Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 44. Aku Suaminya


__ADS_3

Tidak terasa waktu mulai menjelang sore, Almaira juga terlihat kecapean karena jadwal operasi hari ini lebih padat yang beda seperti hari-hari sebelumnya, di tambah dengan kehadiran Aditya yang sekarang telah menjadi atasannya seringkali membuatnya tidak istirahat sekali pun.


Almaira hendak berjalan ke luar karena ingin cepat-cepat pulang ke rumah, sebelum Alvian lebih dulu pulang darinya.


"Almaira, kamu pulang sama siapa?" tanya Aditya yang kebetulan sama mau pulang.


"Tidak tahu, mungkin mau naik taksi di depan," jawab Almaira singkat.


"Bagaimana kalau aku yang antar kamu ke rumah?" Aditya memberikan tawaran kepadanya.


Almaira langsung menggelengkan kepalanya. "Maaf Kak, Maira masih bisa pulang sendiri," ucap Almaira dengan melenggang pergi meninggalkan Aditya.


Sesampainya di luar, Almaira nampak melihat sosok Alvian yang tengah berdiri di depan mobil miliknya sembari melihat ke arah dirinya.


Dengan begitu, Almaira langsung berjalan menghampirinya. "Assalamualaikum, Mas." Almaira nampak menyalami tangan suaminya.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam. Sayang, kamu kenapa mukanya lesu begitu?" tanya Alvian, dengan penuh perhatian.


"Maira tidak apa-apa Mas, hanya sedikit kecapean saja. Mas kenapa jemput Maira? Padahal Maira bisa pulang pakai taksi saja," kata Almaira, masih dengan senyuman manisnya.


"Bagaimana bisa Mas biarin istri Mas naik taksi dengan keadaan yang seperti ini? Lagian Mas jemput kamu, biar kita bisa pulang bereng, belum tentu juga kan, ada taksi yang lewat pada sore-sore begini?"


Almaira nampak berpikir karena memang benar apa kata suaminya itu, pada sore hari sudah jarang ada taksi yang lewat jika ada pun pasti harus menunggu lama.


"Iya Mas, terima kasih ya sudah mau jemput Maira." Almaira tersenyum dengan menatap wajah suaminya yang tampan.


"Stop! Kamu jangan kurang ajar ya sama Almaira!" Aditya menegur Alvian.


Alvian nampak mengerutkan keningnya, karena dengan tiba-tiba Aditya datang dan memarahinya.


"Jangan mentang-mentang lo deket sama Almaira, lo bisa seenaknya sama dia. Tidak, tidak bisa! Hukum agama masih berlaku di sini," lanjut Aditya dengan santainya.

__ADS_1


"Apa salahku? Aku tidak berbuat hal yang di larang agama. Seharusnya lo yang gue tanya, lo ngapain datang kemari dengan marah-marah gak jelas gitu?" Alvian balik bertanya.


"Ya jelas gue kemari mau buat lo sadar bahwa perbuatan barusan lo itu sudah melanggar batas."


"Batas apa yang lo magsud?"


"Lo sudah kurang ajar sama Almaira, berani-beraninya lo mau cium dia tanpa ikatan yang halal?" tegas Aditya yang belum mengetahui hubungan mereka berdua.


Alvian nampak kesal, dengan semua ucapan Aditya yang seakan memfitnahnya sehingga membuat emosinya memuncak.


"Aku tidak salah sama sekali, karena aku sudah berhak atas Almaira. Aku Suaminya, itulah kebenaran yang tidak bisa di rubah, meski kamu menginginkannya. Tidak salah bukan seorang suami mencium kening istrinya sendiri? Karena kami sudah mempunyai ikatan yang halal." Alvian mengatakan semua kebenarannya kepada Aditya dengan sedikit penjelasan.


Aditya tidak sedikit pun mempercayai ucapan dari Alvian. "Tidak mungkin kamu suaminya. Almaira juga tidak mungkin memilih imam seperti dirimu, karena laki-laki seperti kamu tidak pantas menjadi suami Almaira!" Aditya meremehkan Alvian yang tidak sepadan dengan Almaira.


"Berhenti Kak! Jangan hina suami Maira lagi. Sudah cukup Kak Aditya bilang Mas Alvian bukan imam yang baik untuk Maira, itu menurut Kakak, tapi menurut aku. Mas Alvian adalah pilihan Maira yang tidak pernah Maira sesali sampai kapan pun itu," ucap Almaira dengan suara yang sedikit meninggi.

__ADS_1


Aditya seakan kehabisan kata-kata, setelah mendengarkan semua penjelasan dari seorang wanita yang dicintainya. Hatinya sesak mengetahui kenyataan pahit yang sangat menyakitkan itu, bahkan sudah tidak ada harapan lagi pastinya.


__ADS_2