Rasyid.
Seketika Alvian menatap nanar para santri laki-laki yang berpakaian rapih, dengan menggunakan sarung dan peci. Alvian merasa malu di kelilingi para santri yang berpendidikan tinggi dan sopan, sedangkan dirinya belum bisa seperti mereka yang punya banyak ilmu.
"Mas kenapa mas menatap mereka seperti itu?" tanya Almaira kepada suaminya.
"Mas cuma kagum saja sama mereka yang terlihat bahagia meskipun sederhana" ucap Alvian seadaanya.
Lantas Almaira tersenyum kepada suaminya "Begitulah para santri mas, meskipun jauh dari orang tua tapi tetap mereka terlihat bahagia, karena mereka mempunyai tujuan mencari ilmu untuk membahagiakan orang tuanya" ucap Almaira memberikan penjelasan.
"Istri Mas memang hebat" balas Alvian dengan kembali menggenggam tangan Almaira.
Perlahan Alvian pun kembali melanjutkan jalannya bersama Almaira yang menunduk, di saat melewati para santri laki-laki yang tadi sempat di lihat oleh Alvian.
Sekarang Alvian tahu betul istrinya itu sangatlah terjaga, sampai melewati laki-laki lain saja menundukkan pandangannya. Sungguh Alvian sangat beruntung mendapatkan seorang istri yang shalihah seperti Almaira.
Sampai pada depan pintu rumah Abi Zaenal, Alvian bersama Almaira di sambut hangat oleh Ummi Siti. Yang sempat ingin keluar sebentar.
"Assalamu'alaikum, Ummi" ucap Almaira, sembari mencium lembut tangan Ummi Siti, begitu pun Alvian.
"Wa'alaikumsalam, gimana nak Alvian suka gak, sama tempat di sini?" tanya Ummi pada Alvian.
"Iya Ummi, di sini udaranya sangat segar" jawab Alvian, sembari tersenyum lembut.
"Yasudah kalian masuk saja, minum dulu gih? pasti kalian capek" ucap Ummi Siti, kepada pasangan suami istri tersebut.
"Iya Ummi" ucap Almaira.
"Ummi tinggal dulu yah, soalnya Ummi mau ngajar anak santriwati dulu" ujar Ummi Siti.
"Iya Ummi, Maira do'akan supaya lancar mengajarnya Ummi" ucap Almaira, soraya tersenyum lembut kepada Ummi Siti.
"Terimakasih do'anya putri Ummi" ucap Ummi Siti, sembari pergi meninggalkan Almaira dan Alvian.
__ADS_1
Almaira hanya mengangguk, dan segera masuk ke dalam rumah bersama Alvian. Setelah masuk ke dalam rumah, Almaira bergegas pergi ke dapur, membuatkan minuman segar untuk dirinya dan suaminya.
Lantas Alvian tersenyum, dengan perhatian kecil yang selalu Almaira berikan kepadanya.