Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 102. Semoga Cepat Nyusul


__ADS_3

Keesokan harinya, Reza menepati ucapanya yang ingin menemui Alvian di rumahnya bersama dengan Fatimah. Tidak lupa juga Fatimah membawa buah tangan untuk kakaknya yang sedang hamil, ia tahu orang hamil pasti harus memakan makanan yang sehat dan bergizi. Maka dari itu, Fatimah membawa buah untuk Almaira.


Tidak butuh waktu lama untuk Reza sampai di rumah Alvian karena jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Dengan begitu, Reza langsung saja menggandeng istrinya dan berjalan memasuki rumah Alvian.


"Kak, apa ini benar rumah suaminya Kak Almaira?" tanya Fatimah karena melihat bangunan yang begitu besar dan mewah.


"Iya, Dek." Reza menjawabnya sembari tetap berjalan dan mengetuk pintu rumahnya.


"Assalamualaikum," ucap Reza dan Fatimah yang segera di sambut oleh Bi Sumi.


"Wa'alaikumsalam." Bi Sumi membuka pintunya dan dia terlihat begitu ceria di saat melihat Reza dan Fatimah.


"Eh, Nak Reza. Mau bertemu dengan Den Alvian, yah? Kalau begitu, silahkan masuk dulu ke dalam."


"Iya, Bi. Terimakasih," jawab Reza sembari berjalan masuk ke dalam rumah Alvian dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu bersama dengan Fatimah.


"Bibi ambilkan minum dulu," ujar Bi Sumi dan pergi ke dapur.


"Tidak usah, Bi. Enggak papa," ucap Reza yang menghentikan langkah Bi Sumi sehingga membuatnya berbalik arah ke belakang.


"Jangan gitu, Bibi akan tetap bawain. Tunggu sebentar, yah." Tanpa menunggu lama lagi, Bi Sumi langsung saja pergi ke dapur.


Setelah Bi Sumi pergi ke dapur, suasana menjadi hening dan sesaat kemudian, Almaira turun dari tangga.


"Dek," panggil Almaira yang baru menyadari kedatangan Fatimah dan Reza ke rumahnya karena sedari tadi, ia berada di kamar.


Mendengar suara kakaknya, lantas Fatimah menoleh dan melihat kepada Almaira. Terlihatlah raut wajahnya yang gembira serta senyuman yang tidak pernah pudar dari wajah calon ibu itu.


"Kak Maira, Fatimah kangen banget sama Kakak," ujar Fatimah dengan wajah gembiranya memeluk tubuh Almaira.


"Kak Maira juga kangen sama Adek." Keduanya terlihat begitu bahagia seperti dua orang yang sudah lama tidak bertemu.

__ADS_1


Setelah itu, Almaira melerai pelukannya dari Fatimah dan bertanya-tanya kepada adeknya itu. "Dek, bagaimana keadaan Adek saat ini?"


"Alhamdulillah, baik, Kak." Fatimah nampak tersenyum kepada kakaknya, seolah-olah memperlihatkan kesenangannya.


"Apa Adek sengaja datang ke sini?" tanya Almaira kembali.


"Iya, Kak. Kebetulan sudah satu minggu ini, Fatimah tinggal di rumah Kak Reza. Terus kemarin, Kak Reza ngajak Imah untuk berkunjung ke rumah Kak Almaira." Fatimah menjelaskannya kepada Almaira.


"Oh begitu, kirain Kakak, Adek masih ada di rumah Abi," ucap Almaira sembari tersenyum, sedangkan Reza yang melihat istrinya berbicara dengan Almaira hanya bisa menerbitkan senyumannya saja.


Beberapa saat dari situ, Almaira dan Fatimah duduk di sofa karena Bi Sumi sudah membawakan cemilan dan minumannya ke ruang tamu.


"Silahkan di minum, yah. Bibi permisi ke dapur lagi karena masih banyak yang harus Bibi kerjakan," ucap Bi Sumi yang kemudian kembali ke dapur.


"Iya, Bi. Terimakasih," jawab Almaira yang kembali berbincang dengan adeknya.


Kini di ruang tamu hanya ada Almaira, Fatimah, dan Reza. Namun, Reza hanya diam saja karena istri dan kakak iparnya sedang asik berbicara. Tidak lama dari itu, Alvian datang ke bawah dan menghampiri Reza sehingga ia tidak sendirian lagi.


"Enggak kok, belum lama juga."


"Kenapa enggak panggil aku dari tadi?" Alvian nampak keheranan karena Reza hanya diam saja sedari tadi.


"Enggak papa, tadinya aku takut ganggu Bos. Jadi, tunggu saja di sini sambil melihat istriku yang gembira bertemu dengan Istri Bos," ujar Reza dan membuat Alvian melirik istrinya yang sedang asik berbincang bersama adeknya.


Ternyata benar saja, Almaira nampak asik berbincang dengan Fatimah dan melupakan Reza yang sedari tadi ada bersamanya.


"Sayang!" panggil Alvian dan Almaira langsung berbalik, dengan otomatis ia jadi melihat kepada suaminya.


"Iya, Mas. Dari sejak kapan Mas ke sini?" tanya Almaira yang keheranan melihat suaminya sudah ada di ruang tamu. Setahunya, tadi itu Alvian berada di kamar.


"Barusan Mas ke sini, Mas lihat Reza hanya diam saja. Kenapa dibiarin sendirian?" Alvian melihat wajah istrinya dengan sangat dalam.

__ADS_1


"Astaghfirullah! Maira lupa," ujar Almaira dan melihat kepada Reza yang sekarang sudah menjadi adik iparnya.


"Maafin, Kakak, yah. Saking asiknya, Kakak hampir lupa sama, kamu." Almaira meminta maaf kepada Reza karena telah membiarkannya sendirian dan, ia malah asik sendiri.


Reza tersenyum. "Enggak apa-apa, Kak. Lagi pula, Fatimah jarang bertemu dengan Kakak. Jadi, wajar jika Kakak dan Adek berbincang bersama."


"Kak, maafin Adek juga." Fatimah nampak menundukkan kepalanya karena merasa bersalah kepada suaminya.


"Mendekat ke sini," pinta Reza kepada istrinya yang berada tidak jauh dari kursi yang ia duduki.


Dengan begitu, Fatimah menuruti permintaan suaminya dan duduk di samping Reza. "Mas ngerti keadaan Adek jika Kakak berada di posisi Adek, pasti Kakak akan melakukan hal yang sama seperti Adek barusan. Maka dari itu, Adek enggak bersalah. Jadi, jangan sedih lagi, yah."


Fatimah mendengarkan perkataan suaminya dengan sangat jelas. Dan kemudian, Fatimah menatap suaminya dengan wajah yang kagum. "Terimakasih, Kak."


Di sisi lain, Almaira dan Alvian yang melihatnya hanya bisa tersenyum karena sekarang Fatimah sudah menemukan pasangan yang sangat baik dan mampu mengerti keadaanya.


"Kak Maira, ini Fatimah bawain buah-buahan buat Kakak. Biar Dedek Bayinya yang di dalam bisa mendapatkan asupan yang sehat dan bergizi," jelas Fatimah dan Almaira nampak terharu dengan perhatian adiknya yang begitu memerhatikan anak di dalam kandungannya.


"Terimakasih banyak, Dek."


"Sama-sama, Kakak. Sehat-sehat, ya. Dedek bayi di dalam," ujar Fatimah sembari mengelus perut Almaira yang masih rata.


"Baik, Bibi cantik. Bibi juga cepat-cepat punya anak, yah. Biar aku ada temennya," ucap Almaira yang di ganti dengan suara anak kecil.


Mendengar itu, tiba-tiba saja Fatimah terlonjak kaget dan melihat kepada suaminya yang hanya tersenyum saja. Di dalam hatinya, sebenarnya Fatimah sudah sangat gembira karena ia juga pasti akan menjadi seorang ibu.


"Aamiin, doakan saja, Kak. Mudah-mudahan, Fatimah juga bisa diberikan kesempatan untuk menjadi seorang Ibu," ujar Fatimah sembari terus menatap wajah Reza yang hanya tersenyum terhadapnya.


"Pasti Kakak doakan. Semoga cepat nyusul, Adek kesayangan Kakak," balas Almaira dengan tersenyum dan membuat Fatimah merasa sangat bahagia.


Tidak ada yang harus dikhawatirkan lagi, karena sekarang Fatimah sudah mendapatkan suami yang begitu baik. Maka dari itu, tidak ada halangan lagi bagi ia untuk bisa mendapatkan seorang anak.

__ADS_1


__ADS_2