
Selama satu minggu ini, Fahmi dengan perlahan mulai berubah dan tumbuh rasa terhadap istrinya. Sikap Nisa yang selalu bijak dalam berbicara, dapat mengurangi sedikit keras kepalanya Fahmi. Dan ini merupakan perubahan yang sangat bagus bagi suaminya.
"Nis, aku mau bicara serius sama kamu," ujar Fahmi di saat ia berada dalam kamar bersama dengan istrinya.
"Bicara apa, Mas." Nisa nampak sudah siap untuk mendengarkan, apa yang suaminya akan sampaikan.
"Apa kamu bahagia menikah denganku?" tanya Fahmi dan baru kali ini ia berani bicara begitu kepada Nisa.
"Bahagia ataupun tidak, itu tidak lagi jadi patokan. Kebahagiaan itu muncul karena kita sendiri yang menjemputnya, sejatinya bahagia hadir tidak dengan begitu saja, melainkan dengan hati dan sekitar kita yang membuat kita nyaman," jawab Nisa yang secara langsung membuat Fahmi malu karena telah mananyakan hal seperti itu kepada istrinya.
"Maaf, tapi Mas cuman ingin tahu saja karena pernikahan ini sudah tidak ada arah tujuan," ujar Fahmi yang masih menatap lekat wajah istrinya.
"Bukannya tidak ada, Mas. Akan tetapi, ada. Namun, Mas tidak pernah mengetahuinya. Selain itu, Menikah juga untuk menyempurnakan agama dan menjalankan sunnah rasul. Tujuannya untuk membentuk sebuah keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah," jelas Nisa dan kali ini Fahmi hanya diam sembari mendengarkan perkataan istrinya.
"Tahukah Mas, apa itu keluarga yang sakinah?" tanya Nisa kepada suaminya yang masih setia berada di dekatnya.
Fahmi menggelengkan kepalanya. "Tidak, Mas tidak tahu. Namun, kata itu sepertinya tidak asing di telinga," jawab Fahmi yang diselingi dengan sebuah tanggapan.
"Iya, tapi Mas tahu enggak, apa maksudnya?" Nisa kembali bertanya kepada suaminya dan langsung mendapatkan gelengan kepala dari Fahmi.
"Sakinah yang berarti tenang atau tenteram, mawadah artinya cinta atau kasih sayang, dan warahmah artinya rahmat. Kalimat sakinah, mawadah, dan warahmah ini sesuai dengan apa yang ada di dalam Surat Ar-Rum, ayat 21," jelas Nisa yang kemudian menbaca suratnya.
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ - ٢١
Artinya: "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang."
__ADS_1
Mendengar kesimpulan dari Nisa, Fahmi menjadi tertunduk malu karena tidak tahu apapun. Meskipun begitu, pernikahan ini terjadi dengan landasan yang tidak menentu, tapi Nisa sudah menganggapnya dengan sempurna.
Bagaimanapun sikap suaminya, Nisa tidak pernah mempermasalahkan itu karena tidak semua yang kita inginkan sesuai dengan harapan.
"Apa aku pantas menjadi seorang suami, sedangkan aku tidak pernah memenuhi kewajiban seorang suami kepada istrinya?" tanya Fahmi karena ia menyadari semua yang dilakukannya itu salah.
"Pantas tidak pantasnya, hanya Allah yang tahu. Kita disatukan dalam ikatan pernikahan, dengan begitu Mas tidak perlu khawatir lagi. Karena itu, Allah menunjuk Mas untuk menjadi pendamping hidup bagi Nisa dan sudah pasti pantas," jawab Nisa sembari tersenyum.
"Akan tetapi, Mas merasa tidak pantas. Aku dan kamu bagaikan langit dan bumi, jaraknya begitu jauh dan tidak mungkin aku bisa setara denganmu," ujar Fahmi yang mulai menyadari semuanya.
"Tidak ada namanya jarak di antara suami dan istri, bagaimanpun kita sudah dipersatukan dalam ikatan yang suci ini."
"Maksudku bukan itu, tapi aku telah merusak impianmu yang menginginkan seorang suami ahli ilmu," tutur Fahmi. Ia menjadi merendah karena memang pada nyatanya begitu.
"Itu dulu, tapi sekarang suamiku adalah Mas. Jadi, jangan bicara begitu. Mas juga bisa belajar menjadi suami yang baik bagi Nisa," ujar Nisa sembari mengedipkan sebelah matanya.
Mendengarkan ucapan suaminya, Nisa mengerutkan keningnya heran. Bagaimana bisa, suaminya menyimpang rasa terhadap wanita lain dan Nisa berpikir, Fatimah lah wanita yang dimaksud oleh suaminya itu.
"Aku tidak perduli untuk itu, walaupun Mas sangat mencintainya. Namun, Mas ingat baik-baik perkataanku! Jika suatu ketika Mas membuka hati untukku. Jangan sungkan karena istrimu ini sudah membuka pintu untuk suaminya."
"Apa kamu tidak sakit hati mendengar kenyataan ini? Jika memang pernikahan ini tidak dapat berjalan dengan semestinya, aku siap untuk melepaskanmu dari pernikahan ini," ujar Fahmi yang mulai kasihan kepada istrinya. Bagaimanpun, Nisa pantas mendapatkan suami yang lebih baik darinya.
"Jangan berkata begitu, aku ingin menikah satu kali dalam seumur hidup. Maka dari itu, jangan pernah beranggapan bahwa aku akan menyerah dengan ujian pernikahan ini," sahut Nisa dengan santainya.
"Aku bicara begitu karena tidak mungkin lagi pernikahan ini berlanjut, dengan kamu mempertahankan pernikahan ini. Bukanya menghadirkan kebahagiaan, melainkan akan sangat menyakiti hatimu," ucap Fahmi yang tidak tahu lagi harus bagaimana.
__ADS_1
"Apa Mas juga yakin jika setelah berpisah denganku, Mas akan tetap menikahi wanita yang Mas cintai?" tanya Nisa. Kali ini Nisa yang mengambil alih pembicaraan.
Fahmi nampak berpikir sejenak. Benar juga apa yang dikatakan oleh istrinya itu, Almaira tidak akan bisa menjadi miliknya karena ia sudah menjadi seorang istri dari laki-laki lain.
"Tidak karena dia sudah menikah, tapi aku belum bisa melupakan cinta ini," jawab Fahmi dengan wajah lesunya.
Nisa tersenyum. "Cinta itu sifatnya hilang dan pergi. Maka dari itu, mungkin bisa untuk menghilangkannya dari hati. Manusia juga berhak untuk mencintai dan dicintai, tapi Mencintai lebih sulit dari dicintai," ucap Nisa yang mendapat tatapan tajam dari suaminya.
"Sama saja, tidak ada yang beda," sahut Fahmi dengan entengnya karena yang ia tahu, perihal cinta memang rumit.
"Tentu beda lah, Mas. Mencintai itu menguji kita untuk belajar berusaha dan mengapai cintanya, seperti kita yang ingin mengapai cinta dari Allah, sedangkan dicintai itu sangatlah mudah. Dicintai tidak perlu usaha, cuman yang diperlukan hanya kesetian terhadap pasangannya."
"Oh, begitu." Fahmi nampak mengerti dengan semua penjelasan dari Nisa.
"Cinta juga sangat penting dalam pernikahan loh, Mas." Dengan sengaja Nisa menyudutkan suaminya.
"Aku tidak bisa memberikan cintaku kepadamu!" tegas Fahmi yang sudah tidak bisa lagi diubah.
"Aku juga tidak mengharapkan cinta dari Mas, tapi aku hanya sedang berusaha mengapai ridha Allah dengan mencintai suamiku sendiri. Walaupun demikian, itu sangat mungkin," terang Nisa dengan begitu percaya diri.
"Apa maksudnya, sangat mungkin?" tanya Fahmi yang masih belum paham dengan perkataan istrinya itu.
"Iya, sangat mungkin bagiku untuk mendapatkan cinta dari suamiku," imbuh Nisa dan kembali membuat Fahmi keheranan.
"Kenapa kamu begitu yakin, Nis?" tanya Fahmi kepada istrinya.
__ADS_1
"Aku tahu, tidak ada yang berhak atas cinta suaminya selain istrinya sendiri. Maka dari itu, aku yakin. Suatu saat nanti, Mas akan sangat mencintaiku melebihi cinta Mas kepada wanita itu," ujar Nisa. Meskipun begitu, ia masih belum tahu siapa wanita yang dimaksudkan oleh suaminya itu.
Fahmi terdiam karena pada dasarnya semua yang dikatakan oleh istrinya sangat benar. Akan tetapi, Fahmi tidak pernah mau membenarkannya karena tidak mau kalah dari istrinya.