Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 75. Gelang Berinisial F


__ADS_3

Lama memandang kawasan Pesantren Ar-Rasyid, Reza dikagetkan dengan kedatangan Abi Zaenal yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Assalamualaikum," ucap Abi Zaenal mengucapkan salam.


"Wa'alaikumsalam. Abi maaf Reza datangnya terlambat," balas Reza sembari meminta maaf. Di lanjutkan dengan mencium tangan Abi Zaenal.


"Enggak papa, lagian masih pagi juga," ucap Abi Zaenal dengan tersenyum.


"Mari ke rumah Abi dulu. Kita ngobrolnya di dalam saja, tidak enak kalau di sini," ajak Abi Zaenal, tetap ramah. Lantas membuat Reza mengangguk serta mengikuti langkah kaki Abi Zaenal yang mengajaknya ke rumah.


Sesampainya Reza di rumah Abi Zaenal, Ummi Siti sudah menyambutnya dengan sangat baik dan itu membuat Reza merasa tidak enak.


"Silahkan duduk dulu Nak Reza, mau minum apa? Biar Ummi ambilkan." Ummi Siti terlihat begitu ramah kepada Reza, walaupun baru pertama kali bertemu.


"Eh, tidak usah repot-repot ummi," ucap Reza yang tidak enak akan perlakuan Ummi Siti yang menganggapnya bagaikan seorang raja.


"Enggak apa-apa, ya sudah Ummi ke belakang dulu." Tanpa menunggu jawaban dari Reza, Ummi Siti sudah melenggang pergi meninggalkannya.


Diam-diam Abi Zaenal tersenyum, setelah melihat interaksi antara istrinya dengan Reza. Memang Ummi Siti itu selalu ramah kepada tamu, mau itu yang baru dikenal atau yang sudah akrab.


"Maaf Abi, kedatangan saya kemari telah mengganggu waktunya Abi Zainal. Bos Alvian meminta saya untuk memberikan ini kepada Abi dan tolong di terima." jelas Reza soraya memberikan sejumlah uang yang sudah Alvian siapkan.


"Alhamdulillah, tolong katakan terimakasih Abi kepada Alvian untuk Nak Reza juga Abi ikut berterimakasih karena sudah mau datang kemari dan menemui kami di sini," ucap Abi Zaenal dengan tersenyum haru.


"Iya, akan aku sampaikan. Sama-sama Abi, ini juga sudah menjadi tugas saya sebagai seorang asisten." Reza tidak menunjukkan rasa bangganya, melainkan ia malah merendah.

__ADS_1


Saat asik berbincang, tiba-tiba saja seorang gadis berpakaian sayr'i masuk ke dalam rumah dengan peluh yang masih tersisa di keningnya yang putih bersih.


"Assalamualaikum," ucap Fatimah dengan sedikit kaget melihat Reza yang tengah berada di rumahnya.


Lantas semua orang yang berada di ruang tamu, menoleh kepada Fatimah. "Wa'alaikumsalam, Fatimah kamu kenapa? Kok kayak udah lari maraton saja," tanya Ummi yang terlihat kebingungan dengan kondisi anaknya saat ini.


"Emm ... maaf Ummi. Ini Fatimah baru beli sayuran sama Nisa jadi buru-buru," ucap Fatimah yang hanya menunduk karena ada laki-laki lain di dalam rumahnya.


"Kalau begitu, Fatimah permisi ke belakang dulu," ucap gadis itu soraya melenggang pergi meninggalkan Ummi, Abi dan Reza yang masih berada di ruang tamu.


Saat Fatimah melenggang pergi, diam-diam Reza terus memperhatikannya dan tumbuhlah rasa penasaran terhadap gadis yang bernama Fatimah itu.


"Maaf Nak Reza ada gangguan sebentar, silahkan di lanjutkan lagi perbincangannya," ucap Ummi Siti yang berhasil membuat Reza terperanjat dari lamunannya.


"Eh ... mungkin saya tidak bisa lama-lama berada di sini. Maaf bila Ummi dan Abi Zaenal kecewa," tutur Riza dengan sedikit sopan.


"Kalau begitu saya pamit untuk kembali pulang dan terimakasih atas perhatiannya Ummi dan Abi Zaenal. Assalamualaikum," ucap Reza sembari mencium tangan dari kedua orang tua tersebut.


"Wa'alaikumsalam. Sama-sama, lain kali Nak Reza bisa mampir lagi kemari. Insya Allah kami akan menyambutnya dengan sangat baik," ucap Abi Zaenal. Ia menyarankan untuk tidak sungkan lagi kalau ingin mengunjungi rumahnya kembali.


Reza hanya mengangguk dan perlahan berjalan pergi meninggalkan rumah Abi Zaenal yang di penuhi dengan canda dan tawa. Meskipun, baru mengenalnya.


Melihat sekeliling sungguh enak dipandang, selain kawasannya bersih dan udaranya segar. Kawasannya sudah dipenuhi oleh hiruk pikuk para santri yang terlihat rapih dan sopan.


Reza terdiam sejenak karena merasa damai saat berada di kawasan Pesantren Ar-Rasyid, detik kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan kawasan pesantren itu.

__ADS_1


Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti tepat di depan gerbang Pesantren Ar-Rasyid. Tidak sengaja sepatunya menginjak sebuah gelang yang mempunyai inisial F, terukir indah.


"Ini punya siapa?" gumam Reza dengan mengingat kembali waktu dimana ia menanyakan lokasi Pesantren Ar-Rasyid kepada seseorang.


Lama termenung dan akhirnya Reza mengingatnya. Seorang wanita tadilah pemiliknya, mungkin kerena terburu-buru membuat gelang itu terjatuh. Reza akan kembali untuk mengembalikan gelang itu kepada pemiliknya, tetapi sangat tidak mungkin karena laki-laki tidak bisa sembarangan memasuki kawasan perempuan. Lagi pula, Reza tidak mengenalnya.


"Sebaiknya nanti sajalah jika dipertemukan kembali, aku berjanji akan mengembalikan gelang ini kepada pemiliknya." Terucap sudah kata janji dari mulut seorang laki-laki yang tidak pernah menganggap remeh ucapanya.


Lantas Reza menyimpan gelang berinisial F itu ke dalam kantong celananya dan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Pada akhirnya, Reza pergi dengan mengenakan mobilnya soraya meninggalkan kawasan terkemuka itu.


Disisi lain terlihat seorang wanita yang sedang memotong wortel dan salah satu temannya tiba-tiba bertanya kepadanya.


"Fatimah, kemana gelang yang biasa kamu pakai setiap hari?" tanya Alisha dengan keheranan karena tidak biasanya Fatimah tidak mengenakan gelang kesayangannya itu.


Mendapat pertanyaan seperti itu dari temanya Alisha, berhasil membuat Fatimah kaget dan benar saja, gelangnya sudah tidak ada dari tangannya.


"Astaghfirullah, kemana gelangnya? Dan kenapa bisa hilang dari tangan Imah?" Terlihat kegelisahan dari wajah cantik Fatimah yang kebingungan karena menghilangnya gelang yang di berikan oleh Abi Zaenal sedari ia masih remaja.


"Mungkin Fatimah lupa nyimpan atau sempat di lepas dan lupa di pakai kembali," tebak Alisha yang ternyata Fatimah juga kaget dengan hilangnya gelang itu. Pikir Alisha tadinya Fatimah tidak akan kaget.


"Enggak kok, gelang itu selalu Imah pakai tapi kenapa bisa hilang? Perasaan tadi pagi Imah tidak buka gelang itu," ucap Fatimah cemas. Bagaimanpun, gelang itu pemberian dari Abi Zaenal sebagai tanda kasih sayangnya terhadap putri bungsunya itu dan Fatimah sangat menjaganya.


"Ada apa ini?" tanya Nisa yang baru bergabung setelah membersihkan beras di belakang.


"Ini Nis, gelang milik Fatimah hilang dan entah kemana," jawab Alisha yang ikut sedih melihat wajah Fatimah yang murung.

__ADS_1


"Loh, kok bisa hilang yah? Jangan cemas Imah, nanti juga ketemu. Mungkin Fatimah lupa nyimpan saja," tutur Nisa dengan mencoba menenangkan Fatimah. Lagi pula, hilangnya gelang milik Fatimah itu, mungkin ada sangkut pautnya juga dengan Nisa karena sedari pagi hanya Nisa yang selalu ada di samping Fatimah.


__ADS_2