Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 90. Bagaimana Bisa?


__ADS_3

Sepuluh menit kemudian, kakaknya Nisa datang menjemputnya. Untuk itu, Nisa pun dibawa pulang oleh kakaknya ke Palembang. Dalam jangka waktu tempuh yang cukup lama, membuat Nisa hanya terdiam di dalam mobil. Bahkan selama diperjalanan, kakaknya saja tidak mengatakan apapun kepadanya sehingga Nisa merasa ada yang ganjal dari semua ini.


Bukanya tidak berani bertanya, tapi Nisa tidak bisa mengatakan apapun kepada kakaknya karena kakaknya sedang sibuk menyetir mobil.


Sepuluh jam kemudian, Nisa dan juga kakaknya sampai di Palembang. Untungnya sekarang bukan hari libur. Karena itu, jalanan tidak terlalu padat.


"Kak," tanya Nisa dikala kakaknya memarkirkan mobil ke dalam garasi.


"Iya, ada apa Dek?" jawab Aditya yang merupakan kakaknya Nisa. Ya, Nisa memang anak dari orang yang terpandang sehingga kakaknya juga menjadi seorang dokter dari Rumah Sakit Surya Jaya yang terkenal itu.


"Nisa boleh tahu alasan mengapa Nisa disuruh pulang ke mari?" Nisa menatap kakaknya soraya berharap mendapatkan jawaban darinya.


Sesat Aditya terdiam. "Kakak tidak bisa mengatakannya sekarang, nanti juga Adek akan tahu."


Mendengar jawaban dari kakaknya itu, Nisa sudah sangat kecewa karena tidak dikasih tahu, sedangkan Aditya juga tidak bisa memberitahukan adiknya karena kadua orang tuanya melarang dirinya untuk ngasih tahu apa yang akan terjadi.


Setelah itu, tidak ada pembicaraan lagi dari keduanya dan ke luar dari dalam mobil. Keduanya pun berjalan masuk ke dalam rumah yang terlihat megah.


"Assalamualaikum," ucap Nisa saat masuk ke dalam rumahnya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullaahi wabarokatuh," jawab ayah dan ibu Nisa yang tengah berada di ruang tengah bersama seseorang yang entah siapa.


Lantas Nisa pun berjalan menghampiri kedua orang tuanya dan mengalami tangannya dengan sopan. Akan tetapi, saat Nisa berbalik dan melihat tamu ayahnya yang tidak sempat Nisa lihat.

__ADS_1


Matanya membulat sempurna, tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Dihadapannya terdapat Tuan Arya dan Nyonya Widia yang tengah tersenyum kepadanya, sedangkan Fahmi hanya diam dan menunduk saja.


"Nisa, duduk dulu di sini. Ayahmu ingin mengatakan sesuatu," pinta Ibunya Nisa kepada putrinya.


Nisa masih terdiam, seakan belum percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Untuk itu, saat Nisa menyadari ini benar-benar nyata. Ia pun menuruti permintaan ibunya dan duduk di sampingnya.


"Nisa, perkenalkan ini Nak Fahmi dan kedua orang tuanya yang berniat ingin melamar mu," ucap Dirga—ayahnya Nisa.


Mendengar ucapan ayahnya barusan, Nisa tidak lagi heran, tetapi kaget. Nisa tidak percaya dengan semua ini, pantas saja perasaannya sedari tadi sudah tidak baik. Ternyata keluarga Fahmi datang bukan hanya berkunjung, tetapi dengan niat yang terselubung.


Ingin sekali Nisa menyangkal kenyataan ini, tetapi ia tidak bisa karena semuanya sudah terlanjur terjadi. Mau dihindari juga tidak bisa karena ini sudah terjadi.


"Nak Nisa. Apa yang dikatakan oleh ayahmu itu benar. Apakah Nak Nisa berkenan menjadi istri dari putra kami?" tanya Arya pada Nisa yang masih terdiam dengan sedikit tertunduk.


Bingung? Ya, Nisa sangat bingung untuk saat ini. Di mana Nisa tengah berada diantara dua pilihan yang begitu sulit, menerima atau menolaknya. Walaupun demikian, ini bukan kemauannya. Akan tetapi, Nisa harus tetap memilih diantara keduanya.


"Ayah ... Nisa serahkan semuanya kepada Ayah," jawab Nisa yang sebenarnya berat. Apalagi ini menyangkut tentang pernikahan yang akan mengikatnya.


"Baiklah, Nak Fahmi kami menerima lamaran dari kalian." Ayah Dirga memutuskannya, bahkan dengan satu kali.


Deg, jantung Nisa berdetak begitu kencang. Ternyata apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Nisa tidak bisa berkata apapun lagi, ia hanya bisa menerima takdirnya yang tidak sesuai harapan.


"Alhamdulillah," ucap Arya dan Widia yang sangat gembira dengan jawaban dari Dirga, sedangkan Fahmi langsung mendelik Nisa dengan sangat tajam.

__ADS_1


"Bolehkah kami menpercepat pernikahkan ini? Minggu depan kita langsung adakan pernikahan, bagaimana?" pinta Widia yang sudah tidak tahan lagi dengan sikap keras kepala putranya sehingga membuatnya, ingin menikahkan Fahmi dengan sangat cepat dan berharap Nisa bisa merubahnya.


"Itu saran yang bagus. Ya, kami setuju. Semakin cepat pernikahan akan lebih baik," jawab Dirga dengan penuh semangat karena memang dirinya sudah ingin menikahkan Nisa.


Di samping ibunya Nisa sudah dibuat kaget lagi, ia tidak mau menikah dengan Fahmi, tapi bagaimana lagi jika itu sudah menjadi keputusan dari ayahnya maka Nisa hanya bisa menerima semuanya dengan ikhlas.


Akan tetapi, Nisa menghawatirkan sahabatnya—Fatimah yang gagal nikah dengan Fahmi. Takutnya Fatimah sakit hati karena Fahmi malah memilihnya, sedangkan Nisa juga tidak menginginkan ini semua.


Keadaan membuat Nisa harus menerima semuanya, seakan semua ini jauh dari harapan. Bagaimana bisa, Fahmi melamarnya? Sedangkan baru kemarin dia membatalkan pernikahannya dengan Fatimah, sungguh aneh. Namun, harus bagaimana lagi? Nisa tidak bisa berbuat apapun jika sudah begini.


Memang untuk kedua orang tuanya Nisa, ini merupakan kabar gembira. Akan tetapi, bagi Nisa ini bukan kabar gembira, melainkan kabar yang sungguh mengagetkan.


Tidak lama dari itu, Tuan Arya beserta anak dan istrinya pergi dari rumah Ayah Dirga dengan membawa kabar gembira, sedangkan Nisa langsung pergi ke kamarnya untuk menenangkan dirinya yang tengah tidak baik.


"Ayah, Nisa pergi ke kamar dulu. Mau istirahat," ucap Nisa dengan wajah lelahnya. Selain lelah karena perjalanan pulang ke rumahnya yang cukup jauh, Nisa juga butuh menenangkan dirinya yang masih belum sanggup menerima semua yang terjadi kepadanya.


"Baiklah, istirahat yang cukup." Ayah Dirga sudah mengerti, bahwasanya Nisa butuh istirahat karena telah melalui perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan.


"Iya Ayah," jawab Nisa yang langsung melenggang pergi menuju kamarnya.


Setelah Nisa masuk ke dalam kamarnya yang sudah lama ia tinggalkan karena masuk pesantren. Masih dengan pikirannya yang belum menerima apa yang terjadi, lantas Nisa pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Bagaimana ini Ya Allah? Aku tidak sanggup lagi dan mengapa bukan orang yang aku cinta saja untuk menjadi imamku? Semua yang terjadi sungguh jauh dari harapanku," gumam Nisa yang hanya bersedih dengan semua kenyataan yang menimpanya.

__ADS_1


Sadar, bahwa ini semua tidaklah benar. Maka dari itu, Nisa bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan mengambil air wudhu.


Secara Allah yang tahu semuanya. Jadi, Nisa hanya ingin berdoa kepada Allah SWT supaya hatinya bisa lebih tenang dan sabar serta Ikhlas dengan apa yang ia hadapi. Ya, tadi Nisa sudah sangat salah karena mengangap takdir sedang mempermainkannya. Maka dari itu, Nisa kembali sadar dan meminta pengampunan kepada Allah SWT serta meminta yang terbaik kepadanya.


__ADS_2