
Almaira terlihat begitu perhatian, dan sisi inilah yang membuat Alvian sangat menyukainya. Kini mereka tengah berada di ruang tamu, sambil menikmati minuman segar yang di buatkan oleh Almaira.
"Sayang kemarin kamu sadar gak? Laki-laki yang melamar adikmu itu terlihat berbeda" tanya Alvian, mengutarakan isi pikirannya.
"Apa yang berbeda Mas?" tanya Almaira heran.
"Serasa ada yang berbeda aja gitu" ucap Alvian, sembari mencicipi minuman segar yang di buatkan Almaira.
"Kemaren dia terlihat menatapmu terus" lanjut Alvian, kembali berucap.
"Emangnya kenapa? mungkin gak sengaja kali" balas Almaira tidak percaya.
"Beneran! Mas kemaren liat dia terus menatap ke arah mu" ucap Alvian tidak mau kalah.
"Tapi kemarin Maira juga sempat risih sama dia. Eh iya, dia kemarin terus lihatin Maira" Almaira mulai menyadarinya.
"Tuh kan, apa yang di katakan Mas itu benar?" pungkas Alvian.
"Iya Mas!" Almaira juga ikut membenarkan ucapan suaminya.
Saat asik berbincang, tiba-tiba Abi Zaenal datang menghampiri sepasang suami-istri tersebut.
"Kayaknya...seru nih?" ucap Abi Zaenal, sembari duduk di sofa dekat Almaira.
"Hehe, Abi baru pulang yah?" tanya Almaira sedikit cengengesan karena malu.
"Iya, Abi abis ngajar santri" jawab Abi Zaenal dengan wajah lesunya.
"Abi pasti capek yah? Kalau begitu Maira buatin Abi minum dulu" tawar Almaira pada Abi Zaenal.
"Boleh, buatin kopi saja yah Maira!" ucap Abi Zaenal sembari bersandar di punggung kursi sofa.
Almaira pun bergegas pergi ke dapur, membuatkan kopi hangat yang di minta oleh Abi Zaenal sesuai dengan seleranya. Beberapa saat kemudian, Almaira telah kembali dengan membawa nampan yang berisikan kopi hangat untuk Abi Zaenal.
Kemudian Almaira meminta izin untuk pergi kamarnya, sedangkan Alvian hanya duduk dan berbincang bersama Abi Zaenal.
Di saat Almaira berjalan menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Fatimah, Almaira sempat melihat adiknya yang sedang melamun di depan jendela kamar, yang kebetulan pintu kamar Fatimah tidak tertutup.
__ADS_1
Dengan rasa penasarannya, Almaira berani berjalan masuk ke dalam kamar Fatimah.
"Dek! Kamu kenapa melamun disini?" tanya Almaira sembari memegang pundak Fatimah.
Dengan sentuhan tangan Almaira, mampu membuat Fatimah kembali sadar dari lamunannya.
"Kak! Kenapa kak Maira ada disini?" tanya Fatimah heran.
"Loh, seharusnya Kakak yang tanya sama kamu Dek! Kenapa adek melamun disini?" jawab Almaira, yang menyadari bahwa Fatimah tidak menyadari keberadaannya.
"Maaf kak! Fatimah baru sadar Kak Maira ada disini" ucap Fatimah sedikit tidak enak, karena telah mengabaikan kakaknya.
"Iya Dek gak papa. Lagian dek kamu mikirin apaan sih? Sampai termenung disini" tanya lagi Almaira dengan penuh penekanan.
"Enggak Kak! Fatimah hanya lagi mikirin hafalan saja" sengkal Fatimah, ia tidak mau Kakaknya tahu apa yang sedang ia pikirkan sekarang.
"Dek, kayaknya kamu enggak lagi mikirin hafalan kan? Jujur sama Kakak!" ujar Almaira penuh penegasan.
"Iya kak. Fatmah beneran, lagi mikirin hafalan" jawab Fatimah, mencoba meyakinkan Almaira.
"Beneran nih? Jangan bohong yah" ucap Almaira memperingati.
"Yasudah, Kakak tinggal dulu yah" ujar Almaira, sembari melenggang pergi meninggalkan Fatimah.
"Kak Maira maafin Fatimah yah! Fatimah tidak jujur kepada kakak" batin Fatimah berucap.
Di sisi lain, nampak Almaira yang tengah berjalan masuk ke dalam kamarnya. "Mas ... loh kapan Mas kemari?" tanya Almaira heran melihat suaminya tengah duduk di tepian tempat tidur.
"Baru saja. Mas kira kamu berada disini?" jawab Alvian lembut.
"Eh maaf Mas, Maira tadi sempat ngobrol sama Fatimah di kamarnya. Jadi belum sempat ke sini" ujar Almaira, merenungi kesalahannya.
"Oh gitu ya. Ya sudah gak papa, sekarang kemarilah" ucap Alvian, sembari menepuk pelan tempat yang kosong.
Dengan langkah kakinya, Almaira berjalan menghampiri suaminya dan sesampainya Almaira di samping Alvian. Nampak Alvian ingin mengutarakan sesuatu.
"Sayang, kita harus kembali pulang. Apa kamu tidak keberatan?" tanya Alvian, sembari mengusap lembut tangan Almaira.
__ADS_1
"Apa harus sekarang mas?" tanya Almaira.
"Enggak harus sekarang juga sayang. Besok kita baru bisa pulang!" jawab Alvian dengan senyum lembutnya.
Almaira juga ikut tersenyum, walaupun hatinya masih tidak rela meninggalkan keluarganya lagi. Tapi harus bagaimana lagi? Almaira harus menuruti kemauan suaminya.
Karena sekarang Almaira telah menjadi seorang istri yang harus taat kepada suaminya dan Almaira yakin Alvian mempunyai alasan. Mengapa Alvian memintanya untuk segera pulang.
***
Di sisi lain terlihat Ummi dan Abi Zaenal yang tengah berada di ruang tamu. Mereka terlihat membicarakan sesuatu yang membuatnya menjadi sangat senang.
"Bi, Ummi lihat Almaira sekarang sudah mulai mencintai suaminya loh, bi" ujar Ummi kegirangan.
"Iya Mi, Abi juga melihat cinta dari Alvian kepada Almaira yang mulai membara" balas Abi tidak kalah senangnya.
"Berarti hubungan mereka akan segera membaik, layaknya pasangan suami-istri yang semestinya" ucap Ummi berpikir tinggi.
"Aaminn, semoga cepat begitu yah Mi" balas Abi, soraya menyetujui pendapat dari Ummi.
"Ummi, kayaknya Abi udah ngantuk nih. Kita ke kamar saja yuk?" ajak Abi dengan wajah lelahnya.
Melihat wajah Abi yang terlihat kelelahan dan butuh istirahat. Akhirnya Ummi pun beranjak dari duduknya bersama dengan Abi, soraya berjalan masuk ke dalam kamar mereka.
Sedangkan untuk sepasang suami-istri yang satunya lagi. Terlihat tengah tertidur, tapi Almaira kelihatannya masih memikirkan sesuatu.
"Mungkin aku salah, telah membiarkan suamiku harus menunggu lama haknya. Dengan alasan ku yang 'belum siap' tapi aku juga masih ragu terhadapnya. Namun ini salah, aku harus segera memberikan hak Mas Alvian. Seperti yang di ucapkan oleh Ummi kemarin" batin Almaira termenung dengan memberi penegasan.
Dengan pikiran yang mulai tenang, lantas Almaira berbalik menatap wajah Alvian. Dan ia segera menutup matanya, sembari mengikuti Alvian ke dalam alam mimpi.
Senyum indah tercipta dari sudut bibir Alvian yang ternyata belum tertidur. Karena Alvian merasakan pergerakan tubuh Almaira dari tangannya yang tengah melingkar di pinggang Almaira, sehingga Alvian mengetahui bahwa Almaira belum tertidur.
Sejenak Alvian menyadari apa yang sedang dipikirkan oleh Almaira, karena Alvian pun sudah begitu tidak sabar menunggu Almaira siap.
Alvian tidak memaksa Almaira untuk menjadi istri sempurna, tapi Alvian juga berpikir. Almaira pasti juga butuh waktu untuk bisa menerima dirinya yang belum sempurna sebagai seorang suami.
Di sisi lain, Alvian juga teringat. Masih ada hal yang belum Almaira ketahui, sehingga membuat Almaira ragu kepadanya. Bukan hal yang sulit, tapi jika di katakan sekarang. Maka akan membuat Almaira sedih dengan perbuatannya yang tidak sebaik Almaira.
__ADS_1
Wanita yang terjaga dan senantiasa menjaga hatinya, sampai pada ikatan yang suci.