Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 82. Mendapatkan Jawaban


__ADS_3

Seorang wanita cantik dengan pakaian muslimah, terlihat tengah duduk disebuah kursi yang pinggiranya dipenuhi oleh bunga-bunga indah dan bermekaran.


Namun, wanita itu hanya terlihat dari belakang dan Reza mulai melangkah menghampirinya. Akan tetapi, belum saja Reza sampai melihatnya. Wanita itu berbalik dan menatapnya dengan tersenyum lembut sehingga memperlihatkan wajahnya yang begitu cantik.


Tertegun? Jawabannya iya. Dan inilah yang sekarang Reza alami, bukan hanya tertegun. Ia begitu terpesona oleh kecantikan yang dimiliki gadis itu. Satu lagi yang dapat membuatnya amat tertegun, wajahnya. Ya, wajahnya dia kenal dan pernah bertemu.


Tidak salah lagi, wajahnya tidak begitu asing bagi Reza. Dengan memastikannya, Reza melangkahkan kakinya lagi agar lebih dekat lagi dengan gadis itu. Namun, sayang sekali. Gadis itu tiba-tiba menghilang entah kemana, Reza berteriak memanggilnya.


"Hilang kemana kamu? Tolong kembalilah," ucap Reza dengan sedikit mengeraskan suaranya. Hingga ia terbangun dan menyadari bahwa itu hanyalah mimpi.


"Hahh, ini cuma mimipi." Reza menghembuskan napasnya pelan serta mengusap wajahnya.


"Mungkin inilah jawabannya dari sekian lama ku menunggu, kini telah terjawab sudah. Aku harus segera menemui gadis itu sebelum terlambat," gumam Reza yang sudah bertekad untuk menemui gadis pembawa rindu itu.


Malam ini telah membuktikan, bahwa usaha Reza untuk meminta petunjuk dari Allah SWT, telah terkabulkan. Dari petunjuk-petunjuk sebelumnya Reza telah bersabar, hingga menemukan jawabannya.


"Gelang berinisial F ini yang berartikan sebuah nama dan, ia adalah Fatimah. Ya, dia pemilik gelang ini dan gadis pembawa rindu yang aku nantikan," gumam Reza yang tidak hanya terdiam, tetapi ia juga menerka-nerka karena telah tahu jawabannya, lewat mimipi yang barusan ia alami.


Malam itu Reza hanya tersenyum dan mempersiapkan diri untuk menemui Fatimah. Sehingga malam berlalu dan bergati menjadi pagi.


Lewat cermin yang besar, Reza melihat pantulan dirinya yang tengah merapihkan pakaiannya dan tidak lupa, ia juga mengambil gelang berinisial F itu.


Dalam waktu tiga hari, apakah Reza berhasil menemui gadis pembawa rindunya, atau ia malah mundur dan memilih pergi sejauh-jauhnya? Entahlah, hanya Reza yang bisa menentukannya.


***


Sementara di rumah Abi Zaenal, Fatimah terdiam sedirian di kamarnya dengan pandangan yang kosong. Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamar Fatimah yang kebetulan pintunya tidak gadis itu kunci.


"Assalamualaikum," ucap Almaira saat memasuki kamar adiknya. Namun, hampa tidak ada jawaban dan Almaira memilih masuk ke dalam dengan melangkah, menghampiri adiknya yang terlihat sedang melamun.


"Dek?" Almaira mengusap lembut pundak Fatimah sehingga membuat sang empunya terperanjat, kaget.

__ADS_1


"Eh, Kak Maira. Sejak kapan kakak datang ke sini?" tanya Fatimah soraya menyembunyikan rasa keterkejutannya.


"Baru saja kakak masuk ke sini. Apa Imah enggak lihat, Kakak berjalan menghampiri Fatimah?" tanya Almaira yang mulai keheranan dengan sikap adiknya.


"Maaf kak, Fatimah tidak menyadari kedatangan Kak Maira." Fatimah terlihat sangat tegang karena Almaira menatapnya dengan sangat tajam.


"Apa yang kamu pikirkan, Dek? Kakak lihat tadi Imah melamun, sampai-sampai tidak menyadari kedatangan kakak," tanya Almaira dengan penuh selidik.


"Enggak kak, Imah enggak melamun," sangkal Fatimah yang tidak mau Kakaknya khawatir dengan keadaannya.


"Jangan bohong, Kakak tahu kamu lagi banyak masalah. Coba ceritakan sama kakak," tutur Almaira sembari duduk di samping Fatimah.


"Imah tidak tahu harus mengatakan apa," lirih Fatimah dengan tertunduk.


Almaira tersenyum. "Coba ceritakan sidikit yang membuat hati Adik, tidak tenang."


"Ta--tapi kak," ucap Fatimah yang sedikit ragu untuk menceritakannya kepada Almaira.


Mendengar suara Ummi Siti yang memanggilnya sehingga membuat keduanya menoleh ke sumber suara.


"Iya, Ummi ada apa?" tanya Almaira.


"Suami kamu nyariin tuh," jawab Ummi Siti sembari tersenyum. Tidak lupa juga wajahnya memancarkan kegembiraan, seakan telah mendapatkan kabar yang gembira.


"Baiklah, Maira mau menemui Mas Alvian dulu. Fatimah, Kak Maira tinggal dulu, yah." Almaira berpamitan kepada Adiknya karena dia tidak bisa mendengar ceritanya. Untungnya Fatimah mengerti sehingga ia menganggukkan kepalanya sebagai tanda, persetujuan.


Lantas Almaira bergegas meninggalkan kamar Fatimah dan menemui suaminya yang berada di ruang tamu bersama Abinya.


Saat Alvian tengah berbincang dengan Abi Zaenal, Almaira datang dan duduk di samping suaminya. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun sehingga Alvian menyadari kehadiran sang istri.


"Sayang, kamu barusan udah dari mana?" tanya Alvian yang sempat kebingungan karena istrinya sempat menghilang.

__ADS_1


"Maira barusan menemui Adiku dulu, Mas." Ingin sekali Almaira tertawa melihat wajah suaminya yang cemas karena ia sempat menghilang sebentar.


"Oh, gitu yah." Alvian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena terlalu posesif terhadap istrinya.


Abi Zaenal diam-diam tersenyum melihat interaksi antara putrinya dengan menantunya. Mereka terlihat begitu manis bahkan membuatnya tersenyum haru.


"Almaira, tolong ajak Alvian makan dulu. Kalian kan baru saja sampai, pasti udah lapar karena perjalanan yang cukup menyita waktu," ucap Abi Zainal yang begitu perhatian kepada Almaira dan Alvian.


Almaira mengangguk. "Mas, mau makan dulu?" tanya Almaira pada suaminya.


"Sekarang?" Alvian malah balik nanya.


"Iya mas, kalau begitu Maira siapin dulu." Almaira hendak berdiri dari duduknya. Namun, pergelangan tangannya tiba-tiba tertahan karena Alvian memegangnya.


Alvian menatap Abi Zaenal dan meminta izin. "Abi, Alvian ikut Almaira dulu, yah."


"Silahkan," jawab Abi Zaenal.


Setelah mendapatkan persetujuan dari mertuanya. Alvian beranjak dari duduknya dan berjalan mengikuti istrinya, kemudian makan bersama keluarga Almaira pun berlangsung dengan tertib.


Kini Alvian tengah berada di kamar Almaira dan istrinya itu terlihat sedang membereskan pakaian suaminya.


"Sayang, kamu mau mengatakan kabar gembira ini kepada seluruh keluarga mu, kapan?" tanya Alvian karena ia dan istrinya belum sempat memberitahu keluarga Almaira, perihal kehamilan Almaira.


"Nanti kayaknya mas, soalnya sekarang kan udah deket ke hari pernikahan Fatimah, pasti Ummi dan Abi akan sangat sibuk," ucap Almaira disela kegiatannya yang sedang membereskan baju suaminya.


"Baiklah jika itu keputusan mu. Mas tidak keberatan kok yang penting Ummi sama dede bayinya sehat-sehat," ucap Alvian dengan tersenyum manis kepada sang istri tercinta.


Almaira tersenyum. Sungguh untuk saat ini semuanya, seakan indah. Alvian tidak pernah lupa memberikan perhatian kepadanya. Bahkan hari-harinya tidak pernah luput dari keceriaan dan kegembiraan.


Namun, beda lagi dengan Reza yang sedang diperjalanan dan berniat untuk menemui gadis pembawa rindunya. Dengan senyumnya yang lebar, Reza keluar dari dalam mobilnya dan bersiap masuk ke kawasan Pesantren Ar-Rasyid ... tempat di mana ia menemukan gelang berinisial F itu.

__ADS_1


Akan tetapi, ia terhenti sejenak karena melihat mobil Bosnya yang terparkir di dalam kawasan Pesantren Ar-Rasyid. Reza menjadi sedikit ragu untuk masuk ke dalam pesantren, tetapi demi mengembalikan gelang berinisial F itu, ia menepis keraguannya dan masuk ke dalam, dengan berusaha bersikap tenang untuk menghilangkan kegugupannya.


__ADS_2