
Melihat kedatangan Aditya dan kedua orangtuanya membuat Linda sedikit heran, untuk apa Aditya membawa orangtuanya hanya untuk sekedar berkunjung? Perkiraan itulah yang hadir dipikirkan Linda.
Dengan begitu, Aditya ikut bergabung dengan keluarga Linda di ruang tamu. Untuk itu, ia merasa gugup dan tidak karuan. Bagaimana tidak gugup coba, semua mata kini tertuju kepada Aditya walaupun ia belum mengatakan satu patah kata pun, tetapi perhatian semua orang yang ada di dalam ruangan itu tertuju kepadanya.
Untuk mengalihkan situasi yang cukup tegang itu, Aditya mencoba mencari cara untuk mengalihkan perhatian mereka. Kalau dibiarkan begitu saja, ia akan semakin gugup.
"Emm, ini ada sedikit bingkisan dari kami. Tolong diterima, yah," ucap Aditya yang membuat semua orang yang ada di sana tidak lagi terfokus kepadanya.
"Alhamdulillah, terima kasih," jawab Ibu Citra dan memang dari sejak awal sudah ramah, maka tidak perlu diragukan lagi.
"Linda, kakak lupa. Nama laki-laki ini siapa?" tanya abangnya Linda dan ia malah terperangah.
"Kak Aditya, Bang," jawab Linda sembari sedikit tegang karena tidak seperti biasanya Aditya datang ke rumah.
"Oh, iya. Aditya, yah? Baiklah, Aditya!" tegas Bang Feri—kakaknya Linda.
"Iya, Kak." Aditya terlihat sangat gelisah karena dilihat dari raut wajah abangnya Linda itu, sudah sangat tegas.
"Apa kamu temannya Adik saya?" tanya Bang Feri dengan serius.
"Iya, karena kami bekerja di satu rumah sakit yang sama, tapi beda pekerjaan," jawab Aditya dengan jujur.
"Oh, terus pekerjaan sekarang kamu apa, Aditya?" tanya kembali Bang Feri.
"Aku sekarang bekerja sebagai seorang Dokter Bedah di Rumah Sakit Surya Jaya," jawab Aditya dan kini Feri mulai percaya kepadanya.
"Berapa lama kamu menjadi seorang dokter?"
__ADS_1
"Baru maju empat tahun, Bang."
Pembicaraan tidak sampai di situ saja, Aditya sudah bagaikan diintrogasi oleh abangnya Linda. Dari mulai pekerjan, dan semua yang berkaitan dengannya ditanyakan oleh Bang Feri.
Dua puluh menit kemudian, Feri mulai mengambil alih pembicaraan yang lebih serius.
"Maksud kedatangan Aditya dan keluarga ke sini ingin apa?" tanya Bang Feri.
Aditya terlihat begitu kaget dengan pertanyaan kali ini, ia yakin bahwa Bang Feri sudah tahu bahwa kedatangannya itu bukan sekedar berkunjung saja.
Dengan penuh keyakinan, Aditya mengucapakan maksud dari kedatangannya kemari. "Sebenarnya aku ingin melamar Linda untukku."
Semua orang tiba-tiba saja terdiam dan tidak ada yang berani mengatakan apa pun. Namun, Ibu Citra hanya tersenyum menanggapinya seakan ia sangat mendukung niat baik Aditya.
"Alhamdulillah, Nak Aditya menyampaikan niat baik yang sangat kami nantikan. Dan tidak jarang laki-laki yang berani untuk datang ke rumah perempuan seperti ini. Akan tetapi, Nak Aditya sudah bertindak dengan sangat benar. Kami sangat gembira dengan kabar ini, telebih untuk jawabannya kami serahkan kembali kepada Linda," ucap Ibu Citra dengan sangat jelas dan tidak bertele-tele.
"Bagaimana, Dik? Apa jawabanmu. Abang tidak akan membuat keputusan secara sepihak karena Abang tahu, kamu juga berhak untuk menentukan pilihanmu," kata Bang Feri yang bergitu menyayangi adiknya.
Mendengar kata yang telah dilontarkan oleh abangnya, kini Linda terlihat begitu bingung, sedangkan di sisi lain, Aditya sedang menanti jawaban darinya.
"A--aku butuh waktu untuk memutuskannya, maka biarkan aku untuk melakukan salat istikharah dulu," jawab Linda yang tanpa menyakiti hati Aditya dan tidak terburu-buru mengambil keputusan.
"Baiklah, aku akan menunggunya," ucap Aditya.
Setidaknya ia tidak merasakan penolakan yang berarti, masih ada kesempatan baginya untuk bisa mendapatkan Linda. Oleh karena itu, Aditya harus semakin semangat karena tidak mudah baginya untuk mendapatkan hati seorang wanita yang sudah lama ia kenal, tapi baru kali ini ia mengenalinya lebih dekat.
Maka dari itu, semua orang hanya menerima keputusan Linda yang ingin melakukan salat istikharah dulu. Untuk itu, Ibu Citra tidak menyalahkan keputusan putrinya karena yang dilakukan oleh putrinya itu sudah sangat benar.
__ADS_1
Setelah itu, kedua keluarga hanya berbincang kembali dan kondisi tidak menjadi tegang lagi walaupun sebelumnya telah terjadi sebuah kejutan yang menegangkan.
Sedikit lega juga hati Aditya, meskipun Linda belum menjawab iya, tapi wanita itu telah memberikannya kepastian dan tidak perlu dihiraukan lagi.
Tidak lama dari itu, Aditya bersama kedua orangtuanya pergi dari rumah Linda yang sudah diberikan sambutan ramah dari keluarga Linda sehingga membuatnya tidak terlalu tegang berada di sekeliling keluarga Linda.
Lain halnya dengan Linda, ia terlihat begitu ragu dan sulit dimengerti karena dalam keadaan yang cukup membuatnya terkejut, sekaligus tidak percaya.
"Mengapa begitu cepat? Aku juga belum bisa memahami kejadian ini, tapi hati ini seakan tidak bisa menolaknya dan seakan-akan ada daya tarik yang membuatku harus menerima semuanya," gumam Linda karena ia juga sudah sangat bingung dengan hati dan pikirannya.
Sulit diartikan, sekarang Linda sedang dalam posisi untuk menjalani hidup dengan lebih baik. Menjadi seorang wanita yang salihah, dan kini Linda belajar hijrah dari kelakuan buruknya dulu. Bukan cuma sekedar untuk mendapatkan pujian dan sanjungan dari orang banyak, tapi Linda hanya ingin menjalani hidup dengan lebih baik lagi dan tidak seperti dulu.
Perkataan yang selalu Almaira katakan kepadanya selalu membekas di dalam hati Linda, sehingga membuatnya memutuskan menurut auratnya. Penampilan Almaira yang anggun memotivasi Linda untuk menjadi wanita yang tidak hanya cantik semata, tapi terjaga dan berpendidikan tinggi sehingga tidak mudah untuk direndahkan oleh orang lain. Itulah yang Linda lihat dari diri sahabatnya—Almaira.
Terlebih Linda hanya ingin fokus dulu untuk memantaskan diri dan tidak bermain-main lagi dengan seorang laki-laki, apalagi berpacaran. Namun, yang dilakukan oleh Aditya jauh dari anganannya sehingga membuat Linda sedikit bingung, di antara fukus memantaskan atau menerima laki-laki yang sudah siap untuk meminangnya.
Oleh karena itu, Linda memutuskan untuk melaksanakan salat istikharah dulu, sebelum kembali menjawab dan memutuskan jawaban atas lamaran dari Aditya.
Walaupun demikian, Linda merasa sedikit aneh karena dengan semudah itu Aditya melamarnya, sedangkan dia masih patah hati terhadap Almaira. Akan tetapi, dari sorot matanya sudah terlihat bahwa Aditya sudah memilih dirinya walaupun ia tidak seperti Almaira.
Bukan alasan juga bagi Aditya untuk menjadikan Linda istrinya karena pada dasarnya, Aditya sudah melihat sisi lain dari Linda yang belum pernah ia temui sebelumnya sehingga membawa sebuah kesan yang sangat berarti dihidupnya. Walaupun demikian, Linda baru saja mengalami fase perbaikan diri dari sebelumnya.
.
.
.
__ADS_1
Begitu susahkah, memutuskannya, Linda?