
Setelah itu Fatimah di berikan sebuah cincin yang di pasangkan langsung oleh Widia, dan kini Fatimah telah resmi menjadi pilihan Fahmi.
Semua keluarga nampak senang tapi tidak dengan Fahmi yang hanya tersenyum paksa, butuh waktu untuk Fahmi mengenal jauh Fatimah calon istrinya itu.
Sesaat Abi Zaenal nampak berbincang riang dengan sahabatnya Arya, begitu pula dengan Ummi Siti yang nampak bercengkrama dengan Widia. Sudah lama mereka tidak saling bertemu, maka tidak heran mereka sangat gembira sampai tidak ingat waktu.
Sampai pada suara adzan Ashar terdengar, lantas Abi Zaenal bersama anak-anaknya pergi dulu ke masjid yang ada di kawasan pesantren untuk melakukan shalat ashar berjamaah. Arya dan Fahmi juga ikut shalat berjamaah bersama Abi Zaenal.
Sedangkan para wanita melaksanakan shalat ashar di rumah Abi Zaenal, yang menjadi imamnya Ummi Siti. Setelah itu Fahmi bersama kedua orang tuanya pamit pulang, dan sekarang hanya menyisakan keluarga Almaira yang terlihat masih berkumpul. Alvian nampak sedikit canggung kepada keluarga Almaira tapi perlahan Alvian mulai berinteraksi dengan Abi Zaenal dan Kakak laki-laki Almaira, sehingga ia mulai nyaman terhadap keluarga Almaira yang sangat ramah.
Pantas saja Almaira tumbuh dengan sikap dan tatakrama yang baik, didikan orang tuanya saja sudah sangat bagus. Maka tidak perlu di herankan lagi, meskipun Almaira seorang dokter tapi tetap ia selalu menjaga adab dan sopan santun terhadap orang yang lebih tua darinya.
Di saat para laki-laki berkumpul di ruang tamu, ini menjadi kesempatan untuk Ummi Siti berbicara kepada putrinya.
"Almaira, apa hubungan kamu dengan Alvian sudah mulai membaik?" tanya Ummi menatap lekat putrinya Almaira.
"Alhamdulillah Ummi kami sudah mulai menjalani rumah tangga semestinya, kenapa Ummi bertanya soal itu?" tanya Almaira keheranan.
"Maira apa kamu sudah melakukan kewajiban mu sebagai seorang istri?" tanya Ummi mengimindasi.
Nampak Almaira terdiam sesaat memikirkan pertanyaan dari Ummi nya itu "Setidaknya sudah Ummi, tapi untuk yang selebihnya Maira belum memberikan nya kepada Mas Alvian" ucap Almaira agak ragu, dan tidak mungkinkan ia berbohong kepada Ummi.
"Maira Ummi sarankan jangan tunda lama-lama untuk itu, kerena suamimu pasti sudah sangat menunggunya, hilangkan semua keraguan mu terhadap Alvian. Dan yakinlah terhadap suamimu karena Ummi sudah melihat bagaimana Alvian sangat menyanyangi mu" ucap Ummi sembari mengelus punggung Almaira.
Almaira terlihat terdiam, merenungi semua perkataan yang telah di ucapkan oleh Ummi kepadanya. Apa yang di ucapkan oleh Ummi memang benar, kalau Almaira terus menunda hak Alvian pasti Alvian akan kelelahan menunggu nya. Dan hal yang di takutkan Almaira adalah Alvian malah mencari wanita lain untuk memuaskannya, tapi itu tidak akan terjadi! karena Almaira tidak ingin Alvian mencari wanita lain di luar sana.
__ADS_1
"Insya Allah, Maira akan coba saran dari Ummi" ucap Almaira, dengan penuh keyakinan.
Lantas Ummi Siti pun tersenyum dengan jawaban yang di berikan oleh putrinya.
...****************...
Malam nya setelah usai makan malam bersama keluarga, lantas Almaira langsung masuk ke dalam kamarnya bersama dengan Alvian.
Mereka pun duduk di atas tempat tidur yang hanya bisa di tempati oleh dua orang saja. Nampak Alvian sangat heran setelah melihat wajah Almaira yang kelihatan penuh pikiran.
"Sayang? ada apa dengan dirimu??" tanya Alvian, mengagetkan Almaira yang sedang melamun.
"Enggak ada apa-apa kok Mas" ucap Almaira bersikap santai, walau kenyataan nya sangat tegang.
"Emm...Maira hanya memikirkan Mas" jawab Almaira menunduk.
"Jangan terus mikirin Mas, karena Mas sudah berada di samping mu" ucap Alvian dengan rayuan mautnya.
"Ih...Mas jangan gitu ah! Maira cuma mau tanya serius kepada Mas?" ujar Almaira meyakinkan.
"Mau tanya apa sayang?" tanya balik Alvian, dan matanya kini tengah menatap instan kepada Almaira.
"Mas? Maira ingin menjadi istri Mas yang seutuhnya" ucap Almaira dengan sedikit menunduk.
Alvian nampak kaget dengan ucapan yang terlontar dari mulut istrinya, namun tetap Alvian bersikap tenang. Dan kini Alvian melihat keseriusan dari Almaira, tapi yang Alvian lihat Almaira seperti belum sepenuhnya siap untuk melakukan kewajibannya.
__ADS_1
"Sayang? jangan di paksakan bila memang belum siap. Masih banyak waktu untuk itu, jadi jangan pikirkan lagi soal itu karena Mas juga masih bisa menjaga nya" ucap Alvian mencoba menenangkan Almaira yang terlihat gugup, saking gugupnya sampai telapak tangannya saja terasa dingin di saat Alvian menyentuhnya.
"Apa Mas yakin bisa menahannya?" tanya Almaira, memberanikan diri menatap kedua bola mata milik suaminya.
"Insya Allah Mas bisa menahannya. Jangan khawatir, meski malam ku sunyi tampa dirimu. Mas tidak akan pernah mencari pelarian di luar sana, selagi masih ada yang halal yang dapat di miliki" ucap Alvian tanpa keraguan sedikitpun.
"Maafin Maira Mas?...Maira belum bisa menyenangkan Mas" lirih Almaira, sampai tidak terasa air matanya pun mulai mengalir membasahi wajah cantik Almaira.
"Jangan menangis sayang? Mas tidak bisa melihat mu menangis, rasanya sakit hati ini mengingat dulu sikap Mas yang berprilaku tidak baik terhadap mu. Yang sering kali membuat dirimu menangis" ucap Alvian, soraya menghapus air mata yang keluar dari sudut mata indah Almaira.
Karena begitulah hati, ketika orang yang kita sayangi menangis maka kita akan ikut merasakan pedih yang ia rasakan.
Lantas Almaira pun langsung berhenti menangis, karena tidak mau suaminya merasa bersalah kembali atas kejadian yang sudah berlalu.
Alvian tersenyum melihatnya, dan langsung membawa Almaira ke dalam dekapan nya. Almaira pun terlihat begitu nyaman di dalam dekapan suaminya, sampai mereka pun tertidur.
Tidak tahu seperti apa perasaan Alvian saat ini, tapi yang pasti Alvian sekarang sudah sangat menyayangi Almaira.
Ini adalah sisi lain dari Alvian yang jarang di ketahui banyak orang, dari semenjak kehadiran Almaira Alvian mulai kembali menemukan jati dirinya. Alvian yang dingin kini menjadi lembut dan penyayang di saat bersama Almaira, semua ini di perlihatkan Alvian hanya sedang bersama Almaira.
Oleh sebab itu Alvian sangat tidak ingin kehilangan Almaira, karena Alvian pernah merasakan kehilangan seseorang yang di sayangi selebih itu adalah ibunya sendiri, dan itu sangatlah sakit.
Perlahan Alvian membenarkan tidur Almaira dengan hati-hati, agar sang empunya tidak terbangun. Alvian kembali menatap lekat wajah Almaira yang sedang terlelap, di ciumnya sekilas kening Almaira yang masih terlelap dan Alvian pun kembali tertidur sembari memeluk tubuh Almaira.
Meski tempat tidur nya tidak seluas tempat tidur yang ada di kamar Alvian, namun Alvian tetap merasa nyaman karena di sampingnya ada Almaira. Meskipun Alvian tidak terbiasa tidur dengan keadaan sempit seperti ini, namun dengan perlahan Alvian mulai terlelap mengikuti Almaira.
__ADS_1