
Saat acara makan sedang berlangsung, Fatimah tidak sengaja bertemu dengan Nisa. Bukan karena apa, Nisa tidak sempat melihat sahabatnya itu karena banyaknya tamu yang datang sehingga sulit untuk mencarinya.
"Nisa!" panggil Fatimah yang berjalan menghampirinya bersama dengan Reza.
"Eh, Fatimah. Kamu juga datang ke sini?" Nisa pun terlihat sangat bahagia dengan kedatangan sahabatnya itu.
"Iya, aku diundang sama Dokter Linda," jawab Fatimah sembari tersenyum.
"Eh, kamu ke sini bersama siapa, Nis?" tanya Fatimah sembari melihat Nisa yang hanya sendirian duduk di kursi tamu.
"A--aku ...." Belum sempat Nisa membereskan ucapannya. Seorang laki-laki dengan pakaian yang rapih berjalan menghampirinya.
"Sayang," ucap Fahmi dari arah belakang Fatimah sehingga ia tidak tahu bahwa itu adalah Fatimah.
Lantas Fatimah pun melihat kepada sumber suara, dan ternyata suara itu berasal dari seorang laki-laki yang sangat ia kenali.
"Fahmi?" ucap Fatimah di saat melihat Fahmi mencium pecuk kening Nisa.
Dengan begitu, Fahmi pun melihat kepada suara yang memanggilnya. Namun, bertapa terkejutnya ia, karana melihat wanita yang telah diabaikannya.
"Apa yang kamu lakukan kepada Nisa?" tanya Fatimah dengan wajah yang sudah sangat marah, dan tidak seperti biasanya yang hanya pendiam.
"Fatimah, a--aku ...," ucap Fahmi terbata dan tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya kepada Fatimah.
"Aku apa?" desak Fatimah.
"Dek, jangan marah dulu. Itu tidak baik, tenangkanlah diri Adek dulu," ucap Reza yang berada di sampingnya.
"Tapi, Kak. Dia sudah keterlaluan sama Nisa, dia ...."
"Cukup, Fatimah! Jangan dilanjutkan lagi, aku bisa jelasin," ucap Nisa dengan penuh keberaniannya.
"Apa hubungan kamu sama Mas Fahmi, Nis?" tanya Fatimah dan suasana menjadi lebih tenang.
"Sebenarnya, Mas Fahmi itu suamiku," jelas Nisa dengan tertunduk.
"Apa, suami?" Fatimah nampak tidak percaya dengan penjelasan dari sahabatnya itu.
"Iya, Fatimah. Sekarang Nisa adalah istriku," ujar Fahmi dengan keberaniannya.
"Kalian kapan menikah? Kok bisa kayak gitu? Nisa, kamu juga enggak kasih tahu aku kalau kamu sudah menikah?"
Rasanya Fatimah tidak bisa lagi menahan unek-uneknya karena dalam sekejap, kenyataan yang mengejutkan ini terjadi dengan begitu saja.
__ADS_1
"Pernikahan kami dilakukan secara mendadak, dan aku tidak sempat mengundang kamu, Fatimah," lirih Nisa dan terlihat tidak enak kepada sahabatnya itu.
Hening, dan Nisa kembali berkata, "Maafkan aku, Fatimah."
Lantas, Fatimah pun tersenyum dan mendekati Nisa. "Tidak perlu meminta maaf, Nis. Kamu tidak punya salah apa pun sama aku," ucap Fatmah sembari mengelus pundak Nisa.
"Tapi, aku sudah tidak enak sama kamu, Imah." Nisa terlihat bagitu sendu menatap wajah Fatimah.
"Aku tahu, mungkin kamu akan merasakan itu. Namun, tenanglah, Nis. Aku tidak papa, lagi pula aku sudah ada Kak Reza," ucap Fatimah supaya membuat Nisa percaya.
"Fatimah, maafkan aku. Aku sudah melakukan perbuatan yang sangat tidak baik terhadapmu. Untuk mendapatkan maaf saja, aku sudah tidak pantas mendapatkannya darimu," lirih Fahmi dengan penyesalannya.
"Tidak perlu diungkit lagi, aku sudah memaafkanmu. Untuk sekarang, jangan pernah sakiti hati istrimu ini. Mungkin Nisa tidak pernah memperlihatkanya, tapi aku tahu sahabatku ini sangat baik." Fatmah tetap bersikap lemah lembut, walaupun sudah disakiti dan diuji oleh orang-orang yang tidak suka dengannya.
"Iya, Fatimah. Aku tidak akan pernah menyakitinya karena Nisa sudah memberikan banyak hal baru kepadaku," ucap Fahmi dan Nisa pun tersenyum.
Fatimah tidak lagi meragukannya, karena dari cara bicara Fahmi saja sudah sangat berbeda dari sebelumnya. Sikapnya saja sudah berbeda, dan terlihat sangat menyayangi Nisa yang telah menjadi istrinya.
"Kalau begitu, aku ikut bahagia dengan pernikahanmu." Fatimah mengusap pelan tangan Nisa
"Terima kasih, Fatimah." Nisa pun langsung memeluk tubuh sahabatnya itu.
Lain halnya dengan dua pria yang melihat susana indah itu. Mereka hanya tersenyum melihat istrinya yang terlihat bahagia, bahkan Reza bersikap santai dan tidak marah sama sekali, karena ia juga tahu bahwa Fahmi sudah mengakui kesalahannya sehingga tidak perlu lagi marah.
Setelah itu, Fatimah pun kembali duduk di dekat suaminya. Dia sengaja melakukan itu untuk memberi ruang duduk kepada Fahmi.
Namun, tidak lama dari itu. Reza merasa ada yang aneh di dalam dirinya. Dan tiba-tiba saja ia merasa mual, padahal tidak ada yang aneh dengan makanannya, tapi Reza merasa tidak nyaman dan ingin segera ke kamar mandi.
"Kak, kamu kenapa?" tanya Fatimah karena melihat wajah suaminya yang mulai bercucuran keringat sebiji jagung.
"Tidak papa, Dek." Reza tidak jujur kepada istrinya dan hanya diam, walaupun sudah merasa tidak nyaman.
"Jangan bohong, Kak," kata Fatimah sembari mengamati gerakan suaminya yang tidak seperti biasanya.
"Kakak ingin ke kamar mandi, maaf yah. Saya tinggal dulu." Reza pun segera pergi dari tempat duduknya, dan meninggalkan Fatimah yang hanya heran melihat tingkahnya.
"Nis, aku mau nyusul suamiku dulu yah, takutnya terjadi apa-apa," ucap Fatimah kepada sahabatnya itu.
Lantas Nisa pun mengangguk dan dengan segera, Fatimah menemui suaminya yang tidak tahu kenapa, tingkahnya sangat berbeda dari hari biasanya.
Sesampainya Reza di kamar mandi, ia terlihat begitu lemas dan tidak bersemangat. Telebih lagi, pada saat istrinya masuk, ia melihat dirinya yang sedang memuntahkan isi makanannya.
"Astaghfirullah. Kakak kenapa?" tanya Fatimah dengan hawatir, ia menghampiri Reza dengan wajah yang sudah sedikit kaget.
__ADS_1
"Kakak kayaknya masuk angin," ucap Reza dengan kondisi yang kurang fit.
"Oh, kenapa enggak bilang sama Adek tadi?"
"Kakak enggak mau buat Adek khawatir."
"Ya udah, kita tidak akan lama di sini biar Kakak bisa istirahat," ucap Fatimah dengan perhatian.
"Jangan, nanti Adek tidak bisa melihat pernikahan Dokter Linda sampai selesai. Kakak tidak papa, mungkin sebentar lagi sembuh kok," ujar Reza sembari tersenyum simpul.
Untuk itu, Fatmah tidak tega melihat suaminya dengan keadaan yang tidak terlalu sehat.
"Jangan pikirkan itu, Kak. Adek bisa mengatakannya kepada Kak Linda, dia juga pasti bisa mengerti dengan keadaannya."
"Tapi, Dek ...," lirih Reza yang sudah tidak enak melihat istrinya itu.
"Sut! Sudah jangan membantah, kesehatan Kakak lebih penting, maka Adek akan memberikan perawatan yang tebaik si rumah," ujar Fatmah dan segera keluar dari kamar mandi itu.
Dikarnakan pernikahannya dilangsungkan di rumah Linda, maka Reza pun izin ke kamar mandi yang ada di rumahnya. Dan jika dibiarkan akan mengusik ketenangan para tamu.
Setelah itu, Fatimah dan Reza pun kembali ke tempat duduknya dan Nisa masih ada di sana bersama dengan suaminya.
"Fatimah, suami kamu kenapa?" tanya Nisa karena melihat Reza yang lemas.
"Kak Reza lagi kurang semangat, ada kemungkinan aku tidak akan lama berada di sini." Fatimah nampak memberi penjelasan.
"Iya, tidak papa. Lagi pula Kakakku tidak akan marah kok," ujar Nisa sembari tersenyum.
"Kakak?" tanya Fatmah dengan heran.
Nisa yang menyadari itu hanya tersenyum saja. "Iya, Kak Aditya adalah Kakakku. Dia baru menikah sekarang dan aku juga baru tahu bahwa Kakakku akan menikah dengan Dokter Linda," jawabnya sembari melihat kakaknya yang sedang berbahagia di kursi pelaminan.
"Jadi, Dokter Aditya itu Kakakmu? Maaf, Nis. Aku baru tahu sekarang," ucap Fatimah dan Nisa menanggapinya dengan tersenyum simpul saja.
"Iya, tidak papa. Aku doakan, semoga Tuan Reza segera sembuh yah," kata Nisa.
"Aamiin, terima kasih atas doanya, Nis." Fatimah pun segera menemui Dokter Linda dan berpamitan untuk pulang.
.
.
.
__ADS_1
Assalamualaikum.
Jangan lupa, Like dan Komentarnya juga yah😊.