
Dikarenakan waktu masih menunjukkan pukul tiga malam, Alvian yang berbaring di atas tempat tidur sambil menatap wajah istrinya, sampai tidak menyadari dirinya yang hanyut ke dalam mimpi.
Terdengar suara pesan masuk dari ponsel Almaira. Dengan begitu, Almaira langsung membuka pesan tersebut. Di saat itu pula, Almaira telah selesai melaksanakan salat tahajudnya.
Bertapa kagetnya Almaira saat melihat pesan tersebut, di sana tertera bahwa Alvian ada main dengan wanita lain di belakang dirinya. Akan tetapi, Almaira tidak langsung percaya begitu saja, mungkin saja itu hanya akal-akalan orang lain yang ingin merenggangkan hubungan rumah tangganya yang hampir berjalan dengan baik ini.
Tidak bisa dipungkiri, ada sedikit rasa curiga yang sekarang Almaira rasakan di saat Alvian kembali dengan jas yang tercium bau parfum seorang wanita, melekat di jas yang Alvian kenakan, itu berhasil mengundang perasaan curiga untuk Almaira.
Sebisa mungkin, Almaira berpikir positif dulu, agar tidak menimbulkan pertengkaran dengan suaminya yang akan membuat jarak di antara keduanya. Sekarang yang perlu Almaira lakukan, hanya perlu menyelidiki pesan misterius yang masuk ke dalam ponselnya itu.
Lantas, Almaira kembali membaringkan tubuhnya di samping Alvian, dan membuang pikiran yang buruk terhadap suaminya itu.
Memang Alvian pria tampan dan mapan, pastikan banyak wanita yang tergila-gila kepada suaminya, apalagi pernikahannya dengan Alvian belum diketahui banyak orang. Maka dari itu, banyak peluang untuk wanita lain masuk ke dalam hidupnya.
Setiap pernikahan akan diuji dengan caranya yang berbeda, mungkin untuk saat ini pernikahan Almaira mulai diuji dari segi kepercayaan dengan saling menguatkan hati, mungkin hati bisa saja berbalik memihak yang salah, tapi ikatan atau hubungan tidak bisa berubah sampai kapan pun.
Wajah cantik itu perlahan tertidur hingga waktu subuh membangunkannya kembali untuk melaksanakan salat subuh. Dan apa yang dilihatnya kali ini sangat di luar dugaan, di saat kedua mata indahnya terbuka, sudah ada wajah tampan yang melihatnya dari dekat.
"Loh Mas sudah bangun?" tanya Almaira sedikit gugup karena tatapan mata dari suaminya.
"Iya, Mas lagi kangen mendengar lentunan ayat suci al-qur'an yang selalu kamu bacakan setiap selesai salat subuh"
__ADS_1
"Mas mau mendengarkannya?" tanya Almaira.
Alvian mengangguk.
"Ya udah, sekarang Mas harus salat subuh dulu," kata Almaira. Akan tetapi, yang diajak malah terlihat sedikit ragu.
"Sayang, Mas lupa tata cara salat bagimana." ujar Alvian sambil cengengesan.
"Mas mau belajar salat?" tanya Almaira memastikan.
"Mas mau, sayang."
"Sekarang Mas ikutin Maira ya." Almaira mengandeng tangan Alvian.
"Ngambil air wudhu, Mas. Sebelum kita salat, Mas harus punya wudhu dulu?"
"Apa wudhu itu yang membuat wajah kamu basah setiap keluar kamar mandi?" lontar Alvian tanpa malu.
"Wudhu itu berguna untuk menghilangkan najis dari tubuh kita Mas, nanti setelah kita punya wudhu, kita sudah suci. Itu maksudnya Mas."
"Gimana caranya?"
__ADS_1
"Nah, ayo sekarang Mas belajar berwudhu. Almaira yang akan mengajari Mas."
"Serius kamu mau ajari Mas caranya?" Alvian terlihat antusias.
"Iya, Maira mau ajarin. Sekarang ayo kita ambil air wudhu dulu, nanti waktu subuhnya keburu kelewat," kata Almaira.
Almaira mengajak suaminya untuk mengambil air wudhu. "Sekarang Mas turutin gerakan Maira ya!"
"Oke sayang." Alvian membuat lingkaran di tangannya sebagai tanda siapnya.
"Syarat pertama, Mas jangan menyentuh Maira!"
"Kenapa sayang? Bukannya Mas sudah menikahi kamu, masa tidak boleh di sentuh sih?"
"Maksudnya kalau punya wudhu akan batal jika Mas menyentuh tangan Maira karena kita bukan mahram, tapi tetap Mas adalah suami Maira Mas berhak untuk itu." Almaira nampak sangat gemas melihat tingkah suaminya itu.
"Oh gitu ya, sayang." Alvian membulatkan mulutnya sepertii lingkaran angka nol, sebagai tanda mengerti.
Lantas, Almaira kembali berwudhu dan diikuti oleh Alvian.
"Sekarang kita sudah punya wudhu, baru deh kita bisa melaksanakan salat subuh," ujar Almaira dengan senyum manis di bibirnya.
__ADS_1
Pertama, Alvian yang keluar dari dalam kamar mandi dan diikuti oleh istrinya di belakang supaya tidak bersentuhan karena itu telah menjadi syarat pertama dari Almaira.