
"Mas enggak marah lagi kok, asal jaga pandangannya yah. Agar mas enggak kesal lagi" ucap Alvian dengan tersenyum.
"Iya, insya Allah mas" jawab Almaira tersenyum, tidak kalah manisnya seperti senyuman suaminya.
Alvian langsung memeluk tubuh istrinya, saking sayangnya ia pada Almaira.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memerhatikan mereka berdua dari kejauhan. Dia adalah Ayah Ahlan yang diam-diam memerhatikan sepasang suami-istri itu.
"Alhamdulillah, akhirnya mereka berdua bisa saling menerima. Tidak sia-sia juga kepergianku ke luar negeri selama seminggu ini" gumam Ayah Ahlan pelan dan melenggang pergi meninggalkan anak menantunya.
***
Keesokkan harinya Almaira kerap mendapatkan pesan misterius lagi dari nomor yang sama. Entah kenapa orang itu selalu mengganggu Almaira, padahal Almaira tidak pernah mengganggu siapapun, termasuk orang itu.
"Jangan pernah berharap untuk tetap bahagia bersama Alvian! Dia hanyalah milikku dan tetap akan menjadi milikku" Itu adalah isi pesannya yang membuat Almaira tertegun.
"Astaghfirullahaladzim, kenapa pesan ini muncul lagi?" ucap Almaira sedikit kaget.
"Sayang lagi lihat apa? Sampai terkejut gitu" tanya Alvian yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Suara bariton itu mengagetkan Almaira, sekaligus membuat Almaira terkejut dengan kehadiran suaminya yang secara tiba-tiba.
"Maira enggak terkejut kok mas, mas jangan berpikir macam-macam yah" ucap Almaira mencoba menutupi.
"Jangan berbohong! Mas ingin kamu jujur" ungkap Alvian, penuh penegasan.
"Emm, Maira akhir-akhir ini selalu mendapatkan pesan dari seseorang yang tidak Maira kenal" ucap Almaira pelan karena takut membuat suaminya marah.
"Mana? Sini mas mau lihat"
"Ini mas" Almaira langsung memperlihatkan pesan itu kepada suaminya.
"Sayang, apa kamu percaya sama semua pesan ini?" tanya Alvian dan langsung mendapatkan gelengan kepala dari istrinya.
"Alhamdulillah," ucap Alvian dengan sedikit merasa lega.
"Apa mas mengenal orang itu?" tanya Almaira dengan penuh selidik.
"Apakah ini waktunya untuk menceritakan semuanya kepada Almaira? Ya Allah sungguh aku tidak berdaya saat ini. Bagaimana kalau Almaira malah membenciku, setelah aku menceritakan semuanya" batin Alvian termenung.
__ADS_1
"Kenapa mas diam?" tanya lagi Almaira yang sudah dibuat penasaran oleh suaminya.
"Mas cuma lagi mikirin pekerjaan kantor sayang, maaf yah" jawab Alvian meskipun sebenarnya yang dipikirkan olehnya bukanlah itu.
"Iya enggak papa mas" ucap Almaira tersenyum, walau terbersit sedikit keraguan di dalam hatinya.
Alvian juga ikut merasa bersalah karena telah membohongi dan menutupi semuanya dari Almaira, tapi apa daya Alvian yang masih takut untuk mengatakannya pada istrinya.
"Mas berangkat ke kantor dulu yah" ucap Alvian sembari mencium pucuk kepala istrinya.
"Iya mas, hati-hati yah" balas Almaira dengan senyuman yang tidak pernah pudar dari wajah cantiknya.
Tanpa bicara, Alvian langsung memeluk tubuh istrinya sebentar karena harus pergi ke kantor. Mau tidak mau, Alvian harus melerainya.
"Sayang apa sekarang ada jadwal kamu praktek di rumah sakit?" tanya Alvian pada istrinya.
"Enggak ada mas jadi Maira di rumah saja"
"Kalau begitu jaga diri baik-baik di rumah yah sayang" ucap Alvian yang langsung mendapatkan anggukan dari istrinya.
"Assalamualaikum" ucap Alvian sembari melenggang pergi meninggalkan istrinya.
Setelah kepergian suaminya ke kantor, Almaira hanya berdiam diri di rumah dan memikirkan pesan itu yang kerap mengganggu pikirannya.
"Astaghfirullah, kenapa aku jadi berpikir buruk lagi? Sudahlah dari pada terus memikirkan yang tidak-tidak, mendingan aku berdoa saja. Supaya Mas Alvian selalu dilindungi dari segala macam fitnah dan keburukan, Aamiin" Almaira mencoba mengusir pikiran buruknya dengan berdoa.
Namun, telpon Almaira tiba-tiba berbunyi dan Almaira langsung mengangkatnya, setelah melihat siapa yang menelponnya itu.
"Assalamualaikum, sayang?" Suara di sebrang sana membuat Almaira tersenyum.
"Wa'alaikumsalam, mas ada perlu apa menghubungi Almaira?"
"Mas hanya kangen saja sama suaramu sayang. Kok tumben yah, Almaira biasanya juga Maira kan sayang?"
"Hehe, iya mas Almaira kan nama lengkapku tapi kalau Maira nama panggilan kesayangan keluargaku mas"
"Terus panggilan kesayangan mas apa dong?"
Almaira langsung tersipu malu dengan ucapan suaminya "Emm, apa ya?"
__ADS_1
"Kok bingung gitu sih sayang?" Alvian sengaja membuat istrinya kebingungan.
"Maira panggil mas saja yah"
"Iya, tapi jangan marah ya kalau mas panggil kamu sayang karena panggilan kesayangan mas hanya itu" ucap Alvian di sebrang sana yang berhasil membuat Almaira kembali tersipu malu.
"Loh kok jadi diam, sayang?" tanya Alvian keheranan karena tidak ada jawaban dari istrinya.
"Enggak papa mas. Sekarang kan sudah masuk jam maka siang ya? Mas jangan lupa makan yah!" Almaira mengalihkan pembicaraan.
"Iya sayang, kamu juga jangan lupa makan yah. Jaga kesehatan! Mas tidak mau kamu sakit sayang"
"Maira tidak akan lupa mas! Insya Allah"
"Alhamdulillah, mas tutup dulu yah. Assalamualaikum sayang"
"Wa'alaikumsalam, mas"
Entah kenapa setelah mendapatkan telpon dari suaminya, Almaira menjadi sangat senang. Rasa yang dulunya tidak akan pernah Alvian terima, tapi kini Alvian sangat menerimanya, bahkan cinta itu tumbuh dengan sendirinya tanpa di sadari Almaira.
"Non Almaira? Bibi sarankan, non bawakan saja makan siang untuk Den Alvian" ucap Bi Sumi yang secara tiba-tiba mengagetkan Almaira.
"Apa itu tidak akan membuat pekerjaan Mas Alvian terganggu?" tanya Almaira yang ragu.
"Tidak non, bukanya non pernah kan memberikan bekal untuk Den Alvian? Coba sekarang bawakan lagi" ujar Bi Sumi menyarankan.
Sebelumnya Almaira berpikir dulu sejenak untuk menyetujui usulan Bi Sumi "Baiklah, Maira akan coba"
Mendengar itu, Bi Sumi menjadi tersenyum karena semua itu dilakukan supaya Almaira bisa lebih dekat lagi dengan suaminya.
Beberapa saat kemudian, Almaira sudah siap untuk menemui suaminya di Perusahaan Atmaja Putra dan itu hanya membutuhkan waktu tempuh setengah jam. Setelah Almaira sampai di Perusahaan Atmaja Putra, banyak orang yang melihat heran kepada Almaira karena sebagian orang di sana tidak tahu siapa Almaira.
Meskipun Almaira merupakan istri dari Alvian akan tetapi, Almaira tetap mengikuti pelaturan perusahaan dengan menghampiri resepsionis untuk menanyakan letak ruangan suaminya.
Setelah Almaira tahu dimana ruangan suaminya, Almaira langsung berjalan menuju ruangan Alvian. Meskipun Reza pernah mengantarkan Almaira ke ruangan suaminya, tapi Almaira sudah lupa lagi karena perusahaannya sangat luas sehingga sulit untuk menemukan ruangan Alvian.
Kini Almaira sudah berada di depan pintu ruangan suaminya dengan penuh keberanian, Almaira mulai membuka pintunya dan bertapa kagetnya Almaira sekarang. Sungguh pemandangan yang tidak ingin Almaira lihat, sudah di suguhkan di hadapannya.
Alvian juga kaget melihat istrinya tiba-tiba datang ke ruangannya, itu semua membuat Alvian menjadi kalang kabut. Takut Almaira salah paham pada apa yang di lihatnya sekarang ini.
__ADS_1
"Sayang, tolong jangan salah mengartikan!" ucap Alvian memohon pada istrinya agar tidak salah paham.