Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 19. Berbagi Cerita


__ADS_3

Seketika tanpa diharapkan, air mata mulai mengalir keluar dari kedua pelupuk mata indah Alvian. Sakit rasanya, bila mengingat kembali masa-masa bersama dengan orang yang paling berharga di dunia ini. Setiap momen dan kebersamaannya, menjadikan saksi bertapa indahnya sebuah kasih sayang dan kebersamaan.


Almaira dengan segala keberaniannya berusaha mencoba menggenggam kedua tangan suaminya, mencoba menguatkannya.


"Mas kamu jangan sedih ya ... masih ada aku di sini yang akan selalu menjadi tempat untuk dirimu mencurahkan semua duka dan luka yang Mas alami selama ini."


Seketika Alvian tersentak kaget dengan perlakuan Almaira kali ini. Dengan instan, Alvian menatap kedua bola mata Almaira, mencoba mencari ketulusan dari kedua bola mata indah milik istrinya itu dan Alvian tidak melihat sedikit pun kebohongan dari semua ucapan istrinya. Almaira berucap dengan sangat tulus, di sertai hati yang sangat lembut, membuat Alvian tidak bisa menghiraukan ucapannya begitu saja.


"Apa kamu bersedia menjadi tempat Mas mengadu dan bercerita?" tanya Alvian sendu.


Almaira tersenyum dengan melihat kedua bola mata suaminya. "Sebesar apapun masalah yang Mas hadapi, Almaira akan selalu setia mendengarkan semua keluh kesah yang Mas alami. Menjadikan tempat ternyaman untuk Mas saja, sudah lebih dari cukup membahagiakan ku."


"Kamu tidak akan pernah merasakan apa yang aku rasakan sekarang, kamu juga tidak akan bisa memahami apa yang aku alami karena kamu tidak tahu sedikit pun tentang masalah yang Mas hadapi."

__ADS_1


"Maka dari itu Mas harus berbagi cerita dengan Almaira. Dengan begitu, sedikit demi sedikit, perlahan Almaira akan mengetahui apa yang Mas alami dan rasakan sekarang ini," balas Almaira sembari tersenyum lembut.


"Percuma juga menceritakannya kepada mu, ujung-ujungnya hanya ada rasa kasihan, bukan jalan keluar yang akan Mas dapatkan darimu," ujar Alvian yang tidak percaya dengan keseriusan Almaira.


"Kita bersama yang akan menemukan jalan keluarnya," tegas Almaira dan membuat Alvian mengerutkan keningnya, setelah mendengar ucapan istrinya.


Almaira yang melihat suaminya itu, seakan paham dengan apa yang suaminya pikirkan. "Di mulai dari Mas yang menceritakannya kepada Almaira, dari situlah beradu pendapat dan menjadikan jalan keluar yang tepat untuk Mas."


Almaira mengusap lembut tangan suaminya. "Sudah, jangan di pikirkan lagi, ya. Mas akan terlihat sangat jelek jika nangis begini," sahut Almaira supaya Alvian tersenyum.


Alvian yang menyadari itu menjadi malu, dengan berusaha memalingkan wajahnya dari hadapan Almaira yang tidak mau terlihat lemah di hadapan seorang wanita.


"Hadap sini Mas, lihat Almaira sini." Almaira mencoba membujuk Alvian.

__ADS_1


"Enggak mau, nanti kamu ejek Mas lagi." Alvian masih kekeh dengan pendiriannya.


"Mas kamu itu kayak anak kecil, ya. Gemesin tahu Mas Almaira lihatnya," ujar Almaira dengan sedikit tersenyum.


Alvian berbalik menghadap Almaira. "Jangan bicara begitu. Mas sudah besar, Almaira! Kamu jangan coba-coba bilang Mas anak kecil lagi!"


Akhirnya ucapan Almaira, mampu membuat Alvian berbalik menghadap dirinya


Almaira tidak menjawab ia malah mengangkat tangannya mencoba menyentuh wajah suaminya. Dengan perlahan tangan Almaira mengusap lembut pipi Alvian, guna menghapus sisa air mata yang masih terdapat dari wajah suaminya yang sangat tampan


Alvian tertegun dengan usapan lembut dari tangan Almaira yang menyentuh pipi-nya, mulai terasa sebuah desiran aneh yang Alvian rasakan sekarang, di saat ia berdekatan dengan Almaira tanpa jarak.


Melihat tatapan tajam dari Alvian membuat Almaira menjadi tidak karuan berdekatan dengan Alvian meskipun mereka sudah menjadi sepasang suami istri. Almaira terdiam setelah selesai mengusap wajah suaminya itu, ia masih tidak percaya dengan apa yang dia lakukan barusan.

__ADS_1


__ADS_2