Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 130. Kebahagiaan Wanita-wanita Muslimah ( End )


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Kini perut Almaira terlihat membesar, karena sudah memasuki usia kandungan sembilan bulan. Oleh karena itu, ia menjadi sedikit kesusahan untuk mengerjakan banyak hal sehingga, ia hanya berdiam diri di rumah saja.


Lain halnya dengan Sintia, dia sudah sedikit berubah dan berteman baik dengan Almaira, bahkan sudah bisa dipastikan bahwa Sintia tidak lagi melakukan hal buruk lagi kepada Almaira, dan tidak kembali mengusik Alvian.


Pada hari ini, kebetulan Almaira sedang berkumpul di rumahnya bersama dengan Fatimah dan Linda. Kelihatannya mereka sangat bahagia, dan saling berbincang bersama, bahkan suami-suami mereka juga ada di sana, menemani istrinya.


Usia kandungan Fatimah juga sudah memasuki bulan ketiga, sehingga belum kelihatan membesar perutnya. Namun, ia sangat bahagia karena dengan kehamilannya ini, membuatnya merasa sempurna.


Mereka hanya berbincang bersama mengenai kehidupan, dan saling berbagi ilmu. Apalagi, Linda terlihat sangat bahagia karena bisa meluangkan waktu bersama seperti ini dengan sahabatnya, dan suaminya—Aditya juga terlihat sangat menyayanginya dan tidak lagi memikirkan tentang Almaira. Dia sudah mengangap Almaira sebagai teman saja.


Perbincangan itu cukup seru karena berkumpul bersama, dan kebetulan juga libur bekerja sehingga bisa meluangkan banyak waktu untuk bersama.


"Assalamualaikum," ucap seseorang di luar sana dan Almaira sudah mengenali suaranya.


"Wa'alaikumsalam, masuk saja, Sintia. Pintunya tidak dikunci, kok," ujar Almaira dan pintu pun telihat dibuka oleh seorang perempuan yang tidak lain, ialah Sintia.


Sintia sangat terkejut, melihat banyaknya orang yang berada di rumah Alvian. Ia terlihat sangat malu untuk bergabung dengan Almaira dan yang lainnya, terlebih lagi kesalahannya dulu sangat membuatnya malu untuk bertemu dengan Almaira, walaupun ia sudah memaafkan dirinya.


"Mari ke sini, Sintia. Kebetulan kita sedang berkumpul," ajak Almaira dan Sintia hanya tersenyum simpul saja.


Perlahan, Sintia melangkahkan kakinya untuk menghampiri Almaira dan yang lainya meskipun, ia sangat malu.


Dengan begitu, Sintia pun duduk di samping Almaira sembari tersenyum kepada yang lainnya.


"Almaira, siapa dia?" tanya Linda karena baru tahu bahwa sahabatnya itu memiliki teman selain dirinya.


"Oh iya, aku lupa mengenalkannya sama kamu. Lin, ini Sintia," ucap Almaira sembari memperkenalkan Sintia kepada adik dan sahabatnya.


Lantas Sintia pun tersenyum dan melihat kepada Linda. "Salam kenal semuanya," ucapnya dan semua orang yang barada di sana, melihat kepadanya.


Namun, para suami dari wanita-wanita yang ada di sana hanya melihatnya sekilas, dan kembali mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Mereka melakukan itu semua supaya terhindar dari dosa, karena Sintia masih menggunakan pakaian yang seksi.


Dengan begitu, Reza, Aditya, dan Alvian tidak terlalu melihatnya. Untuk itu, istri-istrinya juga bisa mengerti, dengan apa yang dilakukan suaminya. Bagaimanapun itu, mereka juga tahu bahwa pada saat ini, suaminya sedang berusaha menjaga pandangannya dari yang bukan mahramnya.


"Salam kenal juga, Sintia. Saya Linda dan ini adik dari Almaira, Fatimah." Linda mengenalkan dirinya dan Fatimah kepada Sintia.


Sintia hanya tersenyum sembari melihat kepada Fatimah dan Linda yang sama-sama mengunakan pakaian panjang seperti Almaira, sedangkan dirinya hanya menggunakan pakaian yang minim. Maka dari itu, ia hanya bisa menunduk malu karena tidak mengunakan pakaian yang tertutup.


Jadi, wajar saja semua laki-laki yang ada di sana, terlihat mengabaikan keberadaannya. Oleh karena itu, Sintia mengerti karena semua itu terjadi sebab dirinya juga.


Tidak susah bagi Sintia untuk berteman dengan Fatimah dan Linda, karena sikap mereka juga ramah sama seperti Almaira. Maka dari itu, dengan sekejap ia bisa berteman baik dengan keduanya.

__ADS_1


Meskipun begitu, ia dulunya tidak pernah menyukai Almaira, dan menganggap rendah Almaira karena memakai pakaian yang ketingalan jaman, menurutnya. Namun, pada kenyataannya Almaira sangat baik, dan tidak pernah menyakiti hatinya walaupun sedikit.


Akan tetapi, di saat mereka sedang asik berbincang. Almaira merasakan perutnya sakit dan tidak bisa menahannya, bahkan sakitnya amat sangat baginya.


"Aghh! Astaghfirullahaladzim!" rintih Almaira sembari memegang perutnya yang sakit.


"Sayang, kamu kenapa?" Alvian langsung mendekati istrinya dan duduk di samping Almaira sembari mengelus kepalanya.


"Mas! Perutku sangat sakit. Astaghfirullah! Almaira tidak bisa," rintih Almaira yang sangat kesakitan.


"Alvian, kayanya Almaira akan segera melahirkan." Linda menghampiri Almaira dan memeriksanya.


"Apa? Kalau begitu, sekarang kita harus segera membawa istriku ke rumah sakit," ujar Alvian yang sudah telihat sangat panik, dan tidak bisa terus-terusan melihat istrinya kesakitan.


"Iya, lebih baik begitu karena di rumah sakit peralatannya sangat lengkap," ucap Linda menyetujui saran dari Alvian.


Maka dari itu, mereka pun langsung bersama membawa Almaira ke Rumah Sakit Surya Jaya. Begitu pula dengan Sintia, dia ikut bersama mereka.


Setelah sampainya mereka di rumah sakit, lantas Linda pun segera melaksanakan tugasnya untuk membantu persalinan Almaira.


"Kalian tunggu di sini dulu, biar aku yang membuatu Almaira," kata Linda yang sudah siap dengan memakai pakaian dokternya.


"Aku ingin menemani istriku di dalam," ucap Alvian tiba-tiba.


Dengan begitu, Fatimah, Reza, dan Aditya hanya bisa mendoakan keselamatan untuk Almaira dan calon anaknya. Begitu pula dengan Sintia yang ikut mendoakannya, karena ia juga sangat bersalah kepada Almaira.


Tidak lama dari itu, suara tangisan bayi terdengar menggema di ruangan persalinan Almaira. Lantas, Alvian pun mengucapkan rasa syukur karena anak dan istrinya bisa selamat.


"Alhamdulillah, bayinya sudah lahir," ucap Reza dan Fatimah mengangguk karena terdengar jelas suara tangisan bayi itu.


Dokter Linda pun keluar dari dalam ruangan persalinan untuk memberitahukan kabar gembiranya.


"Kak Linda, Kak Almaira bagaimana?" tanya Fatimah dengan sangat penasaran.


"Alhamdulillah, Almaira serta anaknya selamat," jawab Linda sembari tersenyum senang.


"Alhamdulillah. Kak, bolehkah aku melihat Kak Maira?" Fatimah terlihat sangat ingin menemui kakaknya.


"Iya, boleh, Fatimah."


Mendengar jawaban dari Linda, Fatimah serta yang lainnya pun segera masuk ke dalam ruangan Almaira.


Di dalamnya, terlihat Alvian sedang mengadzani anaknya yang baru lahir, dan suaranya sangat merdu walaupun sempat menangis.

__ADS_1


Setelah itu, Alvian tersenyum kepada istrinya yang sudah berjuang melahirkan anaknya.


"Terima kasih, sayang karena telah memberikan cinta dan putra kecil kita yang sangat tampan ini," kata Alvian sembari memberikan anaknya ke pangkuan Almaira.


Almaira tersenyum dan mencium anaknya dengan penuh kasih sayang, bahkan kesakitiannya sewaktu melahirkan itu sudah menghilang begitu saja, dengan hadirnya putra kecil mereka. Dan iya, Almaira melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan.


Oleh karena itu, Fatimah langsung mendekati kakaknya dan melihat keponakannya yang baru saja lahir. Ummi Siti dan Abi Zaenal juga sudah berada di sana. Begitu pula Ayah Ahlan, dan kakak Almaira yang lainnya, karena Fatimah sempat menghubungi kedua orangtuanya.


"Sintia, ke sini," ajak Almaira dan ia hanya menunduk malu dan mendekati Almaira.


Setelah Sintia melihat anak dari Almaira, ia mengeluarkan air matanya karena merasa sangat bersalah. Dulu ia sudah pernah mencoba menghilangkan nyawa bayi itu, tapi sekarang lihatlah, bayi itu lahir dengan sangat sempurna, bahka ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Alvian, apa kamu sudah menyiapkan nama untuk anakmu itu?" tanya Aditya dan Linda hanya tersenyum mendengar perkataan suaminya itu.


Alvian tersenyum sembari melihat anaknya yang berada di pangkuan Almaira.


"Ahmad Alzam Amani, itu namanya dan nama panggilannya Alzam," ucap Alvian yang sudah menyiapkan nama yang indah untuk putra kecilnya.


Setelah mendengar nama yang diberikan oleh Alvian untuk anaknya, semua orang sudah sangat menyukai nama itu. Terutama Abi Zaenal yang sangat menyukai nama itu karena memiliki arti yang sangat bagus.


"Namanya sangat indah. Alzam, dari namanya saja, Abi yakin bahwa ia akan tumbuh dengan segudang kemampuannya," ujar Abi Zaenal sembari melihat kepada Alzam.


Kini semuanya sudah mendapatkan kebahagiaannya sendiri, Almaira bahagia dengan suami dan anaknya. Linda bersama laki-laki pilihannya, Aditya. Dan Fatimah dengan cinta impiannya, yaitu Reza. Begitu pula dengan Nisa yang sudah bahagia bersama suaminya, Fahmi. Walaupun demikian, pernikahannya dulu tidak pernah diinginkan oleh Fahmi.


Mereka semua sudah menjadi istri serta wanita muslimah yang baik, sedangkan Sintia. Dia sedang berusaha untuk bisa mejadi wanita yang bikin, seperti Almaira dan yang lainnya. Walaupun demikian, ia sudah banyak berbuat dosa.


...~{ End }~...


.


.


Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.


Terima kasih untuk pembaca novelku, kalian sudah sangat menyemangati saya untuk bisa menyelesaikan novel ini. Terutama kepada para pembaca setia novel ini yang sudah memberikan semangat menulis bagi saya.


Maafkan saya juga jika masih banyak salah dan penyampaian yang kurang berkenan bagi kalian, karena ini juga novel pertama saya. Maka dari itu, saya sangat bahagia karena kalian mendukung penuh novel pertamaku ini.


Saya sangat senang, karena kalian sudah mau menunggu updete terbaru dari novel ini. Dan maafkan saya atas keterlambatan untuk mengupdate episode baru nevelnya.


Terlebih lagi, dukungan kalian selama ini, sangat membuatku semangat untuk menulis novel yang baru lagi.


Salam sayang dariku😊. [ Lina Handayani ]

__ADS_1


__ADS_2