
"Apa katamu? Aku wanita murahan?" Sintia mulai tersulut emosi.
"Iya, itulah panggilan yang pantas kamu dapatkan!" tegas Alvian dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Terserah, apapun tanggapan darimu tentang diriku, semua itu tidak akan pernah bisa merubah perasaan aku terhadap dirimu, Alvian."
"Lalu apa yang kamu mau dariku?" tanya Alvian.
"Kamu bertanya apa kemauanku? Oke, aku akan katakan. Aku ingin kita menikah! Dan kamu, Alvian Alvaro akan menjadi milikku untuk selamanya!" ucap Sintia percaya diri.
"Tidak, itu tidak mungkin! Aku sudah mempunyai istri, dan aku tidak mungkin menduakannya," tolak Alvian secara mentah.
"Aku tidak perduli, mau kamu mempunyai istri ataupun tidak. Aku akan tetap berusaha untuk mendapatkanmu!"
"Sintia, apa kamu itu bodoh? Ingin memiliki pria yang sudah beristri. Kamu ingat baik-baik ya, sampai kapan pun, aku tidak akan pernah meninggalkan istriku!"
"Mau sampai kapan kamu bertahan dengan istrimu itu? Aku tahu kamu tidak mencintainya, kan? Kamu menikahi gadis itu karena permintaan Ibumu, bukan?" Sintia terlihat begitu angkuh.
__ADS_1
"Kamu tahu semua itu dari siapa?" tanya Alvian heran.
"Tidak penting, aku tahu semua itu dari siapa, tapi yang pasti, kamu tidak mencintai istrimu itu."
"Kata siapa aku tidak mencintai istriku? aku mencintainya, bahkan lebih dari kata mencintainya sendiri. Memang aku tidak pernah mengenal istriku sebelum kami menikah, tapi sekarang dia menjadi wanita yang amat aku sayangi," ucap Alvian dengan bangga.
"Apa aku tidak salah dengar? Seorang Alvian mencintai gadis rendah seperti istrimu itu?" Tawa Sintia pecah, setelah mendengarkan pengakuan Alvian.
"Rendah katamu? Apa segitu buruknya istriku di matamu, Sintia?" tanya Alvian. "Coba sekali saja kamu berhadapan dengan istriku, maka tidak akan ada kata rendah yang keluar dari mulutmu itu!" lanjutnya.
"Apa sebegitu mulianya gadis itu di matamu, Alvian? Sampai-sampai kamu sangat memujanya?" Sintia nampak masih tidak percaya dengan kata-kata dari Alvian.
"Aku tidak akan pernah percaya sama semua ucapanmu itu Alvian, mau sekuat apapun kamu berusaha meyakinkan diriku bahwa kamu sangat mencintai istrimu itu, tetap aku akan selalu berusaha untuk mendapatkan hatimu!" Sintia masih dengan pendiriannya yang kokoh.
"Semakin kamu berbuat nekad, semakin rendaha harga dirimu di hadapanku, Sintia."
"Jika kamu tidak mampu dikalahkan dengan ucapan, maka kamu akan kalah dengan tindakan." Sintia mulai duduk di pangkuan Alvian dan mulai menggila di sana.
__ADS_1
"Sintia menyingkirlah dari tubuhku! Kamu tidak bisa seenaknya seperti ini," imuh Alvian dengan sangat geram.
"Aku yakin kamu tidak akan pernah tahan jika aku sudah seperti ini," kata Sintia dengan senyum di bibirnya.
"Apa yang kamu lakukan sangat keterlaluan, Sintia! Cukup, aku akan pergi dari sini!"
Dengan segala kekuatannya, Alvian mendorong tubuh Sintia tanpa rasa kasihan. Dengan langkah lebarnya, Alvian pergi meninggalkan Sintia yang terlihat kesal dengan kepergian Alvian yang secara tiba-tiba.
Tanpa memberitahukan siapa pun, Alvian pergi begitu saja dengan menggunakan mobilnya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Almaira, aku harus bertemu denganmu, sekarang juga!" Keputusan Alvian sudah bulat, ingin segera menemui istrinya kali ini, tanpa sepengetahuannya.
Sesampainya Alvian di Rumah Sakit Surya Jaya yang menjadi tempat Almaira berkerja menjadi seorang dokter. Alvian langsung menanyakan ruangan, tempat Almaira berada sekarang.
Dengan tergesa-gesa, Alvian masuk ke dalam ruangan khusus Almaira, tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. Dan di sana sudah ada Almaira yang terlihat sedang fokus dengan berkas di tangannya yang berisikan tentang kesehatan pasien yang sedang dirinya tangani.
"Astaghfirullah, Mas kamu kenapa?" Saking kagetnya, Almaira sampai berdiri dari kursinya, dan menghampiri suaminya.
__ADS_1
Tanpa ada kata yang di ucapkan, Alvian langsung memeluk tubuh Almaira. "Mas ada apa ini? Kenapa Mas seperti ini??" tanya Almaira heran.