Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 80. Mas, Maira Hamil!


__ADS_3

Sepasang suami-istri terlihat sedang tertawa riang. Namun tiba-tiba, Almaira berlari kencang ke arah kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya di sana.


Hal itu, berhasil membuat Alvian khawatir dan segera menyusul istrinya karena takut terjadi apa-apa kepada Almaira.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Alvian dengan cemas.


"Aku tidak apa-apa kok, mas!" jawab Almaira soraya bersandar di dinding kamar mandi dengan wajah yang pucat.


"Yakin, baik-baik saja? Kayaknya mas lihat, kondisi kamu sekarang tidak baik-baik saja." Melihat wajah istrinya yang pucat, membuat Alvian sangat khawatir dengan kondisi istrinya.


"Maira tidak apa-apa, mas jangan khawatir yah. Mungkin, Ini hanya masuk angin saja," ujar Almaira yang merasa, dirinya hanya masuk angin saja.


"Kita ke dokter saja yah? Takutnya kamu bukan cuma masuk angin saja, sayang." Alvian berinisiatif untuk membawa istrinya ke rumah sakit karena Almaira tidak hanya pucat, tapi tubuhnya juga lemes.


"Tidak usah mas! Maira hanya butuh istirahat saja," ucap Almaira yang mulai melangkah keluar dari dalam kamar mandi.


Namun di saat satu kakinya melangkah, kepalanya tiba-tiba pusing dan penglihatannya mulai kabur.


"Astaghfirullahaladzim!" Almaira memegang kepalanya yang terasa sakit. Melihat itu, Alvian tidak diam saja.


Untung saja, masih ada Alvian yang dengan sigap ... langsung membopong tubuh istrinya dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, mereka berdua.


"Apa yang harus aku lakukan saat ini? Sayang, tolong bangunlah. Mas sangat mengkhawatirkan mu," ucap Alvian sembari mengusap pelan wajah istrinya yang terpejam karena pingsan.


Tidak ada pilihan lain, selain menghubungi dokter untuk memeriksa kondisi istrinya. Alvian mengambil ponselnya dari saku celananya dan segera menghubungi dokter perempuan untuk segera datang ke rumahnya.


Beberapa menit kemudian, dokter perempuan itu datang ke rumah Alvian dan segera memeriksa kondisi Almaira.


"Ada apa dengan istri saya, dok?" tanya Alvian setelah dokter tersebut, memeriksa tubuh istrinya.

__ADS_1


"Apakah istri Pak Alvian sudah memakan sesuatu, dari tadi pagi?" tanya Dokter Anita yang menangani Almaira saat ini.


"Belum, dok. Dari tadi pagi, istri saya belum memakan makanan apapun. Katanya, perutnya sedang tidak enak dan saya sudah membujuknya tapi tetap, ia tidak mau makan apapun," ucap Alvian yang ternyata, Almaira belum memakan apapun dari sejak pagi.


"Kapan, hari terakhir istri anda datang bulan?" tanya Dokter Anita yang terlihat sedang menerka-nerka apa yang terjadi dengan Almaira.


Alvian nampak berpikir. "Ya ... bulan ini, istri saya belum datang bulan lagi," ucap Alvian yang mengingat kembali hari terakhir istrinya kedatangan tamu bulanannya.


"Saya belum tahu pasti yang jelas sekarang, istri anda perlu mengeceknya dulu dengan menggunakan test peck. Dan selanjutnya anda bisa konsultasikan langsung ke rumah sakit, biar pasti kebenarannya," tutur Dokter Anita.


Mendengar penjelasan dari Dokter Anita yang secara singkat, berhasil membuat Alvian terperangah kaget. Seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan ini.


"Hah, apakah istri saya tengah ha--hamil, dok?" tanya Alvian dengan sedikit terbata karena masih belum percaya dengan kebenarannya.


"Setelah Nyonya Almaira siuman, tolong coba dia untuk mengeceknya agar bisa memastikan kembali, bahwa dugaanku ini benar," ucap Dokter Anita yang kini menatap Almaira dengan tersenyum tipis.


Namun, di saat Alvian ingin mengucapkan kata terimakasih. Almaira mulai siuman dan memanggil nama suaminya, sehingga membuat Alvian mengurungkan ucapanya untuk sementara.


Merasa namanya dipanggil oleh istrinya, dengan begitu. Alvian bergegas mendekati istrinya dan bertanya tentang kondisinya sekarang.


"Sayang, ada yang sakit enggak? Coba katakan pada mas," ucap Alvian yang masih terlihat khawatir dengan kondisi Almaira.


"Enggak mas, hanya sedikit pusing saja." Almaira memegang kepalanya yang sedikit sakit sambari melihat sekeliling yang ternyata dirinya, masih berada di kamar.


"Mas ... apa yang terjadi?" tanya Almaira dengan heran. Gadis itu nampak kebingungan karena melihat seorang dokter, berada di dalam kamarnya.


"Sayang, tadi itu kamu pingsan dan tidak sadarkan diri. Jadi, mas menghubungi Dokter Anita untuk memeriksakan kondisi mu, sayang." Alvian mencoba menjelaskan kepada istrinya.


"Terus, apa yang terjadi?" tanya Almaira yang sedikit penasaran dengan kondisinya karena akhir-akhir ini, Almaira merasakan hal aneh terhadap tubuhnya.

__ADS_1


"Dokter Anita bilang, kamu harus cek dengan menggunakan test pack karena istri mas ini, sudah telat datang bulan lagi," tutur Alvian yang terlihat jelas wajah gembiranya.


"Untuk apa?" tanya Almaira dengan polosnya. Gadis itu, kelihatannya masih belum mengerti maksud dari ucapan suaminya.


"Jangan banyak bicara, sayang. Udah kamu tes aja dulu dan nanti pertanyaannya akan mas jawab," ucap Alvian yang terlihat tidak sabaran karena saking gembiranya. Tidak lupa juga, Alvian memberikan alat tes kehamilan kepada istrinya yang sempat Dokter Anita berikan.


Awalnya Almaira bingung dengan semua yang terjadi, tetapi Almaira mengikuti saja permintaan suaminya. Lima menit kemudian, Almaira keluar dari dalam kamar mandi.


"Bagaimana, sayang?" tanya Alvian yang sudah tidak sabar, menantikan jawaban dari mulut istrinya.


"Ini mas," ucap Almaira dengan memberikan, tes uji kehamilan itu kepada sang suami. Dan di sana telah terlihat jelas garis dua yang membuktikan, Almaira benar-benar hamil.


"Mas, Maira hamil!" lanjut Almaira yang tidak terasa air matanya luruh begitu saja. Entah bagaimana perasaan Almaira sekarang, rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan.


Tidak hanya Almaira yang terharu dengan kebenaran ini, Alvian juga yang merupakan suaminya ... sangat gembira dengan kabar baik ini. Dengan rasa gembira yang baru ia dapatkan, membuat Alvian memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat.


Sedangkan Dokter Anita hanya tersenyum, melihat kebahagiaan yang kini didapatkan oleh pasangan suami-istri tersebut.


"Terimakasih, sayang." Alvian mengucapkan kata terimakasih kepada sang istri yang terlihat masih lemah. Akan tetapi, saat ini tidak lagi karena sekarang Almaira telah mendapatkan kabar yang begitu membahagiakannya.


Melihat itu, Dokter Anita berniat untuk pulang saja karena ia tidak mau mengganggu pasangan suami-istri itu. Pasti mereka membutuhkan waktu untuk berdua dulu.


"Pak Alvian, maaf. Saya mau permisi pulang dulu," ucap Dokter Anita, tetap dengan sikapnya yang sopan.


"Kenapa buru-buru, dok? Di sini saja dulu, biar Maira ambilkan sesuatu." Almaira hendak pergi meninggalkan kamarnya, sekedar untuk mengambil cemilan buat Dokter Anita. Akan tetapi, sudah lebih dulu dicegah oleh Dokter Anita.


"Jangan merepotkan, sudah cukup kok. Sekarang, saya harus kembali ke rumah sakit," ucap Dokter Anita yang menolaknya karena ada kepentingan yang sangat mendadak.


"Ya udah, tidak papa. Sekali lagi, terimakasih yah, Dokter Anita karena sudah mau menyempatkan waktunya untuk datang kemari. Sekaligus memberikan kabar gembira ini," tutur Alvian yang tetap menghormati Dokter Anita.

__ADS_1


"Sama-sama, di jaga yah kandungannya dan Pak Alvian bisa memastikannya kembali, dengan membawa istrinya ke rumah sakit. Kalau begitu, saya pamit dulu. Assalamualaikum," ucap Dokter Anita yang perlahan pergi, meninggalkan kamar Alvian.


"Wa'alaikumsalam warahmatullaahi wabarokatu," jawab pasangan suami-istri itu, secara bersamaan.


__ADS_2