
"Apa Mas yakin jika menikah lagi, aku akan pergi?" tanya Nisa sembari tersenyum.
Fahmi terdiam, dia bingung harus menjawabnya apa.
"Yatanya Mas diam saja, berarti yang aku katakan itu benar? Tidak, Mas! Tidak semudah itu aku menyerah dalam ujian rumah tangga kita ini," ujar Nisa dan lagi-lagi membuat Fahmi terperangah, tidak percaya bahwa istrinya itu bisa begitu cepat mengetahui isi pikirannya.
"Mungkin saja, kamu menyerah di tengah jalan, Nis." Kali ini Fahmi mulai berucap.
"Mungkin juga Mas yang akan menjemputku kembali dan kembali mempertahankan pernikahan ini," kata Nisa. Jangan lupakan sikap Nisa yang selalu membalikan kata.
"Tidak mungkin!" sengkal Fahmi dengan wajah yang begitu kesal.
"Tidak mungkin bagi Mas, tapi bisa jadi mungkin bagi Allah," balas Nisa dan kali ini perkataanya sangat mendalam.
Fahmi terdiam dan Nisa kembali melanjutkan ucapannya. "Ketahuilah Mas, hubungan yang dilandasi dengan cinta belum tentu akan berjalan dengan lancar. Dan hubungan yang dijalani tanpa cinta juga tidak akan semuanya berjalan dengan buruk. Semua yang terjadi, atas izin dan kehendak Allah. Maka dari itu, tidak jarang pernikahan dengan adanya cinta dapat bertahan."
"Cinta dibutuhkan dalam sebuah hubungan, Nis. Hubungan tanpa cinta tidak akan berjalan dengan baik," ucap Fahmi.
"Itu Mas tahu, tapi mengapa Mas tidak melakukannya untuk pernikahan kita? Meskipun begitu, Mas tidak berhak menilai sebuah hubungan dengan cinta."
"A--aku tidak bisa, Nis!"
"Kenapa tidak bisa?" tanya Nisa dengan sedikit menelisik.
"Aku sudah bilang sama kamu bahwa aku sudah mencintai wanita lain," jawab Fahmi sembari tertunduk.
"Apakah pantas seorang suami mencintai wanita selain istrinya sendiri?"
"Ya, aku tahu ini tidak pantas. Akan tetapi, aku tidak bisa memilih jalan lain selain ini."
"Tidakkah Mas berpikir terlebih dahulu bahwa cinta itu adalah sebuah kasih sayang dan tidak memerlukan ketergantungan. Walaupun demikian, Mas tidak perlu segitunya karena cinta. Cinta tidak perlu dicari karena ia akan datang pada hati dan raga yang tepat."
Kali ini Fahmi tidak bisa mengatakan apa pun lagi karena istrinya sudah menghabiskan semuanya, dengan penjelasan yang sangat jelas. Terkadang Fahmi berpikir, bagaimana bisa wanita seperti Nisa itu bisa menikah dengannya, sedangkan dia adalah wanita yang mempunyai pemikiran yang begitu luas.
"Nisa, tidakkah kamu rugi atau menyesal karena menikah dengan saya?" tanya Fahmi, kali ini ia ingin tahu kejujuran dari istrinya itu.
__ADS_1
"Untuk apa merugi, aku tidak sama sekali merugi ataupun menyesal karena menikah dengan Mas. Pernikahan ini adalah ibadah, sedangkan Mas, anugrah bagiku."
Bergetar hebat hati Fahmi setelah mendengar jawaban dari istrinya yang begitu realistis. Bukan hanya karena itu saja, Fahmi merasa bahwa Nisa itu bukanlah istri yang mudah ditindas dan tidak mudah menggoyahkan tekadnya.
"Meskipun aku tidak tahu wanita yang Mas cintai itu, tapi bolehkah Mas menerima saran dariku. Aku tidak akan memaksa Mas untuk mencintaiku, tapi Mas jangan pula mengharapakan cinta dari wanita lain yang tidak halal bagi, Mas."
"Lalu, aku harus bagaimana?" tanya Fahmi sembari menaikan satu alisnya ke atas.
"Cobalah cintai wanita yang sudah halal bagi Mas dan tinggalkan wanita yang tidak halal bagi Mas. Jangan sampai, suatu saat nanti Mas menyesal karena telah menelentarakan wanita yang halal dan sudah pasti membuka peluang penuh baginya. Namun, ia malah memilih mengejar cinta wanita lain yang sudah pasti tidak akan maslahat."
"Apa wanita yang halal itu istriku?" tanya Fahmi dengan wajah polosnya.
"Itu Mas tahu. Lalu, siapa istri Mas itu?"
"Kamu, Nisa Khaerunnisa. Wanita yang aku nikahi yang kini sedang berada dihadapanku," jawab Fahmi. Baru kali ini ia mengakui istrinya dengan begitu jelas.
"Pintar sekali, sekarang Mas tentu sudah paham dengan maksud perkataanku tadi?" tanya Nisa dan mendapatkan anggukan kepala dari suaminya.
"Untuk itu, Mas sudah tahu harus bersikap bagaimana, bukan? Siapa yang lebih berhak, sangat dibutuhkan dalam hidup Mas."
Fahmi terdiam, tanpa disadari olehnya Nisa tersenyum senang. Ia tahu, mencintai istri itu adalah hal yang sangat utama dalam pernikahan. Namun, apakah Fahmi bisa melakukan itu?
"Untuk apa syarat itu?" tanya Nisa.
"Aku ingin kamu juga mencintaiku dan bersama menjalin pernikahan yang sakinah, mawadah, dan warahmah."
"Alhamdulillah. Semua itu tidak perlu ditanyakan lagi, seperti yang aku bilang tadi. 'Aku memilih Mas menjadi imamku, berati aku telah menerima dan mencintai Mas'."
Fahmi mengingat kembali ucapan istrinya. Dan benar saja, Nisa mempunyai wawasan yang sangat luas sehingga setiap perkataannya itu mengandung arti yang sangat bermakna. Nisa juga bukan istri sembarangan, ia berbeda dari yang lainnya.
"Bolehkah kita memulai pernikahan ini dari nol?" tanya Fahmi kepada istrinya.
"Tidak bisa."
"Kenapa tidak bisa? Apa kamu tidak mau mempertahankan pernikahan ini, atau kamu hanya ingin membuatku patah hati kembali?"
__ADS_1
"Sut! Jangan katakan apa pun lagi, bukan itu maksudku."
"Lalu apa, kalau bukan karena itu?"
"Pernikahan ini sudah berlangsung satu bulan dan selama ini Mas sudah melewati masa pertahanan dalam cinta. Untuk itu, tidak perlu mengulanginya dari nol karena masa itu akan selalu dikenang sebagai pondasi bagi Mas karena telah berhasil melewatinya."
"Jangan mengingatkanku kembali dengan masa itu, dari situlah aku bersikap tidak baik kepada istriku sendiri," lirih Fahmi. Sebenarnya sudah dari dulu ia mencintai istrinya itu. Namun, baru kali ini Fahmi berani mengatakannya kepada Nisa.
Nisa tersenyum mendengarkan perkataan suaminya itu. "Cukup itu saja yang Mas sesali, untuk kedepannya jangan pernah lakukan lagi."
"Baik, Mas tidak akan mengulanginya untuk yang kedua kalinya lagi."
"Alhamdulillah. Biarlah semua itu menjadi renungan bagi Mas dan biarlah itu semua menjadi rahasia."
"Lalu, apakah Mas pantas menerima maaf darimu?" tanya Fahmi karena ia sudah tidak sabar ingin menjadikan Nisa wanita yang paling sempurna baginya, dan tidak ada lagi wanita lain yang akan menggantikannya.
"Mas tidak perlu meminta maaf karena dari awal menikah, aku sudah menerima dan memaafkan sikap Mas," jawab Nisa sembari tersenyum kepada suaminya.
"Terkadang aku berpikir begini, bahwa hati istriku itu terbuat dari apa? Walaupun sudah dicuekin dan didiamkan, kamu tidak pernah marah dan hanya kata indah yang aku dapatkan."
Nisa tersenyum. "Bukan tidak mau marah, tapi aku sudah sabar dan terbiasa dengan sikap keras kepala suamiku ini."
Fahmi terlihat malu kepada istrinya yang kalau berbicara selalu membuatnya kalah dan tidak bisa berkutik lagi.
"Setelah ini, apa suamiku akan tetap keras kepala lagi atau berani menikahi wanita lain tanpa seizin dariku?" gumam Nisa yang langsung membuat Fahmi membelakan matanya.
"Aku tidak akan seperti itu, Nis!"
"Lalu, mengapa tadi Mas bilang ingin menikah lagi?"
"A--aku tadi itu cuma becanda. Kamu jangan marah karena sekarang dihatiku hanya ada kamu seorang dan tidak ada yang lain."
.
.
__ADS_1
.
Bagaimana reaksi Nisa setelah suaminya tiba-tiba mengucapkan itu?