
Aditya hanya tertunduk malu dengan semua kesalahannya. "Maaf Almaira, aku sama sekali tidak bermaksud menghina suamimu, aku hanya tidak tahu bahwa kamu sudah menikah."
Almaira menarik napasnya guna meredam kemarahan yang kini tengah memuncak. "Maira sudah memaafkan Kak Aditya, ini semua juga bukan sepenuhnya salah Kak Aditya, kalau begitu kami pulang duluan. Maaf karena Maira, kak Aditya menjadi salah paham," lirih Almaira merasa bersalah.
Almaira memegang tangan suaminya, mengajaknya untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Mas, ayo kita segera pulang!" ajak Almaira segera.
"Tapi, Maira?" Alvian nampak bingung dengan situasi yang mereka alami barusan.
Almaira seakan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya itu. "Sudah Mas, nanti kita bicarakan kembali di rumah."
Alvian hanya mengangguk menuruti kemauan istrinya, dengan masuk ke dalam mobil bersama dengan Almaira.
Perlahan mobil itu melaju meninggalkan kawasan Rumah Sakit Surya Jaya, sedangkan Aditya hanya mematung menatapi kepergian Almaira bersama dengan suaminya.
__ADS_1
Di dalam perjalanan menuju rumah, Alvian nampak terdiam melihat istrinya yang juga tidak mengatakan sepatah kata pun kepada dirinya. Sampai pada mereka berdua telah sampai di rumah mereka. Dan suasana pun berubah menjadi canggung, di saat mereka berdua telah berada dalam satu kamar yang sama.
Alvian nampak tidak bisa menahan diri untuk menanyakan sesuatu kepada Almaira. "Sayang," panggilnya pada istri cantiknya.
"Iya, ada apa Mas?"
"Sini duduk dekat Mas," ajak Alvian dengan menepuk tempat kosong di sampingnya.
Almaira menuruti permintaan suaminya sembari berjalan mendekati tempat tidur yang suaminya sedang tempati.
Dengan lembutnya, Alvian menyandarkan kepala istrinya kepada pundak kokoh miliknya.
Almaira nampak bingung untuk menjawabnya. "Bagaimana tidak nyaman? Mas adalah suami Maira yang selalu memberikan tempat dan sandaran paling nyaman untuk Maira. Lantas, alasan apa lagi yang membuat Maira tidak nyaman berada di dekat Mas?"
"Awalnya Mas berpikir bahwa pernikahan kita tidak akan pernah bisa bertahan lama. Mas merasa Mas itu tidak layak menjadi pendampingmu."
__ADS_1
"Jangan pernah katakan itu lagi Mas! Kita tidak tahu kedepannya hubungan pernikahan kita akan seperti apa? Jadi, tolong Mas jangan merasa tidak pantas berada di samping Maira. Apapun yang terjadi di masa depan, biarkan itu menjadi rahasia Allah swt, karena kita tidak tahu rencananya di masa depan."
"Lalu apa yang kamu katakan tadi kepada laki-laki itu benar adanya?"
"Tidak perlu Mas ragukan lagi, Maira mengucapkannya tulus dari hati bukan semata-mata untuk menghindari keributan"
"Kamu sungguh baik sudah mau menerima aku sebagai suamimu yang sebenarnya tidak layak mendapatkan gelar seperti itu. Kamu sudah tahu persis sifat aku yang seperti apa, tapi kamu tetap mau mengakui diriku sebagai seorang suami yang sempurna di hadapan orang lain."
Almaira hanya tersenyum simpul mendengarkan pernyataan dari suaminya.
"Aku tidak sebaik yang Mas pikirkan, aku hanyalah seorang istri yang berusaha menjadi lebih baik di hadapan suaminya, karena pada hakikatnya, wanita tidak akan pernah bisa menjadi yang terbaik di atas suaminya sendiri."
"Lantas apa gunanya Mas sebagai seorang suami? Mas tidak pernah bisa membuat kamu bahagia karena selama ini hanya luka dan air mata yang Mas selalu berikan kepadamu."
"Maka mulailah dari sekarang untuk merubah diri Mas menjadi lebih baik. Sejatinya wanita hanya ingin di bimbing bukan membingbing,"
__ADS_1
"Terima kasih sayang, karena kamu telah memberikan banyak hal di dalam hidup Mas. Mas akan berusaha memberikan yang terbaik pula untuk mu sayang," ucap Alvian tulus.
Alvian memeluk erat tubuh Almaira dengan membaringkan tubuhnya ke tempat tidur, lantas mereka berdua pun tertidur dengan nyenyak tanpa ada beban pikiran yang terus menggangu Alvian lagi.