
Dengan tersenyum Ayah Ahlan memberikan barang belanjaannya kepada Reza, lantas merekapun masuk kedalam mobil.
Setelah mereka sampai di rumah. Bi Sumi menyambutnya dengan sangat baik, sedangkan Alvian dan Almaira yang masih berada di kamar jadi turun ke bawah karena mendengar suara mobil yang baru saja terparkir.
"Bi, ada siapa di depan?" tanya Alvian sembari berjalan menghampiri Bi Sumi yang sedang menyambut kepulangan Ayah Ahlan.
Lantas Bi Sumi pun berbalik ke belakang, setelah mendengar namanya di panggil oleh Alvian.
"Ini den, bibi lagi nyambut tuan yang baru pulang dari Amerika" jawab Bi Sumi dengan gembira.
"Hah?" Keduanya kaget, mendengar kabar Ayah Ahlan dan Reza yang sudah kembali pulang. Padahal bilangnya akan sampai dua minggu untuk mengurus bisnis diluar negeri, tapi nyatanya baru seminggu sudah pulang.
"Apa bi? Ayah sudah pulang?" tanya Alvian dengan memastikan kembali ucapan Bi Sumi.
"Iya den, kalau tidak percaya. Lihat saja itu di depan sana sudah ada tuan sama Reza yang akan segera kesini" Bi Sumi mencoba membenarkan ucapannya, serta menunjuk ke halaman depan.
Dengan begitu Alvian langsung percaya dan melihat Ayah Ahlan di depan pintu.
"Assalamualaikum" ucap Ayah Ahlan dan Reza, pada saat mereka masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam warahmatullaahi wabarokatu" Alvian, Almaira dan Bi Sumi menjawab salam dari Ayah Ahlan dan Reza.
Mereka pun langsung berkumpul di kursi ruang tamu, Alvian sudah ingin mengatakan berbagai pertanyaan kepada ayahnya dan Ayah Ahlan sudah menduganya.
"Ayah kenapa tidak mengabari Alvian? Kalau ayah ingin pulang hari ini" Alvian mulai bertanya kepada ayahnya.
Ayah Ahlan menghembuskan nafasnya pelan "Ayah tidak mau mengganggu kebersamaan kalian, sehingga ayah memutuskan untuk tidak memberitahu kalian dulu, tetang kepulangan kami yang lebih awal dari yang di rencanakan"
"Lalu, apa ayah baik-baik saja selama di Amerika?"
"Alhamdulillah ayah baik-baik saja karena Reza selalu mengontrol kesehatan ayah, selama di Amerika" jelas Ayah Ahlan.
Lantas Alvian pun langsung menatap asistennya "Reza, terimakasih karena sudah menjaga ayah, selama di Amerika" ucap Alvian pada Reza.
"Iya sama-sama bos, itu juga sudah menjadi tugas saya" ujar Reza merendah.
Dan kini Ayah Ahlan yang mulai bertanya kepada putranya "Alvian, gimana sudah ada kabar baik dari kalian?"
__ADS_1
"Kabar baik apa, ayah?" Alvian malah balik bertanya kepada ayahnya.
"Masa kamu tidak tahu sih Alvian? Coba ayah tanya sama kamu, harapan dari pasangan yang sudah menikah itu apa?"
"Ingin di karuniai seorang anak, ups!" Alvian mulai menyadari ucapan dari Ayah Ahlan yang mana membuatnya jadi salah tingkah. Begitupun Almaira yang ikut tersipu malu oleh pertanyaan ayah mertuanya.
"Gimana? Apa Almaira sudah isi?" tanya Ayah Ahlan dengan seringai di bibirnya.
"Bulum yah" jawab Alvian dengan melirik istrinya yang berada tidak jauh dari dirinya.
"Bagaimana bisa hamil? Kami juga baru memulainya semalam" batin Alvian berucap.
"Yasudah enggak papa, lagian kalian juga masih pada muda. Jadi nikmati saja masa muda kalian dengan ikatan yang halal" ujar Ayah Ahlan dengan memberi pengertian.
Lantas Alvian pun tersenyum menanggapinya, tidak lupa juga dengan Almaira yang sudah terlihat tersipu malu di samping suaminya.
"Almaira, ini ayah bilikan sesuatu untuk kamu dan suamimu" Ayah Ahlan memberikan bingkisan yang di belinya tadi di pasar sebelum pulang ke rumah.
"Terimakasih, ayah" ucap Almaira sembari menerima bingkisan dari tangan Ayah Ahlan.
Namun, Almaira malah melirik suaminya dan Alvian mengangguk, sebagai persetujuan untuk istrinya membuka bingkisan dari Ayah Ahlan.
"Wah, ini buah naga" Wajah Almaira berbinar setelah melihat isi dari bingkisan yang diberikan Ayah Ahlan kepadanya.
"Iya itu buah kesukaan Almaira kan? Jadi ayah membelikannya tadi di pasar sebelum pulang ke sini" ujar Ayah Ahlan dengan tersenyum.
"Iya, tapi kenapa ayah bisa tahu buah kesukaan Maira?"
Pertanyaan Almaira membuat Ayah Ahlan terdiam. Bagaimana cara menjawabnya? Buah naga ini memang buah kesukaan Almaira dan Alvian dari sejak kecil. Tapi Ayah Ahlan sudah lebih dulu tahu buah kesukaan Almaira, tanpa dikasih tahu terlebih dahulu.
"Emm, karena buah naga ini buah kesukaan Alvian. Jadi ayah pikir, Almaira juga menyukainya" jawab Ayah Ahlan yang terlihat masih ada keganjalan yang di sembunyikan dari pasangan suami-istri itu.
"Oh, ini juga buah kesukaan Mas Alvian yah? Maaf Maira baru tahu" ucap Almaira menatap suaminya yang malah tersenyum.
"Iya, ternyata kita sama-sama menyukai buah naga"
"Tapi, kenapa bisa kebetulan begini yah?" Almaira mulai berpikir keras, mengapa dirinya bisa menyukai buah yang sama seperti suaminya.
__ADS_1
"Sudah! Jangan dipikirin terus sayang, mungkin ini hanya kebetulan" ujar Alvian, sembari mengusap lembut kepala istrinya.
Dan Almaira langsung mengangguk, sepemikiran dengan suaminya yang mengatakan hanya kebetulan saja.
"Ayah mau masuk ke kamar dulu, rasanya tubuh ini ingin segera di bersihkan" ucap Ayah Ahlan yang berdiri dari tempat duduknya.
"Saya juga mau pulang yah bos?" celetuk Reza pada Alvian yang masih duduk di samping istrinya.
"Mau kemana Reza? Lagian enggak ada yang nungguin kamu di rumah" ledek Alvian pada asistennya itu.
"Yah mulai lagi deh julitnya" ujar Reza dengan wajah yang mulai berubah murung.
Alvian terkekeh pelan "Maaf, tadi cuma becanda kok. Jangan di ambil hati yah! hehe,"
"Ya sudah! Aku pulang saja sekarang. Nyonya Almaira, saya pamit pulang dulu" wajah Reza dibuat ramah pada Almaira, sedangkan pada Alvian tidak sedikitpun tersenyum.
"iya dan terimakasih yah, sudah mau nemenin dan jaga ayah selama di Amerika" ucap Almaira berterimakasih kepada Reza yang mana membuat Alvian langsung tersulut api cemburu.
"Sama-sama, ya sudah saya pulang dulu. Assalamualaikum," ucap Reza karena takut dengan tatapan Alvian yang terlihat ingin menghajarnya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullaahi wabarokatu" ucap Almaira dan Alvian dengan menatap kepergian Reza dari rumah.
"Mas, Maira mau simpan dulu buah naganya di kulkas yah" ucap Almaira pada suaminya yang hanya mengangguk dengan wajah yang masih kesal.
Beberapa saat kemudian, Almaira kembali menghampiri suaminya yang masih terdiam di kursi panjang ruang tengah.
"Mas kenapa? Wajahnya kok murung gitu?" Almaira bertanya kepada suaminya yang masih terdiam.
"Enggak tahu ah, ini gara-gara si Reza" ujar Alvian dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Kenapa emangnya sama Reza? Dia kan tidak melakukan apapun padamu mas" tanya Almaira dengan menatap wajah suaminya yang seperti anak kecil sedang merajuk.
"Dia berani bicara sama istriku!" jawab Alvian kesal.
Ingin sekali Almaira tertawa sekarang ini, tapi ia urungkan karena takut membuat suaminya semakin kesal.
"Maira cuma bilang terimakasih saja mas, enggak lebih dari itu. Jadi mas jangan marah yah karena sekarang Almaira hanya milik mas!" bujuk Almaira, agar Alvian tidak merajuk dan kesal lagi.
__ADS_1