Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 95. Pergi Ke Rumah Suami


__ADS_3

Di rumah Tuan Dirga, tepat di hari ini. Nisa akan dibawa oleh suaminya untuk menemui rumah kedua orang tuanya Fahmi. Dengan begitu, ia terlihat sangat sedih karena harus berpisah dengan kedua orang tuanya, terutama Fatimah dan teman-temannya di Pesantren Ar-Rasyid yang sudah membuatnya menjadi wanita terdidik.


Statusnya yang sudah berganti menjadi seorang istri, membuat Nisa harus menuruti permintaan suaminya karena sekarang yang menjadi tanggung jawab atas dirinya adalah Fahmi. Maka dari itu, Nisa harus menuruti semua perkataan suaminya, selagi itu baik untuknya. Yang membuat Nisa merasa bersalah adalah, ia tidak sempat mengatakan bahwa ia sudah menikah dengan Fahmi kepada Abi Zaenal dan Ummi Siti yang menjadi gurunya di pesantren.


Pernikahannya berjalan dengan begitu cepat. Jadi, Nisa tidak sempat untuk memberitahu gurunya yang ada di pesantren. Namun, Tuan Dirga—ayahnya mengatakan, sudah membereskan semuanya serta memberi tahu Abi Zaenal atas pernikahannya. Dengan begitu, Nisa tidak bisa kembali mengaji lagi di Pesantren Ar-Rasyid, tapi mendatanginya di waktu yang senggang tidak apa. Silaturahmi masih terjalin di antara murid dan guru. Mau sampai kapan pun, seorang guru tetaplah seorang guru dan tidak ada namanya mantan atau bekas guru. Guru tetaplah menjadi seorang guru karena ia telah mendidik dan mengajari kita banyak hal.


"Fahmi, tolong jaga putri Ayah dengan sangat baik. Ayah titip Nisa kepada Nak Fahmi, mau seperti apapun sikapnya. Dia tetap istrimu maka Nak Fahmi harus bisa bersabar menghadapinya," tutur Ayah Dirga pada menantunya yang hanya diam.


"Baik Ayah," jawab Fahmi yang begitu tidak yakin untuk bisa menjaga Nisa karena ia tidak mencintainya.


Lantas Nisa pun yang mendengar penuturan ayahnya, sangat terharu. Dengan begitu, Nisa langsung memeluk tubuh ayah dan ibunya, berat untuk meninggalkan kedua orang tua, tapi harus bagaimana lagi karena Nisa sudah menjadi seorang istri yang harus mengikuti suaminya, kemana pun itu.


Setelah selesai berpamitan, Nisa dan Fahmi pun masuk ke dalam mobil milik Fahmi yang akan membawa Nisa kepada rumah keluarga suaminya. Di sepanjang jalan, Nisa hanya diam dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun kepada suaminya yang berada di samping dirinya. Dengan begitu, Fahmi pun tidak berani untuk menanyakan keadaan istrinya yang hanya diam.


Dalam waktu setengah jam, Fahmi dan Nisa telah sampai di depan rumah keluarga Fahmi. Lantas, Nisa pun menjadi sedikit ragu untuk tinggal di sana.


"Ayo?" ajak Fahmi kepada istrinya yang hanya diam, di saat ke luar dari mobilnya.


Nisa hanya mengangguk dan Fahmi langsung menggenggam tangan Nisa, tanpa ragu sedikit pun. Meskipun demikian, perasaan Fahmi sudah tidak karuhan karena menyentuh tangan istrinya yang begitu halus.

__ADS_1


Sedangkan Nisa, terlihat begitu kaget dengan perlakuan suaminya yang tanpa aba-aba menggenggam tangannya dan membawanya masuk ke dalam rumah, milik keluarga suaminya.


"Assalamualaikum," ucap Nisa di saat memasuki rumah itu, sedangkan Fahmi hanya meliriknya sekilas.


"Wa'alaikumsalam warahmatullaahi wabarokatuh," jawab Widia—ibu dari Fahmi. Ia terlihat begitu ramah sehingga membuat Nisa sedikit lebih nyaman bersama dengan Widia.


"Eh, sini masuk." Widia menyambut kedatangan putranya dan Nisa dengan sangat baik.


Dengan begitu, Nisa langsung di ajak masuk oleh Widia ke dalam rumah, sedangkan Fahmi hanya diam melihat kedekatan istrinya dengan ibunya. Baru saja Nisa berjumpa dengan ibunya, ia telah mengambil hatinya. Fahmi tidak menyangka itu bisa terjadi, sedangkan ibunya, terus berbincang dengan istrinya dan terlihat begitu akrab.


"Aku mau ke kamar dulu," ucap Fahmi yang berjalan melewati ibu dan juga istrinya. Widia terlihat begitu bingung, bukanya mengajak istrinya. Ini malah melenggang pergi gitu saja.


"Fahmi, setidaknya kamu tunggu saja di sini sebentar, lagian istri kamu belum tahu letak kamar kamu di mana dan kamu malah kayak gini," tegur Widia yang merasa sikap putranya sedikit tidak pantas.


"Dasar anak itu, yah." Widia terlihat begitu kesal terhadap putranya dan ia tidak habis pikir kepada Fahmi, padahal putranya yang mau menikah dengan Nisa, tapi lihatlah sekarang, ia terlihat begitu acuh dan masih keras kepala.


"Sudah, jangan marah, Tante. Tidak apa kok, Nisa bisa sendiri," ucap Nisa sembari tersenyum lembut.


"Tapi, itu tidak bisa dibiarkan, Nis," balas Widia yang masih terlihat marah.

__ADS_1


"Tante yang sabar, Mas Fahmi bersikap begitu mungkin karena sangat lelah. Jadi, ia ingin buru-buru masuk kamar untuk beristirahat," ucap Nisa yang berpikir positif. Dengan begitu, Widia bisa sedikit lebih tenang dan tidak kesal juga marah lagi.


"Mulai sekarang, Nisa jangan panggil Tante lagi, yah. Panggil Mamih saja, seperti Fahmi karena sekarang Nisa sudah menjadi menantu Mamih," pinta Widia yang sudah kembali lembut lagi.


Nisa pun mengangguk, menuruti ibu mertuanya yang mulai dekat dengan dirinya.


Sepuluh menit kemudian, Nisa telah selesai berbincang dengan Widia dan sekarang Nisa ingin masuk ke dalam kamarnya. Sebelum itu, Nisa sudah ditawari oleh Widia untuk mengantarnya ke kamar Fahmi, tapi ia malah menolaknya dan memilih sendiri sehingga Widia memberi tahu arah kamarnya.


Di saat Nisa sampai di depan pintu kamarnya, tanpa mengetuk pintunya dulu. Ia langsung masuk begitu saja, ke dalam kamar suaminya. Karena itu, Fahmi yang berada di atas tempat tidur tiba-tiba berbalik menatap istrinya yang masuk ke dalam kamarnya.


"Kenapa tidak ketuk pintu dulu, di saat masuk?" tanya Fahmi yang begitu tidak suka dengan sikap Nisa yang masuk ke dalam kamarnya, tanpa seijinnya.


"Untuk apa? Ini juga kamar aku. Maka dari itu, aku berhak atasnya." Dengan santainya Nisa menjawab pertanyaan dari suaminya.


"Setidaknya, kamu mengetuk pintu dulu. Hargai pemilik kamar yang pertama. Bagaimana jika aku sedang dalam keadaan yang tidak pantas dan kamu masuk begitu saja. Nanti kamu yang akan menyesal karena tidak begitu sopan," ucap Fahmi yang sangat kesal terhadap istrinya.


"Maaf, Mas. Aku tahu ini kamar kamu, tapi aku juga berhak atasnya. Karena itu, akan tidak pantas jika seseorang istri harus mengetuk pintu terlebih dahulu karena suaminya pun sudah tahu akan hal itu. Mau bagaimanapun yang masuk ke dalam kamar suaminya hanya istrinya dan tidak ada yang akan melarangnya," jelas Nisa dengan sedikit tegas dan tidak memperdulikan reaksi suaminya yang kebingungan.


Bahkan untuk saat ini, Fahmi terdiam seribu bahasa. Tidak ada lagi yang bisa ia katakan karena istrinya sudah membuatnya kehabisan kata-kata.

__ADS_1


Melihat suaminya yang diam, Nisa hanya tersenyum karena ia tahu bahwa setelah mendengar perkataannya, Fahmi akan sedikit mengerti dan tidak membatasinya lagi, seperti orang asing.


Perlahan Nisa melangkahkan kakinya kembali ke arah lemari dan membereskan pakaiannya di lemari tersebut, tanpa menghiraukan suaminya yang melihatnya dengan heran.


__ADS_2