
Setelah selesai membantu persalinan pasiennya, kemudian Linda kembali memeriksa pasien lainnya yang sempat ia tinggalkan. Walaupun begitu, pasiennya itu sudah mengenal Linda sehingga tidak marah sedikit pun karena ia juga mengerti bahwa ada yang lebih membutuhkan bantuan Dokter Linda dibandingkan dengan dirinya yang cuma ingin kontrol saja.
Oleh karena itu, Linda tidak mendapatkan omelan dari pasiennya itu, kecuali yang tidak sabar. Barulah ia akan marah-marah kepada Linda. Namun, ia tetap sabar karena ini memang salahnya, tapi yang dilakukannya itu bukan sebuah kesalahan.
***
Tidak terasa hari sudah mulai sore dan Linda memutuskan untuk pulang lebih awal, karena sudah tidak ada jadwal periksa lagi. Meskipun begitu, hari ini Linda sudah beberapa kali bertemu dengan Aditya, tapi tidak ada interaksi lain, selain mengenai seputar pekerjaannya saja.
Linda pun segera melajukan mobilnya melintasi jalanan yang begitu ramai. Namun, di saat itu Linda melihat seorang wanita yang sangat ia kenali sedang berada di sebuah toko kue dan terlihat juga dua orang yang sedang bersamanya.
Dirasa ada sesuatu yang mengganjal dan sedikit aneh, Linda pun memutuskan untuk menepikan mobilnya di pinggir jalan dan langsung menghampiri wanita itu yang tidak lain adalah Fatimah—adik dari Almaira.
"Seharusnya kamu itu malu, sudah gagal menikah dengan Fahmi dan tidak bisa memberikan keturunan kepada suami penggantimu. Beruntungnya Fahmi tidak jadi menikahi wanita sepertimu yang tidak ada gunanya!" cerca seorang wanita yang sedang merendahkan Fatimah dengan temannya.
Namun, Fatmah tidak sama sekali membalasnya karena, ia tahu bahwa yang dikatakan wanita itu benar. Ia belum bisa membahagiakan suaminya.
"Apa katamu, Mbak? Atas hak apa Mbak menghakimi teman saya? Jika menang tidak ada hak, untuk apa menghakimi teman saya dan tanpa sebuah bukti?" tanya Linda yang tiba-tiba saja datang menghampiri Fatmah yang hanya diam dan menerima cacian dan makian dari wanita itu dengan tidak membalasnya.
Fatimah yang merasa mendapatkan pembelaan dari Linda, lantas menatapnya dengan tidak percaya.
"Kak Linda," ucap Fatimah yang kaget sekaligus terharu.
"Sudah, kamu tidak perlu takut. Masih ada Kakak yang akan lindungi kamu selagi Almaira tidak ada di samping dirimu," ujar Linda sembari mengusap lembut tangan Fatimah yang sudah berkeringat.
Linda kembali menatap tajam kepada dua wanita yang tidak lain adalah teman-teman Fatimah yang sanggat membenci adik dari sahabatnya itu.
"Apa sudah bisa menjawabnya?" tanya Linda dengan sedikit berani.
__ADS_1
"Iya, kami berdua memang tidak ada hak atas Fatimah, tapi dia seharusnya sadar diri karena sudah tidak berguna menjadi seorang istri!" jawab salah satu dari kedua wanita itu dan dengan angkuhnya, ia menilai buruk Fatimah.
"Lantas, apa Mbak sudah lebih baik dari Fatimah dan bagi suami Mbak?" tanya Linda yang semakin memancing Astri—wanita yang mencaci Fatimah dengan perkataan buruknya.
Astri yang merasa tertantang dengan perkataan Linda, lantas ia pun semakin berani dan merasa paling benar.
"Tentu saja karena aku seorang wanita yang mampu membuat suami bahagia," jawab Astri dengan angkuhnya.
"Apa sebegitu sempurnanya Mbak, sampai bisa menghina sesama wanita? Terlebih lagi, tidak semua wanita yang belum mengandung anak tidak berguna," kata Linda sembari memberikan pengertian kepada Astri.
Astri terdiam, dia terlihat begitu malu dan merenungi ucapan dari Linda.
"Coba Mbak pikirkan baik-baik, gimana rasanya di posisi Fatimah. Dan jikalau semua wanita akan di anggap sempurna dan disayangi oleh suaminya karena bisa mengandung seorang anak, maka itu sangatlah salah. Anak itu anugrah yang Allah titipkan kepada kedua orangtuanya, dan tidak bisa dinilai dari segi mana pun itu. Namun, sebagai sesama wanita seharusnya jangan menghina wanita lain yang belum bisa mendapatkan seorang anak. Bagaimana kalau Mbak sendiri yang berada diposisi Fatimah dan mendapatkan perkataan yang menyakitkan itu, sakit bukan? Nah, maka Mbak jangan pernah menghina wanita lain lagi meskipun Mbak sudah sempurna dan lebih disayangi oleh suami," jelas Linda.
Untuk itu, Astri sangat menyesal dan tidak sanggup mengatakan apa pun lagi karena perkataannya tadi sudah menyakiti hati Fatimah.
"Satu lagi. Bukan kemauan Fatimah gagal menikah, dan belum mendapatkan keturunan. Akan tetapi, itu sudah menjadi takdir Allah yang harus Fatmah terima. Menunggu bersama itu sangatlah indah, karena tidak semua penantian dapat digapai dengan mudah. Maka dari itu, tidak semua wanita juga bisa mendapatkan keturunan dengan begitu cepat, sedangkan Mbak adalah salah satu di antara para wanita yang beruntung dan cepat diberikan keturunan. Maka dari itu, Mbak jangan menghina Fatimah karena usaha dan penantian Fatimah lebih lama dari Mbak. Bukanya tidak bisa hamil, tetapi belum."
"Fatimah, maafkan kami. Kami sudah lancang mengatai dirimu dengan perkataan yang sangat menyakiti hatimu. Sekarang kami sadar, bahwa yang kami lakukan ini tidaklah baik," lirih Astri sembari menatap Fatimah yang hanya diam saja.
"Iya, Fatimah maafkan kami. Aku dan Astri sudah mengatakan sesuatu yang sangat menyakiti hatimu," ucap Asna yang ikut mengatai Fatimah tadi.
Namun, sebelum Fatimah memaafkan keduanya. Tiba-tiba saja seorang laki-laki dengan tubuh tegap dan wajahnya yang tampan, berjalan menghampirinya sembari memeluk tubuh Fatimah dengan penuh kasih sayang.
"Assalamualaikum, Dek," ucap Reza sembari mencium kening Fatimah.
Lantas Fatimah melihat kepada suaminya dan menerima perlakuan penuh cinta dari suaminya itu.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, Kak." Fatimah tersenyum di hadapan Reza walaupun sebelumnya, ia sedang tidak baik-baik saja.
Setelah itu, Reza baru menyadari bahwa di sana bukan hanya ia dan istrinya saja. Akan tetapi, ada Linda dan kedua orang itu—Astri dan Asna.
"Dek ini ada apa, apa yang terjadi kepadamu? Adek baik-baik saja, kan?" Tidak henti-hentinya Reza mengkhawatirkan Fatimah sehingga melontarkan berbagai pertanyaan.
"Aku baik-baik saja, tidak terjadi apa-apa. Semua ini hanyalah pertemuan biasa," sengkal Fatimah dan tidak mengatakan perlakuan buruk kedua temannya itu.
"Fatimah baik-baik saja, Za. Akan tetapi, hatinya tidak baik-baik saja," sahut Linda dengan santainya.
"Maksudnya apa, Dokter Linda?" Reza nampak mengerutkan keningnya karena belum mengerti maksud dari perkataan Linda.
Fatimah yang mendengar suaminya bertanya, berusaha menghentikan Linda yang ingin bercerita dengan memegang tangan Linda soraya menggelengkan kepalanya pelan, itu dilakukannya supaya Linda tidak menceritakannya kepada suaminya.
Linda menghembuskan napasnya pelan dan melihat kepada Astri dan Asna. Dengan begitu, Reza juga ikut menatap kepada dua wanita itu. Di saat itulah Astri dan Asna merasa kaget sekaligus kagum, bagaimana tidak kagum coba. Reza merupakan sosok suami yang perhatian dan sangat menyayangi istrinya, terlebih lagi Reza memiliki wajah yang tampan dan tidak kalah jauh dari rupa Alvian.
Sungguh malu mereka berdua, tetapi mereka juga merasa tegang dan takut karena sorot mata Reza sudah menatapnya dengan begitu tajam.
.
.
.
Ayo bagaimana ini Astri dan Asna? Kaget tidak melihat suami Fatimah?
Assalamualaikum, pembaca novelku. Salam hangat dariku untuk kalian semua.
__ADS_1
Sembari menunggu up novelku kembali, bisa mampir juga yuk ke novel teman Author yang dijamin seru juga. Apalagi bagi yang suka fantasi.