Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 129. Penyesalan Sintia


__ADS_3

"Apa katamu, sayang? Sintia, apa dia yang melakukannya?" tanya Alvian dengan penasaran.


"Iya, sepertinya begitu. Dari semua yang dikatakan anak ini, tertuju kepada Sintia," jawab Almaira dan, ia tidak tahu rencana Sintia selama ini.


"Dek, kamu ke sini dengan siapa?" tanya Almaira.


"Sama Bunda, itu Bunda aku, Tante." Tunjuk anak kecil itu kepada seorang wanita yang terlihat tidak jauh dari tempat duduk mereka.


"Kalau begitu, aku ke Bundaku dulu ya," ucapnya kembali dan Almaira hanya mengangguk saja.


"Apa yang dimaksud oleh anak kecil itu, tentang yang dimasukan ke dalam botol minuman tadi?" Alvian nampak berpikir keras untuk menyelesaikan keganjalannya.


"Almaira juga tidak tahu, Mas. Namun, ada sesuatu yang dimasukan ke dalam air itu."


"Untungnya kamu tidak jadi minum ya, Mas tidak tahu kalau minumannya dimasukan sesuatu oleh Sintia. Dan ini tidak bisa dibiarkan, Mas harus bertemu dengannya," ujar Alvian dengan penuh emosi.


"Jangan Mas, kalau Mas bertemu dengannya, dia akan berbuat nekad," kata Almaira karena ia juga takut, suaminya kenapa-kenapa.


"Enggak akan Mas biarkan, Sintia mengusik rumah tangga kita!"


"Sudah Mas, kita pulang saja dulu," ucap Almaira sembari mengusap lembut tangan suaminya.


"Baiklah, ayo," ajak Alvian dan mereka pun berjalan bersama.


Namun, di dalam perjalanan pulang, Almaira melihat Sintia yang dikerumuni warga sehingga membuatnya menghentikan langkahnya.


"Mas, tunggu! Bukanya itu Mbak Sintia?" tanya Almaira sembari mengarahkan telunjuknya kepada Sintia.

__ADS_1


"Iya, itu Sintia," jawab Alvian sembari melihat kepada kerumunan warga.


"Ayo kita ke sana, Mas." Almaira menarik tangan suaminya dan berjalan menghampiri Sintia.


"Maaf, ada apa ini?" tanya Almaira dan kerumunan warga itu menatap kepadanya.


"Wanita ini telah ketahuan berbohong untuk menyelakakan orang lain. Dia dengan sengaja menaruh pil obat untuk menggugurkan kandungan ke dalam botol minum, kami menemukan bekasnya di meja warung depan sana," jelas salah satu dari warga itu, dengan memberikan barang buktinya kepada Almaira.


Dengan begitu, Almaira langsung menerima barang bukti tersebut. Dan benar saja, setelah ia memeriksanya, obat itu untuk mengugurkan kandungan. Tidak perlu diragukan lagi karena Almaira seorang dokter. Oleh karena itu, ia bisa mengetahuinya, bahkan temanya saja Linda, seorang dokter kandungan. Maka dari itu, ia bisa tahu karena Linda sering mengatakannya.


"Mas, ini obatnya benar untuk mengugurkan kandungan," ujar Almaira kepada suaminya.


"Sintia, aku tidak habis pikir sama kamu. Tidakkah kamu memikirkan akibat dari perbuatanmu itu? Hendaknya kamu malu dengan semua yang telah kamu lakukan, tidak baik mencelakakan orang lain, apalagi istriku sendiri." Alvian sudah terlihat sangat marah dan tidak dibiarkan lagi, sehingga mengeluarkan kata-kata kepada Sintia.


"Aku seperti ini karena kamu, Alvian. Coba saja kalau dulu kamu tidak menikahi Almaira, maka aku tidak akan berbuat nekad seperti ini," jawab Sintia dengan menatap tidak suka kepada Almaira.


Sintia tertunduk malu dengan jawaban dari Alvian yang sangat menyindirnya. Untuk itu, ia hanya bisa merenungi semua yang dilakukan olehnya.


"Tidak selamanya cinta harus memiliki, bahkan bisa juga kamu mendapatkan yang lebih baik dariku. Maka dari itu, jangan terus seperti ini. Berhentilah, di luaran sana masih banyak yang menginginkanmu," lanjut Alvian dan Sintia merenungi semua perkataannya.


"Jangan terlalu larut dalam cintamu, semua itu hanya akan menyiksa dirimu saja. Dan cinta itu akan berubah menjadi sebuah ambisi, karena tidak bisa bersama untuk saling melengkapi. Bukannya cinta itu murni ketulusan dari hati? Akan tetapi, mengapa orang demi cinta rela merendahkan dirinya untuk mendapatkan laki-laki yang sudah tidak bisa dimilikinya lagi?" ujar Almaira tiba-tiba saja membuat Sintia meneteskan air matanya.


"Maafkan aku Almaira, aku sangat menyesali semua perbuatanku terhadap dirimu selama ini, bahkan akulah orang yang telah membuat rem mobil Alvian tidak berfungsi lagi, bahkan aku sudah menyampurkan obat untuk mengugurkan kandungan kepada botol yang akan kamu minum." Sintia mengatakan semuanya dengan jujur, ia telah menyelesali semua perbuatannya itu.


"Ini tidak bisa dibiarkan, mari kita bawa wanita ini ke kantor polisi," ujar salah satu dari banyaknya warga yang mengerumuni Sintia.


"Betul itu, kamu setuju."

__ADS_1


Beberapa orang sudah menyeret Sintia dari tempat itu, dan Sintia hanya diam saja karena ia pantas mendapatkan balasan dan hukuman yang setimpal, dengan perbuatannya.


Namun, perbuatan warga itu terhenti karena suara dari Almaira yang membuat semua orang menatap kepadanya.


"Tunggu!" Almaira mendekati Sintia melihat kepada wajah Sintia yang sedang menunduk malu. "Lepaskanlah dia, aku sudah memaafkannya. Kalian semua bisa pergi dari tempat ini, aku bisa mengatasi semua ini," lanjut Almaira kembali dan beberapa orang itu sudah mulai kembali ke kegiatannya masing-masing.


"Apa tidak apa-apa, Non? Jika perlu, biarkan semua ini dibawa ke jalur hukum supaya bisa ditindak lanjuti, dan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya yang sudah melanggar hukum," ucap satu warga yang masih berada di tempat itu.


"Tidak perlu, Pak. Saya bisa menyelesaikannya dengan baik-baik, dan Bapak bisa kembali lagi ke pekerjaannya kembali," jawab Almaira sembari tersenyum simpul dan membuat bapak itu pergi, meninggalkan Sintia yang sempat dikerumuni banyak warga.


"Almaira, seharusnya kamu tidak perlu melakukan semua ini, aku pantas menerimanya karena telah melakukan kesalahan yang sangat tidak pantas lagi terhadapmu," lirih Sintia dengan air mata yang sudah keluar begitu saja, dari kedua mata indahnya.


Almaira memegang kedua pundak Sintia. "Aku tidak perlu membuat kamu tersiksa dengan hukuman yang begitu berat, karena aku sudah melihat ketulusan di dalam hatimu. Setidaknya, kamu sudah menyesali semua perbuatanmu itu, walaupun baru sekedar kata. Aku harap, kamu bisa menjadi wanita yang lebih baik lagi untuk kedepannya, dan tidak kembali membuat ulah seperti sekarang ini."


"Aku tidak pantas mendapatkan maaf darimu, Almaira. Aku telah melakukan dosa besar karena telah merencanakan untuk menyelaksimu dan bayi yang berada di dalam kandunganmu. Apa aku masih pantas mendapatkan maaf darimu, sedangkan semua yang aku lakukan itu sudah sangat keterlaluan?" Sintia bersikap rendah dan merasa sangat berdosa kepada Almaira dan Alvian.


Almaira hanya tersenyum, setelah mendengarnya. "Meskipun begitu, Mbak masih berhak mendapatkan maaf dariku, bahkan Allah saja bisa maafkan makhluknya jika ia ingin bertaubat. Maka dari itu, aku juga bisa memaafkanmu, sedangkan Allah saja sudah memaafkan hambanya yang berusaha untuk kembali kejalannya, maka aku saja pantas memberikan maaf kepadamu," jelas Almaira.


Mendengar penjelasan dari Almaira, ia sangat terharu dan tidak bisa mengatakan apa pun lagi, selain kata maaf kepadannya. Walaupun demikian, Sintia sudah berbuat jahat kepada Almaira. Akan tetapi, Almaira masih mau memaafkannya dengan lapang. Begitu baiknya Almaira kepadanya.


.


.


.


Assalamualaikum.

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Komentarnya ya 😊. Salam hangat dari Author 🙂.


__ADS_2