Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 49. Hati Yang Mulia


__ADS_3

Dokter Aditya langsung masuk ke dalam ruangan operasi, di sana juga sudah ada Almaira yang akan mendampinginya untuk operasi hari ini.


"Assalamu'alaikum. Maaf saya terlambat," ucap Aditya dengan rasa bersalah.


"Wa'alaikumsalam. Tidak apa-apa Dokter karena operasinya juga belum di mulai," kata salah satu dokter dari beberapa dokter di sana.


Aditya mulai merasa lega, dan berjalan menghampiri para dokter lainnya "Kita akan melakukan tindakan pada apa?"


"Pasien ini mengalami penyakit kanker otak stadium awal yang kemungkinan besar masih bisa di sembuhkan, keluarga pasien sangat menginginkan kesembuhan anaknya sehingga ia menyetujui saran dari dokter untuk melakukan operasi pada anaknya itu."


"Baiklah, kita lakukan tindakan sekarang juga!"


Dokter Aditya dan dokter lainnya juga dengan Almaira, memulai operasi kepada pasien tersebut. Dan pada saat itu, syukurnya anak remaja yang mengalami kangker otak itu, tidak mengalami hal yang serius sehingga besar kemungkinan bagi para dokter untuk menyelamatkannya.

__ADS_1


Almaira terlihat termenung, menatap anak remaja yang berhasil dirinya selamatkan bersama dokter lainnya, Almaira bisa berhasil menangani operasi kali ini. Almaira berpikir sejenak, andai dulu ibu Hilma bisa diselamatkan, pasti ia akan lebih bahagia dari pada hari ini.


Namun, kesembuhan hanya Allah SWT lah yang tahu, kita sebagai hambanya hanya bisa meminta kesembuhan kepadanya sebagai bukti ikhtiar kita. Hidup, Mati, penyakit, dan kesembuhan hanya Allah SWT yang tahu akan semua itu. Dan kita hanya bisa berusaha karena kesembuhan hanya milik Allah SWT.


"Dokter Almaira, tolong beri tahu keluarga pasien atas kabar gembira ini," perintah Dokter Aditya.


Almaira hanya menganggukkan kepalanya, dengan berjalan ke luar untuk menemui keluarga pasien.


Setelah Almaira nampak keluar dari ruang operasi. Dengan tergesa-gesa, keluarga pasien berjalan menghampirinya.


"Ibu tolong tenangkan dulu diri Ibu ya. Alhamdulillah anak Ibu bisa melawan penyakitnya, dan sekarang anak Ibu telah sembuh dari penyakit yang di deritanya," ucap Almaira sembari tersenyum.


"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih Nak Dokter telah membuat anak Ibu bisa kembali sembuh." Ibu sangat bahagia.

__ADS_1


"Bukan Dokter yang menyembuhkan anak Ibu, melainkan Allah SWT lah yang telah menyembuhkan anak Ibu melalui pelantara Dokter. Jadi, tetap pada hakikatnya hanya Allah SWT yang telah menyembuhkan anak Ibu, bukan Dokter yang menyembuhkannya."


"Nak, sungguh mulia hatimu meskipun telah mendapatkan sanjungan, tetap menyakini orang lain dengan cara yang berbeda. Memberi penerangan bagi Ibu yang telah lupa kepada Allah SWT bahwa kesembuhan hanya milik-Nya."


"Jangan merendah begitu, Bu. Saya juga sama seperti Ibu, masih awam dalam agama. Hanya saja saya selalu ingat pesan Abi saya, beliau pernah berkata 'Almaira putri Abi di saat kamu mendapatkan keberhasilan tetaplah ingat kepada Allah SWT, tidak akan ada keberhasilan itu jika Allah SWT tidak menghendakinya'."


"Sungguh beruntung orang tua kamu yang telah diberikan seorang anak seperti dirimu, semoga kelak anak ibu juga bisa seperti kamu."


Almaira hanya tersenyum. "Bu, nanti anak Ibu akan kami pindahkan ke ruang UGD ya. Ibu baru bisa menemuinya setelah anak Ibu di pindahkan ke sana. Untuk sementara waktu, anak Ibu harus dirawat inap dulu di sini sampai anak Ibu sudah dinyatakan telah sembuh."


"Iya Nak, Ibu mengerti."


"Alhamdulillah jika Ibu sudah mengerti. Kalau begitu, saya tinggal dulu ya Bu."

__ADS_1


Almaira mulai pergi berjalan menuju ruangan khusus tempatnya bekerja, untuk melihat laporan-laporan lainnya tentang kondisi pasien yang akan ditanganinya besok, dan mempelajari buku-buku yang telah Dokter Aditya berikan kepada dirinya.


__ADS_2