
Reza berdiri di depan rumah Abi Zaenal dan bersiap untuk masuk ke dalam. Jangan lupakan juga keadaannya sekarang yang pasti, ia begitu gelisah dan ragu.
"Assalamualaikum," ucap Reza yang mengucapkan salam.
Mendengar ucapan salam dari Reza, lantas salah satu orang yang berada di dalam rumah, keluar untuk melihat siapa yang datang.
"Wa'alaikumsalam warahmatullaahi wabarokatu. Reza, kumu ke sini?" Almaira tertegun melihat asisten suaminya datang ke rumah orang tuanya, dan untuk apa ia ke mari? Namun, Almaira mulai berpikir. Mungkin suaminya menyuruhnya untuk datang kemari.
"Iya, Nona Almaira," jawab Reza yang sedikit ragu.
"Silahkan masuk." Almaira memintanya masuk pada Reza yang masih berdiri di ambang pintu.
"I--iya," jawab Reza sedikit terbata karena ketegangannya.
Reza pun masuk ke dalam rumah Abi Zaenal dan semua orang menatap kepadanya dengan tatapan yang penuh pertanyaan. Apalagi Alvian yang terlihat keheranan oleh kedatangan asistennya itu.
"Eh Nak Reza, datang juga kemari yah. Silahkan duduk dulu," ucap Ummi Siti yang begitu ramah, bahkan dari pertama kali Reza datang kemari. Tidak heran juga keluarganya sangat dihormati karena orang-orangnya juga sangat sopan dan ramah.
Reza pun menurut dan duduk di samping Alvian karena hanya itu kursi yang kosong, sedangkan kursi lainnya sudah terisi.
"Nak Reza, kalau Abi boleh tahu. Apa maksud kedatangan mu kemari?" tanya Abi Zaenal yang langsung pada intinya.
"Emm, niat saya kemari hanya untuk menemui putri Abi yang bernama Fatimah," jawab Reza sembari tertunduk. Sedangkan raut wajah Abi Zaenal langsung berubah, setelah mendengar jawaban darinya.
"Sejak kapan Nak Reza mengenal Fatimah? Setahu Abi, putir Abi belum pernah berhubungan dengan laki-laki manapun selain calon suaminya saja," tutur Abi Zaenal yang mengenal karakter anak terakhirnya.
Deg, hatinya seakan sesak mendengar kata calon suami. Sedangkan maksud kedatangannya kemari, hanya sekedar untuk memberikan gelang yang tidak sengaja ia temukan saat hendak pulang di sini, sekitar tiga minggu ke belakang.
"Aku belum pernah mengenal Fatimah, tetapi aku tidak sengaja bertemu dengannya saat di pasar. Dan aku tidak sengaja bertemu dengannya lagi saat datang ke sini, di saat aku pulang. Tidak sengaja aku menemukan gelang tangan yang berinisial F dan itu punya Fatimah," tutur Reza Soraya menjelaskan dari awal mula ia bertemu dengan perempuan yang bernama Fatimah itu.
__ADS_1
"Kenapa kamu ini banyak sekali tidak sengajanya?" ujar Alvian yang menyadari cara bicara asistennya itu, dan terlihat sedikit kaku.
"Maaf bos," ucap Reza dengan sedikit menunduk. Sehingga membuat Alvian keheranan dengan sikap asistennya yang sedikit berbeda dari biasanya.
"Reza, apa kamu tadi bicara soal gelang yang berinisial F itu kan? Sekarang mana, gelang itu?" Abi Zaienal mulai melerai perdebatan antara menantunya dan Reza, dengan menanyakan satu hal yang lebih penting.
Mendengar itu, segera Reza mengorek saku celananya dan mengeluarkan gelang yang dimaksudnya itu. "Ini Abi," ucap Reza setelah mengeluarkan gelang yang di duga milik Fatimah.
Abi Zaenal langsung menerimanya dari tangan pemuda itu, dan benar saja itu adalah gelang milik putrinya yang sempat ia kasih.
"Ya, ini benar gelang milik Fatimah."
"Aku berniat untuk mengembalikannya kepada putri Abi, dan semoga tidak ada yang rusak," sahut Reza dengan wajah yang berbinar.
"Alhamdulillah tidak ada," jawab Abi Zaienal setelah memeriksa kembali gelang itu.
"Sama-sama Abi," jawab Reza dengan lembutnya.
"Ummi, tolong panggilkan Fatimah," pinta Abi Zaienal pada istrinya, dan Ummi Siti segera menemui putrinya.
Beberapa saat kemudian, Fatimah dan Ummi Siti kembali. Abi Zaienal langsung menyuruh putrinya untuk duduk dan Fatimah menurutinya.
Netra matanya tanpa sengaja bertemu dengan Reza dan keduanya saling diam, terpaku. Fatimah begitu kaget, dan untuk apa pria itu kemari? Itulah yang dipikirkan oleh gadis itu.
Sedangkan Reza menatapnya dengan tulus, seakan meneliti dan menatapnya dengan sangat dalam. Sedangkan yang dilihat malah tertunduk.
"Wajahnya masih sama dan cantiknya begitu alami. Tidak salah lagi, dia memang wanita yang selalu datang di setiap mimpiku," gumam Reza yang hanya mampu di ucapkan, di dalam hati saja.
"Abi, ada apa memanggil Fatimah, ke sini?" tanya Fatimah yang sungguh tidak tenang dengan adanya laki-laki lain di rumahnya.
__ADS_1
"Abi mau memberikan gelang ini kepada mu lagi," ucap Abi Zaienal sembari memberikan gelang yang sempat hilang itu kepada putranya.
"Apa ini gelang yang sama? Di mana Abi menemukannya?" tanya Fatimah dan jangan lupakan ekspresinya sekarang. Wajahnya terlihat berbinar, di saat Abinya memberikan kembali gelang miliknya yang sempat hilang itu.
"Iya, dan gelang ini di temukan oleh Nak Reza dan ia mengembalikannya kepada mu," jelas Abi Zaienal. Sedangkan Fatimah terlihat terperangah, tidak percaya bahwa pemuda itu mau mengembalikan nya kembali.
Lantas Fatimah menatap wajah pemuda yang telah mengembalikan gelangnya. "Terimakasih, ini mungkin tidak seberapa bagi mu, tetapi bagiku ini sangat berharga." Fatimah mulai mengatakan sesuatu kepada Reza.
Reza tersenyum setelah mendengar ucapan gadis pembawa rindunya. "Iya ... aku tahu itu. Maka dari itu, aku mengembalikan nya kepada mu, mungkin aku sebagai orang yang menemukannya tidak bisa merasa berharga, tetapi aku tahu bagi pemiliknya ini sangatlah berharga."
Fatimah begitu mengagumi jawaban yang Reza sampaikan. Cara ia menjaga dan mengembalikan barang miliknya sangatlah luar biasa, dan baru sekarang Fatimah menemukan pemuda yang begitu jujur, bahkan orang itu baru ia kenal.
Semua orang kini terdiam untuk sesaat, dan itu membuat hening. Kini Abi Zaienal mulai mengatakan sesuatu.
"Ya sudah sekarang Nak Reza jangan dulu pulang, di sinilah dulu dan ada Alvian yang akan menemani mu," pinta Abi Zaienal yang tidak langsung membiarkan Reza pergi begitu saja. Bagaimanapun, ia telah begitu jujur.
Mendengar itu, Reza hanya bisa menganggukkan kepalanya saja. Kalaupun ia pulang, pasti tidak mungkin karena jaraknya begitu jauh dan untuk saat ini, ia sangat lelah.
"Bagaimana kalau Kak Reza ikut makan siang di sini?" tawar Almaira pada pemuda itu yang ia kenal sebagai asisten suaminya.
"Iya, Nak Reza makan di sini saja. Ummi udah siapkan di meja makan," timpal Ummi Siti yang ikut sepakat dengan perkataan putrinya.
"Mari makan siang dulu," ucap Abi Zaienal yang ikut menimpali para perempuan yang sudah menyiapkan makanan untuk seluruh keluarga.
Reza tidak bisa berkata apapun lagi dan hanya mengangguk saja sebagai tanda persetujuannya. Dan kini anggota kelurga yang tadinya berada di ruang tamu, beranjak menuju meja makan untuk makan siang.
"Za, ayo jangan malu-malu. Aku juga awalnya begitu, tapi sudahlah jangan dipikirkan. Keluarga Almaira memang pada ramah, pasti kamu juga akan senang," tutur Alvian soraya mengajak asistennya itu untuk tidak sungkan dengan keluarga istrinya yang sangat baik, menurutnya.
Reza pun setuju dengan asumsi dari Bosnya, dan ia mengikuti Alvian yang mulai berjalan menghampiri meja makan.
__ADS_1