
Beberapa menit kemudian, Almaira kembali menghampiri suaminya yang masih setia menunggunya di tempat yang sebelumnya Almaira tinggalkan.
"Mas," ucap Almaira di saat dirinya mulai mendekati suaminya.
Dengan begitu, Alvian langsung saja berbalik, melihat istrinya yang sudah kembali. "Sayang, kenapa lama? Katanya sebentar," ujar Alvian yang terlihat begitu memerhatikan Almaira.
"Tadi Sintia datang menemui Maira. Jadi, lama deh kembalinya," jelas Almaira dengan tersenyum lebar sehingga menampakan giginya yang berjajar rapih.
"Apa? Sintia menemui mu? Tidak terjadi apa-apa kan? Sintia tidak berbuat nekad kan, sayang?" Alvian terlihat begitu hawatir terhadap istrinya, sampai begitu memerhatikannya. Bahkan semua orang menatap mereka berdua dengan heran, tetapi Alvian tidak perduli karena yang ada di pikirannya sekarang adalah kesehatan istrinya.
Almaira menghela napasnya pelan. "Tidak Mas, alhamdulillah Maira baik-baik saja," ucap Almaira yang tidak habis pikir dengan pertanyaan yang begitu banyaknya, dilontarkan oleh Alvian.
"Syukurlah. Namun, jika Sintia melakukan hal nekad. Mas tidak akan pernah memaafkannya!" kata Alvian yang penuh dengan penekanan.
"Jangan begitu, Mas. Sudah, Maira tidak kenapa-kenapa kok. Jadi, Mas tidak perlu hawatir, yah." Almaira menatap suaminya dengan lembut, seakan menyakinkan suaminya untuk tidak hawatir terhadapnya lagi.
"Baiklah, tapi Mas ingin menemui Sintia dulu untuk menegurnya karena telah lancang menemui istri Mas, tanpa sepengetahuan dari Mas," ucap Alvian yang hendak berjalan untuk menemui Sintia.
"Jangan Mas! Tidak usah, Maira juga tidak kenapa-kenapa. Jadi, tidak perlu, Mas." Almaira menghadang suaminya yang hendak menemui Sintia, ia takut jika Alvian menemui Sintia maka akan terjadi percekcokan di sana, dan Almaira tidak mau itu terjadi.
Dengan begitu, Alvian memilih mengalah dan menuruti perkataan istrinya. Baginya yang terpenting adalah, istrinya dan anaknya baik-baik saja. Maka dari itu, tidak ada gunanya juga menemui Sintia. Namun, jika Sintia berbuat nekad. Alvian tidak akan tinggal diam lagi.
"Baiklah, kita lanjutkan saja jalan-jalannya," ucap Alvian yang mulai kembali tenang dari sebelumnya. Almaira pun mengangguk dan berjalan kembali bersama suaminya.
Menikmati hari libur berdua, tanpa ada yang menggangunya. Setiap tempat, mulai dari taman, mall, dan lestoran mereka kunjungi. Namun, pada saat ini. Alvian membawa istrinya ke mall yang besar, berbagai macam kemaun wanita ada di sana. Akan tetapi, Almaira hanya diam saja karena dari awal Almaira tidak mau membeli barang yang serba mahal. Almaira mau karena Alvian yang memintanya. Jadi, Almaira hanya menurutinya saja.
__ADS_1
"Sayang, kamu mau beli apa?" tanya Alvian sembari melihat barang-barang yang ada di sana.
"Enggak mau apa-apa, kita pulang saja yah," pinta Almaira.
Alvian mengerutkan keningnya, heran. "Loh, kok gitu? Mas sengaja membawa mu ke sini, biar bisa membeli apapun yang kamu mau."
"Tapi, Mas. Di sini barang-barangnya mahal-mahal semua," ujar Almaira yang sudah kaget dengan barang-barang yang begitu mahal.
Untuk kali ini, Alvian tersenyum. "Tidak apa-apa, kan kali-kali. Mas juga belum pernah membelanjakan apapun untukmu. Jadi, Mas sengaja membawamu ke sini supaya Mas bisa membelanjakan istri, Mas yang cantik ini," ucap Alvian sembari mengusap lembut hijab Almaira.
"Sudah cukup, Mas. Mas sudah banyak memberikan banyak perhatian untuk Maira," ujar Almaira dengan sedikit tersenyum.
"Itu lain lagi, sayang. Mas ingin membeli pakaian untukmu. Jika, tidak mau. Mas yang akan memilih dan membelikannya untukmu!" tutur Alvian yang begitu gemas karena istrinya itu sangatlah sederhana sehingga membuatnya, begitu mencintainya.
"tapi, Mas ...." Almaira tidak melanjutkan ucapannya karena Alvian langsung memotongnya.
Maka dari itu, Almaira hanya bisa menuruti perkataan suaminya. Bahkan suaminya, membeli banyak barang mahal untuknya. Selera Alvian juga sangat bagus dan Almaira menyukainya, tetap dengan pakaian muslimah. Tidak lupa juga, Alvian membeli pakaian untuknya sendiri yang dipilihkan oleh Almaira karena kemauannya sendiri.
Setelah membeli banyak barang dan berjalan-jalan ke mana saja. Pada akhirnya, mereka pun memilih pulang ke rumah dengan membawa oleh-oleh juga untuk keluarga yang ada di rumah.
Hari ini, menjadi hari yang sangat bahagia bagi mereka berdua karena bisa berjalan-jalan bersama. Meskipun begitu, ada kendala sedikit. Dalam keadaan Almaira yang sedang hamil. Tetap, Alvian sangat memerhatikannya dan tidak membiarkan istrinya kecapean.
"Mas," panggil Almaira dikala berada dalam mobil.
"Iya," jawab Alvian singkat karena sedang mengendarai mobilnya.
__ADS_1
"Terimakasih untuk semuanya," ucap Almaira sembari menatap wajah suaminya dengan penuh cinta.
Alvian menoleh kepada istrinya dan menghentikan mobilnya sejenak. "Tidak apa, Mas juga sangat senang bisa meluangkan waktu bersama kamu dan jalan-jalan seperti ini," tutur Alvian sembari menatap wajah Almaira.
Almaira tersenyum, sekarang Alvian sangat perhatian dan menyayanginya. Bagi Almaira, semua itu sudah sangat cukup, kemudian Alvian kembali menyalakan mobilnya, dan melajukannya ke rumah.
Sedangkan, Fatimah dan Reza sudah mulai saling terbuka dan saling mencintai. Sama seperti Almaira dan Alvian, Reza dan Fatimah juga samakin hari, semakin romantis saja. Sikap Reza yang bisa membuat semua orang tertawa, membuat Fatimah semakin nyaman berada di sampingnya. Sosok Fatimah yang pendiam, tapi ketika bersama dengan suaminya. Fatimah sangat gembira dan tertawa.
Seperti pada saat ini, Fatimah bersama suaminya tengah berbincang sembari mengelilingi kawasan Pesantren Ar-Rasyid.
"Emm ... Kakak mau tanya sana Adek. Apa bedanya matahari sama bulan?" tanya Reza pada sang istri yang beda di sampingnya.
Lantas Fatimah menggelengkan kepalanya karena tidak mengetahui jawabannya. "Adek tidak tahu," jawab Fatimah pelan.
"Mau tahu?" tanya lagi Reza yang membuat Fatimah semakin penasaran.
Fatimah mengangguk, ia begitu tertarik akan jawabannya yang enggak bisa ia jawab.
"Matahari bagaikan Adek yang saat dilihat oleh para laki-laki, mereka akan menundukkan pandangannya karena begitu mulianya seorang wanita, sedangkan bulan bagaikan wajah Adek yang setiap dipansang sangatlah indah dan jelas," jawab Reza sembari tersenyum menatap wajah istrinya dengan penuh kelembutan.
Mendengar jawabannya itu, Fatimah terlihat tersipu malu karena perkataan dari suaminya, sedangkan Reza hanya tersenyum karena istrinya bisa tersenyum lagi. Melihat Fatimah tersenyum saja, sudah membuat Reza sangat gembira.
"Kenapa ke aku, Kak?" tanya Fatimah di saat Reza tengah menatapnya dengan dalam.
"Karena itu benar," jawab Reza. Kali ini, ia menatap dalam wajah cantik istrinya.
__ADS_1
Fatimah dibuat tersipu malu lagi oleh suaminya. Kini hari-harinya bagaikan matahari yang begitu cerah. Secerah wajahnya yang tersenyum lebar, dikala Reza di sampingnya dan menemaninya di setiap masalah yang ia hadapi. Sekarang Fatimah punya teman yang bisa diajak bercerita, yaitu suaminya sendiri.